Pages

Thursday, December 29, 2011

Cafe Seoul (Korean Movie)

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
film produksi tahun 2009 ini sudah saya cari semenjak film ini bisa diakses di youtube. Saya coba mendonlot melalui youtube, sayangnya subtitle muncul secara online yang ngga bisa dibaca begitu donlotan selesai. Semenjak itu, saya browse kesana kemari, termasuk ke situs pengunggah film2 Asia, mysoju. Tak ada hasilnya pula meski dua kali saya kirim request. Rasa penasaran terhadap film ini semakin tinggi, meski saya ngga berharap terlalu tinggi dengan penasaran ini. Dan akhirnya, terjawab sudah begitu saya mendapatkan dvd berdurasi sekitar 1.30 jam di china town, Kuala Lumpur. Well, let's check a glance of movie review

Sedikit membingungkan untuk menentukan siapa tokoh utama di film ini. Yang jelas, fokus utama ada pada Marandong, toko roti keluarga milik tiga bersaudara yang tercerai berai. Adalah Jun, a Japanese reporter, yang berada di Seoul, sedang mencari berita menarik untuk majalahnya. Ketika sedang mengejar seseorang yang setengah mabuk, terdamparlah Jun di sebuah toko roti tradisional kecil di tengah dempetan rumah2. Dengan setengah hati,Jun masuk ke toko yang dimiliki Sang Woo. Begitu lidahnya menyentuh salah satu panganan tradisional yang disuguhkan Sang Woo, terbeliaklah Jun. Muncullah ide menulis seputar Marandong ini untuk majalahnya. Kendala bahasa tidak menghalangi Jun berkat seorang tetangga yang pernah bersuamikan seorang Jepang.

Sang Woo mempunyai masalah dengan dua orang dalam komplotan mafia yang memintanya menutup toko. Sebelumnya tak ada kejelasan mengapa mereka menginginkan hal tersebut. Tangannya yang patah karena siksaan dua mafia tersebut, hampir membuatnya menutup Marandong. Untunglah, datanglah Sang Hyuk, musisi frustasi karena masalah pendengarannya. Sadar karirnya tak akan lama, Sang Hyuk kembali ke toko roti yang didirikan almarhum kakeknya. Sementara menunggu Sang Hyuk belajar singkat pada kakaknya, toko ditutup sementara. Memanfaatkan waktu tutupnya Marandong tua, muncullah Marandong baru. Dengan amarah yang meletup2, Sang Hyuk mendatangi toko roti modern ini. Tubuhnya langsung lunglai, begitu ia tahu siapa yang berada di belakang layar toko roti Marandong baru, Sang Jin, adik bungsunya.

Tiga bersaudara Sang, masing2 mempunyai hak untuk memakai nama Marandong. Sang Woo dan Sang Hyuk meminta Sang jin untuk mengganti nama tokonya. Tentu saja gagal. Maka diambillah jalan win win solution. Sang Hyuk dan Sang jin harus menjalani kompetisi memasak. Sang Hyuk yang baru saja belajar memasak, bersedia meladeni kompetisi ini, meski ditanggapi sedikit sangsi oleh kakaknya. On the D day, bisa lah ditebak, siapa yang menang. Masakan modern dengan rasa dan garnish yang dahsyat dari Sang jin, harus tekuk lutut dengan masakan sederhana penuh kenangan milik Sang Hyuk. Marandong tua penuh kenangan lah yang berhak bertahan.

Comments
Tidak begitu mengecewakan bagi saya dengan rasa penasaran yang saya simpan sejak tahun 2009. Jalan cerita yang sederhana dan menyentuh sempat membuat saya sedikit berkaca kaca ketika Jun berpisah dengan Sang bersaudara. Atas jasanyalah, keluarga Sang yang sempat tercerai berai kembali bersatu, meski secara tidak langsung. Tema seputar toko roti yang dimiliki turun temurun bukanlah sesuatu yang baru, tetapi kemasannya tetap saja menarik, buat saya.

Yang menjadi ganjalan sedikit adalah dandanan rambut Sang Hyuk dan diperankan oleh Kim Joong Hoon. Pertama saya kenal, Joong Hoon berperan sebagai pangeran kedua di drama Korea Princess Hours 1. Dandanan rambut sebagai pengeran tak ada bedanya dengan sosoknya sebagai musisi, begitu juga ketika kemudian berkecimpung di dapur toko roti. Ngga bisa dibayangkan repotnya memasak dengan poni yang menusuk nusuk mata hahaha... Dan sepertinya ini juga yang membuat saya pensiun menonton drama Korea...

Wednesday, December 7, 2011

Antara Buku, E-book dan Software


Ketika saya masih kecil, ortu saya berlangganan 3 majalah anak2 sekaligus: Bobo, Ananda dan TomTom. Belum lagi beberapa cerita dari Album Cerita Ternama (ACT) yang juga menghiasi bacaan masa kecil saya. Sayang sekali, ketika saya mulai mengenal majalah yang lebih remaja, bapak saya malah menghentikan segala majalah tersebut. Padahal waktu itu saya mulai tertarik membaca Hai, dan majalah remaja penuh cerpen, Anita Cemerlang. Untunglah, saya tetap bisa membacanya meski harus meminjam sana sini. Belum lagi novel petualangan semacam Lima Sekawan dan beberapa buku karangan Enid Blyton yang kesemuanya bergantung dari pinjaman perpustakaan sekolah kakak saya yang waktu itu duduk di bangku SMA. Yah, uang jajan saya dan kakak2 saya memang tidak mencukupi untuk membeli majalah ataupun novel, maka jalan meminjam itu harus ditempuh. Maka tidak heran, ketika saya mulai mempunyai penghasilan sendiri, saya mulai membeli buku sendiri. Tidak terlalu banyak, karena saya masih saja tetap ingin meminjam saja hehe. Tetapi kebiasaan meminjam saya mulai berubah begitu teknologi telepon mulai support e-book reader, tetapi, apakah kemudian saya jadi lebih banyak membaca buku? Sayangnyaaaa…..

Seperti yang sudah pernah saya tulis mengenai e-book reader dalam tulisan review tentang Iriver Cover story eb05 wifi, saya sangat rajin mencari file2 di banyak website penyedia unduhan, seperti 4shared.com, filestube, torrent, dsb. Belum lagi saya menemukan beberapa website khusus penyedia ratusan ebook yang bisa diunduh tanpa menjadi anggota. Karena itulah, folder e-book di hard disc saya mulai membengkak. Dan apakah saya kemudian menjadi kutu buku akut dengan tumpukan buku itu? Ternyataaaaa…

Selain penggila buku unduhan, saya juga penggila software yang dipasang di hape. Bukan games atau aplikasi chat yang sering ditawarkan banyak website, melainkan software pembaca buku. Beberapa tahun lalu saya ‘ikhlas’ menerima buku elektronik berformat .jar untuk hape ber-java support. Akan tetapi semakin lama, ketidaknyamanan mulai timbul. Mulai dari file yang terpecah menjadi sangat banyak jika halaman buku mencapai ratusan, hingga batere yang boros karena light on terus menerus meskipun kondisi tidak sedang membaca. Mulai dari ketidaknyamanan itulah saya mulai browse ke sana kemari mencari pembaca buku lain yang nyaman. Saya menemukan software mobipocket ketika saya sedang ‘jalan2’ mencari e-book reader. Meskipun akhirnya saya memutuskan untuk membeli e-book reader bikinan Korea itu, sama sekali tidak menyurutkan saya untuk terus mencari pembaca buku baru untuk dipasang di hape (kemaruk.com hehehe).

Mobipocket adalah software pembaca buku yang dikhususkan pada hape ber-operating system symbian, windows, i-phone dan blackberry, dan tak ada file untuk hape berbasis java alias tak ber-OS. Kegembiraan saya menemukan mobipocket untuk nokia saya berujung ke ketidakpuasan lagi. Bagaimana mungkin saya puas karena tampilan font terlalu kecil dengan background putih tak tergantikan. Saya mulai mencari lagi untuk hape sony ericsson saya yang tanpa OS. Dengan kata kunci ‘mobipocket for java’, saya temukan apa yang saya cari di 4shared.com. dengan harap2 cemas, saya install software itu di hape. Voila, ajaib, file2 mobipocket itu bisa dengan nyaman saya baca. Lebih nyaman dibandingkan dengan hape layar lebar nokia saya. Font, theme, background color bisa enak saja saya ganti2. Yang menjadi masalah kemudian adalah pada pem-bookmark-an. Jika saya lupa me-remove bookmark di page tertentu, maka si mobi akan membuka bookmark pertama itu. Ditambah layar mungil elm dengan font besar, buku setebal 300-an halaman menjadi 3000an hingga 4000an. Entah berapa ribu kali saya harus menggeser ke page berikutnya hingga bacaan saya tamat.


Setelah sukses dengan mobi versi java, saya kembali mencari2 lagi software asik, yang lebih sempurna untuk membaca buku elektronik. Saya menemukan sebuah website yang menyediakan converter secara online untuk membuat buku berformat jar. Karena penasaran, saya coba menkonversi satu file, dan saya pun takjub dengan penampilan jar satu ini. File tak lagi terpotong-potong, masing chapter terpisah2 layaknya di buku, font, theme yang disesuaikan dengan keinginan, serasaaa…. Hebat nian si penemu converter ini.

Rasa kemaruk yang tidak diiringi dengan kemampuan seperti saya memang susah dicari obatnya. Meskipun nokia saya men-support PDF file, saya kepeingin elm saya juga mampu membaca, meski sederhana. Maka berangkatlah saya dalam pencarian tentang software tak bernama ini. Saya tersesat di sebuah website yang mengatakan perangkat lunak ini mampu membaca buku elektronik, namanya ngga jelas TCBR3- BETA. Semula saya masukkan file bentuk pdf ke elm saya, gagal. Baiklah, saya masukkan lagi file bentuk lain, jar, epub, tak mau juga. Akhirnya saya masukkan file ber-format fb2, berhasilll… Tapiii…. Kenapa juga saya repot2 membaca buku berformat ini, jika saya bisa membacanya di e-book reader saya? Meski demikian, saya install juga software ini di nokia saya. Wow, lebih keren tampilannya. Tampilan font menyediakan beberapa tawaran, Tahoma 20/ 24, large/ medium/ small font, background yang bisa dipilih, mulai dari parchment, Black on white, old crt, misty, pale gold. Membaca dengan pale gold serasa membaca di atas parkamen milik Harry Potter. Well, frankly, saya belum explore lebih jauh untuk software satu ini. Di awal instalasi, saya bahkan sempat berpikir untuk me-remove karena segala shortcut ada di angka2, dan tersebar tak keruan. Diawal2nya, saya pencet sana sini secara sembarang, dan mencoba menghafal bahwa angka ini adalah shortcut untuk itu dan ini untuk ini.

Yang terjadi kemudian dari baca membaca ini adalah ketika saya bergabung dengan komunitas pembaca buku, goodreads Indonesia. Dari beberapa teman yang mengapdet buku2 bacaan mereka, saya sesekali penasaran dengan buku2 tersebut. Sesekali saya temukan soft copy-nya, beberapa kudu membeli, bahkan secara online. Satu buku bahkan harus saya cetak saking penasarannya saya akan isi buku tersebut, padahal buku itu sedang didiskon di toko buku dengan harga hanya 10ribu. Dhueengg... Dengan banyaknya masukan dari teman2 saya di GRI, semakin banyak saja deretan keinginan saya membaca ini itu. Hadheehh...


Walhasil, yang terjadi sekarang adalah banyak buku yang statusnya sebagai 'currently reading'. Di e-reader saya, file terbuka adalah The Last Lecture, sementara di mobi elm, saya membaca The Demon's Rock-nya Famous Five, Rick Riordan, Percy Jackson chapter 2 bentuk jar terbaru di jar ebook reader nokia saya, buku kedua Michael Scott, The Magician ada di TCBR3-Beta nokia saya, sementara karya sastra Hamka, Di Bawah Lindungan Ka'bah ada di TCBR3-beta di elm saya. Untuk buku non virtual, saya baru saja mendapat pinjaman novel fantasy lokal dari teman baru saya di GRI Semarang, Ther Melian. Saya sih masih bisa beralasan kenapa saya masih menyimpan begitu banyak ebook di hape, karena saya tidak mungkin membawa bawa e-reader saya atau buku setebal 700halaman di kelas. Kalau hape, cukup umum jika di sela sela murid mengerjakan activity, saya iseng meneruskan bacaan ini atau itu, tergantung hape mana yang saya bawa ke kelas. The question is apakah saya akan menyelesaikan those currently reading books dengan software2 itu, liat saja nanti.

Friday, December 2, 2011

MANTAN

Saya baru saja selesai membaca salah satu tulisan pendek milik M. Sobary dalam bukunya Kang Sejo Melihat Tuhan. Tersentil sedikit, ngga terlalu parah karena tulisan ini bukan ditujukan untuk pejabat seperti saya. Tapi tetap saja tulisan ini menyindir saya.

Begini, dalam tulisannya, Sobary membandingkan antara tokoh utama, pendekar silat Mahesa Jenar dalam kisah karya S.H. Mintardja, Nagasasra Sabuk Inten, memilih meninggalkan jabatannya sebagai wiratamtama Kerajaan Demak, dan lebih memilih menjadi pendekar, hidup bersahaja, jauh dari kemewahan duniawi (hal. 106). Sebagai perbandingan Mahesa Jenar, sang penulis membandingkan dengan para mantan pejabat yang menganggap bahwa menjadi mantan adalah suatu hal yang menakutkan. Mungkin bahkan mewujud menjadi ketakutan itu sendiri. Maka, kalau menjadi mantan tak lagi terhindarkan, maunya mereka menjadi mantan yang makmur (hal. 108).

Melihat penjabaran tulisan diatas, sepertinya ngga ada bagian dimana saya tersentil. Well, mengingat saya bukanlah pejabat yang harus diangguki kemana kaki saya melangkah. Tetapi mengingat saya mempunyai pekerjaan yang dulu pernah saya geluti, siaran radio, maka keinginan untuk selalu didengar selalu ada. Untunglah saya sekarang berprofesi guru, saya masih mempunyai 'pendengar' aktif di kelas. Bagaimana kalau nanti saya menjadi mantan? Apakah nantinya saya tetap ingin di dengar? Tak tahulah.

Seorang teman saya yang lain (maap beribu maap jika dianya membaca tulisan ini) adalah mantan gitaris sebuah band lokal. Sekarang dia menjadi teman saya mengajar. Sebagai guru yang mantan gitaris, dia sering memberi lagu pada murid2nya, tidak berupa lirik untuk dipahami, melainkan 'let's sing together'. Obrolan seputar her glorious days ketika menjadi gitaris beberapa tahun lalu, masih terus didengungkan dengan kilatan kebahagiaan (kebanggaan) yang berkobar. Foto2nya dipanggung bahkan pernah dia sebarkan secara tertutup bagi kami, the females, karena di foto tersebut, dia masih berkaos seksi, tak seperti sekarang tertutup atas bawah.

Seorang teman yang lain, ibunya adalah mantan seorang pendidik alias guru. Masa pensiun alias masa menjadi mantan harus dilakoninya. Tak jarang, pride-nya sebagai mantan pendidik sering timbul tenggelam. Ketika timbul, dia bisa saja memanggil anak2 sekolah yang lewat rumahnya untuk meminta mereka cium tangan. Nasihat ini itu diberikan pada mereka tanpa diminta.

Well, leading dongeng, menjadi mantan tak harus seperti Mahesa Jenar yang memilih jalan sepi ing pamrih. Menjadi mantan nyata2 cukup menakutkan tapi tidak selalu harus ditakutkan. Kobaran semangat masa lalu terkadang memang cukup membakar. Yang diperlukan cukup menata hati, menyiapkan hati bagaimana nantinya menikmati menjadi mantan.

Wednesday, September 28, 2011

Tergantikan (Cerpen)

Peamandangan di depanku setiap pagi adalah ritual yang selalu sama. Anak istriku berlomba saling memandikan satu sama selain; suatu ritual yang dimulai semenjak Rere berusia 3 tahun. Sering kali kutegur keduanya untuk mulai memulai privasi masing-masing, terutama untuk istriku. Rere, pria kecilku selalu menyukai memandikan mamanya, meski tidak memandikan dengan arti sesungguhnya. Dia hanya mencipratkan air ke tubuh mamanya yang sering kali menjerit kecil tiap kali air dingin menyentuh tubuhnya. Teguranku hanya berakhir dengan lirikan santai  istriku dan celotehan cedal putraku.

Ritual selanjutnya adalah makan bersama. Sarapan oatmeal kesukaan mereka berdua selalu diwarnai dengan saling menyuap satu sama lain. Ceceran buliran oatmeal adalah anugrah bagi Piko, anjing pudel kesayangan keluarga. Lidahnya tak henti menjilat lantai dimana ceceran oatmeal itu jatuh. Beberapa kali teguranku melayang kepada mereka berdua, yang kudapatkan masih saja senyum dari mereka.

Hari ini istri dan anakku pulang cepat. Tidak biasanya mereka melakukan hal diluar kebiasaan. Kudengar suara pintu mobil di halaman menutup. Tamu spesialkah yang datang sehingga mereka harus menyambut kedatangannya. Seorang WNI keturunan berjalan bergandengan tangan dengan istri dan anakku. Dadaku terasa panas. Kutatap wajah ceria istriku yang menatapku sendu. Dengan perlahan dia meraihku. Pria itu dan anakku juga menatapku sambil menganggukkan kepala. Diriku melayang di tangan istriku dan mendarat di meja pemujaan. Mereka berdiri takzim, berdoa dengan hio-swa di tangan, meletakkannya di guci di depanku.

“Koh, saya menemukan penggantimu. Saya mohon berikan ijinmu,’ suara lirih istriku serasa menggelegar di telingaku. 

Di Sebuah Kafe (Sebuah Cerpen)

Sudah hampir satu jam aku duduk di kafe ini. Dan hampir setengah jam ini keasyikanku menulis blog terganggu dengan suara gadis di sebelah kananku. Letak mejanya tidak persis di sebelahku, sedikit menyerong ke depan sehingga sedikit sulit buat aku untuk melihat gadis yang ternyata berambut sebahu itu. Tangan kanannya menempel di telinga kanannya. Mulutnya tak henti bergumam sesekali diselingi suara cekikikan khas gadis belia. Agak nyaring tapi terkadang terdengar genit.

Kucoba kembali konsentrasi dengan tulisan di laptopku. Tulisan ini harus selesai malam ini untuk kukirim ke lomba penulisan blog malam ini juga. Begitu mataku kembali menatap layar laptop, kembali suara cekikikan itu terdengar. Lebih nyaring malah. Kuedarkan pandanganku di ruangan kafe ini. Terlihat pasangan muda-mudi yang duduk mojok sedikit melotot ke arah gadis di meja sebelah. Kugeser sedikit pandangan mataku ke meja di depannya. Pandangan kesal juga dilayangkan ke arah gadis ini oleh seorang wanita yang duduk dengan novel di tangannya. Kukembalikan pandanganku ke arah gadis ini. Tangan kirinya sekarang yang menempel di telinga kirinya.  Pegal juga tangannya memegang hape. Terlintas dalam pikiranku kenapa dia tidak memakai hands free saja agar lebih nyaman ngobrol berjam-jam di telepon?

Ketika pandangan kukembalikan ke gadis itu, tangan kirinya masih menempel di telinga kirinya. Kaki kirinya yang sedari tadi bertumpu di kaki kanannya mulai diturunkan. Dia berdiri sambil sedikit meluruskan badan. Ide usil muncul secara tiba-tiba di kepalaku. Secara sembarangan kulemparkan sendok kopi ke bawah kaki mejanya. Reflex dia membungkuk dan meraih sendok itu dengan kirinya. Sedikit terperanjat kuperhatikan tangannya yang sedari tadi memegang telepon. Tak ada telepon disana. Kuterima sendok kopi dengan kikuk. Dia menggumam tidak jelas kemudian melenggang. Dia berjalan lurus ke pintu dengan tawa cekikikannya yang selama setengah jam ini mengusikku. Meski tak ada lagi tangan yang menempel di telinga kanan atau kirinya.

 

Saturday, September 24, 2011

(Rumah Kenangan) Segala Hiburan Murah Meriah

Rumah ini dibeli orangtua saya sekitar tahun 1970an. Dua kakak saya tidak lahir di rumah ini, melainkan di rumah kontrakan. Rumah ini adalah rumah hak milik pertama orangtua saya setelah sekitar 12 tahun merantau di tanah Jawa. Oya, bapak ibu  saya asli orang Gorontalo, Sulawesi Utara. Di Semarang mereka merantau, tanpa ada saudara dekat maupun teman dekat yang menyertai. Namun, dari rumah inilah, kami sekeluarga menemukan keluarga baru di kanan kiri rumah. Di rumah inilah saya dan adik perempuan saya lahir dan mengukir banyak kenangan, dengan saudara-saudara baru.

Rumah yang terletak di Semarang Barat ini tidak besar, hanya terdapat dua kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan kamar tamu dimana disitu diletakkan satu tempat tidur untuk kakak laki2 saya yang terkadang berfungsi juga untuk tempat tidur tamu jika sepupu saya berlibur dari Gontor. Posisi rumah ini cukup strategis dilihat dari berbagai fasilitas publik yang ada: madrasah dimana saya dan 2 kakak saya habiskan masa SD, pasar Bulu yang lengkap, rumah sakit umum, dll. Belum lagi warung-warung yang tersebar di sepanjang rumah2 tetangga karena jaraknya yang dekat dengan madrasah. Sebut saja Bakso Lik Setu, martabak Lik Muh, bakmi Jowo, warung jajan Lik Temu yang lengkap, macam kolak, berbagai macam bubur, pecel, rujak, tempe/ tahu/ tempe bacem, jamu tradisional lengkap dengan rumah usahanya (saya sering mencari kecik untuk bermain dakonan di sampah jamu ini. Jorok ya). Banyak teman sebaya yang menemani saya kesana kemari brmain pasaran. Sering kali kami mencari bahan-bahan pasaran ini lintas kampung, termasuk dikejar-kejar pemilik kebun dimana kami sering mencuri buah-buahan yang belum masak. Hahaha…

Jarak rumah yang sangat dekat sekolah memungkinkan teman-teman saya dan 2 kakak saya untuk bermain ke rumah. Berbagai macam majalah langganan keluarga seperti Bobo, Tomtom dan Ananda menjadikan rumah saya layaknya perpustakaan. Ditambah koleksi buku Album Cerita Ternama menambah lengkap koleksi buku di rumah. Banyak teman-teman kakak saya nyaman dari duduk selonjor hingga tengkurap malang melintang membaca majalah di ruang tamu. Ritual membaca ini diwarnai juga dengan menyimak sandiwara radio bersama. Sebut saja Jaka Dilaga, Brama Kumbara, dan lainnya. Gelombang radio yang terkadang putus nyambung membuat kepala-kepala kami seolah beradu di depan corong radio.

Sekitar tahun 70-80an, televisi adalah barang yang sangat mewah. Pada waktu itu bapak saya cukup beruntung bisa membeli televisi hitam putih ukuran 14 inchi. Tak heran, setiap kali acara menarik dari TVRI seperti film Minggu siang, Aneka Ria Safari hingga Film Akhir Pekan yang sering menayangkan cerita-cerita horor, posisi televisi yang biasa diletakkan di kamar bapak saya, harus digotong ke ruang tamu. Banyak tetangga kanan kiri yang mencari hiburan dengan menonton televisi di rumah. Bisa dibayangkan, ruang tamu mungil itu penuh dengan penonton yang duduk di kursi hingga duduk berselonjor di lantai. Bahkan ada yang rela menonton dari balik jendela.

Dengan 4 anak yang masih kecil-kecil, rumah mungil ini cukup menampung kami berenam. Yang sedikit lucu adalah bapak ibu saya tidur di tempat terpisah. Bapak saya yang tidak bisa tidur dengan secercah cahaya, berbalik 180 derajat dari ibu saya yang merasa sesak begitu lampu padam. Jadi, bapak saya menempati kamar sendiri, sementara ibu saya menempati satu kamar dengan saya, kakak perempuan saya dan adik saya yang waktu itu masih tidur di boks bayi. Tempat tidur bertingkat adalah tempat tidur kami bertiga tidur, saya, ibu saya dan kakak perempuan saya. Terkadang kakak laki-laki saya terpaksa mengungsi di tempat tidur atas ketika tempat tidurnya harus diisi tamu. Yang aneh, tiap kali saya ikutan tidur di atas, dalam jangka 2 hari saja, kepala saya penuh dengan borok. Hiiiiiiiiii…. Sementara kakak saya aman-aman saja.

Kami menempati rumah ini hingga tahun 1981. Karena anak2 yang semakin besar dan membutuhkan kamar pribadi yang lebih besar, maka kami pindah ke rumah yang lebih besar. Rumah mungil penuh kenangan itu akhirnya kami kontrakkan. Sesekali saya dan ibu saya dulu mampir ke rumah tersebut sekedar bersilaturahmi dengan tetangga terutama menjelang dan seusai Lebaran. Terkadang saya pribadi melintas di rumah yang sedikit ada perubahan di bagian terasnya. Terbayang kenangan pertama belajar mengaji di ruang tamu, almarhum ayah saya yang duduk di teras membaca koran, membaui masakan tetangga kanan kiri, pengalaman pertama puasa bedug dengan siksaan aroma masakan tetangga, pengalaman pertama puppy love dengan teman sekolah dengan dag dig dug menunggunya lewat di depan rumah ketika pulang sekolah, berpoto berjamaah bersama tetangga atas jasa tukang foto keliling, dan berjuta kenangan indah lainnya. Saat ini, rumah ini secara hak milik masih milik kami, namun pihak pengontrak berniat membeli rumah tersebut. Sedikit dilemma memang, mempertahankan rumah tersebut sementara rumah besar saya saat ini juga hanya ditinggali 6 orang, melepasnya juga masih terasa berat. Biarlah, waktu nanti yang akan menentukan.

Mejeng di ruang tamu, saya nomor dua dari kiri bersama ibu dan kakak serta tetangga

Masih di ruang tamu, saya di pangkuan ibu

Denganb 'pacar pertama' tetangga depan rumah, diintip kakak dari korden

Diikutkan lomba Rumah Kenangan



Monday, September 19, 2011

Danny The Champion of The World

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Roald Dahl

Bagaimanakah memiliki anak2 yang bisa menjadi juara? Dengan memberinya instruksi ini itu, mengikutkannya ke berbagai macam kursus ketrampilan atau dengan menunjukkan foto2 orang besar di dunia? Danny tak butuh semua itu. Danny hanya membutuhkan sosok ayah yang mendukungnya dan menjadi sosok panutan untuk menjadi juara.

Novel karya Roald Dahl ini sudah menjadi idaman saya sejak lama. Sempat membaca sebelumnya di PDA saya dulu yang kemudian harus almarhum karena rusak, akhirnya tuntas juga novel setebal 81 halaman ini dengan ebook reader saya yang baru. Halah hahahaha… Cerita terfokus hanya pada sosok Danny dan ayahnya, William, ayah yang hangat dan ramah. Keramahan seorang ayah tak perlu ditunjukkan dengan banyak senyum, melainkan dengan mata yang selalu bersinar setiap kali memandang putra tercinta. I was so lucky to have a father who has a smile on his eyes, begitu Danny merasa sangat bersyukur atas ayahnya.
Dibesarkan tanpa kehadiran ibu tidak membuat Danny merindukan sosok ibu. Ayahnya sudah berperan ganda untuk mengasuhnya. Mulai dari memandikannya ketika masih balita, mengantarnya sekolah ketika is berusia 7 tahun, mendongenginya tentang raksasa penangkap mimpi2 indah dan membagikannya kepada anak2 lain, hingga melibatkannya ke pengalaman masa kecil ayahnya, mencuri ayam di halaman tetangga! Bahkan, William yang memiliki bengkel mobil sering membiarkan Danny bermain dan membantu pekerjaan bengkelnya. Usia 9 tahuan Danny sudah mampu membongkar dan memasang kembali mesin secara sederhana bahkan menyetir Baby Austin dalam angka menyelamatkan ayahnya

Comments

Membaca novel ini jadi membuat saya sedikit iri dengan Danny yang memiliki ayah yang begitu dekat dengan anaknya. Bukan berarti ayah saya dulu semasa hidupnya tidak memperhatikan anak2nya, hanya kedekatan itu yang membuat saya membayangkan jika ayah saya masih hidup, apakah saya bisa sedekat itu? Tidur dengan menyelipkan jari2 satu sama lain membuat hati terasa hangat ketika membacanya. Komedi khas Roald Dahl terselip disana sini sepanjang novel yang terkadang membuat saya geleng2 kepala. Sedikit sadis tapi cukup setimpal untuk kejahatan yang dilakukan. Contohnya saja adegan ketika Doctor Spencer yang sakit hati melihat anjingnya ditendang oleh Hazell, juragan ayam. Dengan sepenuh sadar Doctor Spencer memberinya suntikan ke Hazell ketika ia sakit dengan jarum yang sengaja ditumpulkan. Wkwkwkwkwk… sadis tapi setimpal dengan kejahatan Hazell. Karya2 Roald Dahl baik anak2 ataupun dewasa sering menyelipkan hal2 semacam ini, menunjukkan betapa manusia itu mempunyai sisi sadis yang bisa disalurkan di saat2 tertentu.

Oya, untuk para guru, novel ini menyuguhkan banyak sekali deskripsi detil tentang caravan dimana Danny dan ayahnya tinggal, kondisi bengkel, tetangga yang baik dan yang jahatm dan tentu saja sosok detil seorang ayah. Boleh untuk contoh menulis tentang deskripsi dengan bahasa yang sederhana dalam pelajaran writing description hehehe. Selain itu juga bagus untuk menyelami anak2 didik yang sering mempunyai kehendak aneh2. Pesan utama novel ini sebenarnya adalah untuk menjadi orangtua, tak perlu menjadi serius, banyak aturan yang akan membuat si anak bosan bahkan melawan. Jadilah orangtua yang SPARKY untuk membuat anak menjadi JUARA.

Sunday, September 4, 2011

THE IMMORTAL LIFE OF HENRIETTA LACKS

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Rebecca Skloot
At the beginning of reading the title of the novel, I thought it’s something about the life of vampires, Dracula, werewolves and kinds of that. But then I dropped down the thought at the first paper (or page? since I read it from ebook). It’s all about the life of an amazing, friendly, kind colored-woman (frankly I always get shivered every time the word ‘color’ is repeated in all pages in the novel. It might show how bad white people treated them) who lived to her fullest. The author of the novel Rebecca Skloot-who is white, did series of investigations about Henrietta Lacks whose cells have been beneficial to medical department
.
The novel is divided into 3 parts, Life, Death and Immortality. Rebecca tried to dig information from people who used to live with Hennie (how her family called Henrietta), who knew her well and (supposed to) thank her for her amazing cells that survive. It’s not a piece of cake for Rebecca to get information from people who once were skeptical about her intention.

Honestly, I haven’t finished reading the novel but the urge of sharing the novel is so big that I can’t bear not to write it down. For your information, I’m not from medical department, and I’m not a really big fan of true story book. But I’m a kind of fantasy book freak, but I can’t resist reading the book even in the middle of reading Egyptian mythology based=novel by Rick Riordan, The Kane Chronicles. However, the 2010 released novel is really page turning. I’m positive.

Wednesday, August 10, 2011

Mobipocket

Rating:★★★
Category:Computers & Electronics
Product Type: Cell-phones
Manufacturer:  Mobipocket

Sebenarnya saya sudah mengenal ebook jauh sebelum saya mengenal aplikasi mobipocket ini. Sekitar akhir tahun 1996, ketika saya memegang ponsel Soner K750i, saya sudah memanfaatkannya sebagai ebook meski hanya berbasis .jar, so far, sudah lumayan banyak buku yang tamat dengan aplikasi java ini. Sampai kemudian saya memiliki PDA jenis jadul, saking jadulnya hingga saya lupa tipenya. Di PDA ini, saya menemukan keasyikan membaca ebook dalam bentuk .lit berbasis Microsoft. Tidak bertahan terlalu lama karena dua PDA yang saya beli dalam kondisi bekas, mengalami degradasi baik karena usia maupun salah treatment hahaha. Maka kemudian beralihlah saya ke hape lagi. Kali ini hape saya berbasis symbian yang cukup canggih menerima aplikasi apa saja, termasuk aplikasi mobipocket ini.
Bermula dari artikel seputar ebook dari mbah wiki, saya menemukan aplikasi asyik membaca buku di ponsel symbian ini, yaitu dengan mobipocket. Semula saya agak pesimistis, apakah aplikasi ini terbuka dengan file2 pdf yang saya miliki, dan apakah setidak menarik tampilan ebook java? Saya sempat terlongong melihat ebook demo yang ditawarkan oleh aplikasi gratis ini. Sayangnya, ketika saya sedang asyik membaca demo Marley and Me, belum selesai chapter 1, sudah ada pesan sponsor di bawah, end of the sample eb ook. Enjoyed the sample? Buy the complete ebook at http…. Hahahaha…. Ternyata iklan to? Namanya juga demo…

Dasar manusia, belum juga puas dengan satu aplikasi, saya kembali mencari-cari lagi. Well, sebenarnya kurang puasnya saya ada pada tampilan font yang super duper kecil2. Bayangkan, mata saya yang sudah minus sekian masih harus kerja keras untuk membaca novel dengan tulisan halus begitu. Proses convert sebenarnya cukup lancar dengan adanya prc converter, hanya beberapa bagian tak bisa di convert sama seperti bentuk pdf nya karena namanya juga conversi. Pasti ada beberapa hal yang hilang selama proses tersebut.

Beberapa saat kemudian, saya mencari aplikasi serupa untuk hape berbasis java, meski dalam situs resminya, mobipocket hanya menwarkan untuk ponsel berbasis symbian, Blackberry, Iphone and palm, sementara java masih dikenalkan dalam bentuk beta tapi so far ngga bisa diakses. Akhirnya saya berkunjung ke situs donlotan tanpa bayar plus registrasi, 4shared, dengan keyword: mobipocket for java, saya menemukan apa yang saya temukan. Dan saya pasanglah aplikasi ini di ponsel soner Elm saya. Dan hasilnya trnyata lebih menakjubkan dibandingkan mobipocket berbasis symbian. Kenapa? Karena ada pilihan font, dari small, medium hingga large serta bold. Plok plok plokkk…. Akhirnya, saya lupakan saja mobipocket symbian yang masih terpasang hingga sekarang.

Beberapa perbedaan antara mobipocket dan java ebook ada pada tampilan yang lebih ‘manis’ di layar. Selain itu, selama ini saya idak berhasil emnemukan program jar converter yang bisa meng-convert file yang besar menjadi satu file. Bisa dibayangkan, berapa file terpecah ketika saya meng-convert file Breaking Dawn. Sementara untuk mobipocket, saya menemukan banyak kemudahan, teruatama dalam hal konversi. Prc converter bekerja baik dengan doc, pdf, txt hingga html. Selain itu file tak terpecah2. Kemudahan lain ada pada highlight (jika ada yang perlu dicatat), add annotation, sayangnya, look up tak bisa berfungsi karena aplikasi kamus harus beli hahaha. Tak apalah, toh ada banyak kamus ter-install di dua hape saya.

Overall, mari membaca membaca dan membaca. Percaya atau tidak, buat saya, membaca bisa membuat saya melupakan browse, ataupun menye2 menonton drama Korea hahaha, apalagi main game yang memang bukan specialty saya. Irit dah pokoknya. Sampai nanti saya naksir barang lain wkwkwkwkwk. Tunggu review berikutnya ya.

Friday, July 29, 2011

Mengekspolitasi my Nokia E63

Rating:★★★★
Category:Computers & Electronics
Product Type: Cell-phones
Manufacturer:  Nokia


My cellphone is my horcrux!!!

Hahaha… berlebihan ya? Tapi memang itu kenyataannya. Meski saya sadar bahwa mempunyai attachment pada suatu barang itu tidak boleh, but I just can’t help it. Semenjak saya punya soner K750i, saya sudah memaksimalkan penggunaannya hingga titik darah penghabisan wkwkwkwk. Saya ini bukan tipe penyuka game yang akut, saya hanya penggila segala sofwer yang bisa diinstal di hape. Dari mulai chat application, browser application hingga ebook. Dan hasilnya, K750i saya mempunyai umur lebih pendek dibanding punya punya adik saya. Dan kini saatnya saya mengeksploitasi hape yang saya miliki sekarang ini Nokia E63.

Sebelumnya, saya selalu melirik soner sebagai ‘horcrux’ saya, tapi entah mengapa, tahun lalu, ketika saya memegang hape seorang teman saya yang waktu itu masih memegang E63, saya kok tiba2 berpikiran membeli hape jenis itu, ditambah harga yang tiba2 melorot drastic, dari 2 juta something, menjadi 1,5 something. Pilihan utama saya waktu itu hanya pada penerimaan hotspotnya yang lumayan meski tidak berada di dekat daerah spot yang hot hehehe. Tapi begitu saya mengeksplore, saya jadi ternganga nganga dengan feature-nya. Selain kapasitas smsnya yang mencapai ratusan, pocket office-nya yang membuat saya ternganga. Bayangkan, selama ini saya hanya berpikir hanya PDA saya yang sakti bisa edit dokumen, tapi ternyata, tidak hanya dokumen, bahkan exel plus power point sederhana pun masuk kesini. Hasilnya, segala catatan mulai dari menulis blog, menulis buku harian hingga pengeluaran dan pemasukan masuk disini.
Dari sebagian banyak feature yang ditawarkan EE3, sebenarnya saya tidak begitu memanfaatkan semuanya, seperti youtube, facebook, mySpace, maps, GPS data, pokoknya yang menghabiskan pulsa, ngga satupun yang saya sentuh hahaha. Meski browser di dalam E63 ini sudah cukup sakti untuk browse maupun download lagu dari multiply, tapi saya masih merasa perlu untuk meng-install opera mini and UC browser sebagai partner seiring browser built in. Pokoknya, dimana mana kudu bisa online…online….dengan murah tentunya.

Karena banyak feature built in nya yang saya cuekin, akhirnya saya pun lebih banyak meng-exploit instalasinya. Segala macam program saya instal disana. Mulai dari ebuddy, program chat yang saat ini nyaris tak pernah saya sentuh lagi, karena boros pulsa haha, ada juga aplikasi al-Qur’an. Seorang teman saya tertarik ingin meminta aplikasi ini karena dia kira, tinggal klik, trus mengalunlah suara ngaji. Saya bilang aja, kalo begitu sih, yang dapet pahalanya yang ngaji, kita Cuma dapet pahala dengerin aja hahaha. Begitu tau, bahwa ini adalah aplikasi Al-Qur’an yang dibaca manual, sedikit sekali yang tertarik. Ngga heran, kalo saya pernah melihat status seseorang yang mengatakan bahwa nanti di rurga bakal banyak kaset, CD atau player yang masuk surga hihihi…

Selain al-Qur’an, ada pula index Qur’an yang agak jarang saya buka karena tampilannya kurang enak dibaca, tapi lumayanlah sesekali melihat terjemahan al-Qur’an disini. Saya install pula kamus PD English Indonesia, game hangman, Bubble Bash game (sangat jarang saya mainkan karena sudah mentok di level tertentu hehehe). Snaptu, semacam shortcut untuk masuk ke jejaring social juga masuk dalam instalasi. Tetapi ternyata, mahaaallll… dan sayapun berjanji, hanya memakainya ketika berada dalam jangkauan hotspot saja hehehe. Berikutnya adalah Whatsapp sejenis aplikasi chat antar OS, yang katanya bakal menggeser kedigdayaan BBM mengingat hape ber-OS symbian, Android, BB dan i-phone bisa saling chat rame2 melalui aplikasi ini. Saya sendiri hanya memakainya kadang2 saja, selain boros batere, juga bisa boros pulsa ketika saya bergabung dengan group tertentu. Bisa puyeng saya melihat pulsa yang sudah tipis, tambah tipis dengan sedotan obrolan yang tau2 njedul begitu saja.

Sejak saya memiliki K750i, saya sudah sering memanfaatkaannya sebagai ebook reader. Dengan aplikasi javanyaa, saya bisa membuat ebook apa saja dan masuk ke dalamnya. Hanya, yang namanya manusia kayaknya ngga ada puasnya. Dulu saya pernah mengalami kenikmatan membaca ebook di PDA saya. Hanya kerena si PDA ini ngambek karena jatuh, akhirnya saya harus kembali menikmati ebook tampilan minimalis dari java. Bayangan tampilan ebook reader milik PDA itu masih tergambar jelas di pelupuk mata hingga akhirnya saya kembali browse sana sini mengenai ebook reader. Pilihan jatuh pada iriver cover story, ebook reader rilisan Google. Melihat harganya, saya sudah cukup pening, 2,3 jeti. Sepertinya saya bakal kalah pada godaan jika pada akhirnya nanti saya membeli gadget ini. Sementara saya mengenal diri sendiri, yang sedikit saja tertarik novel ini, dan sesaat kemudian pindah ke novel lain. Mana mungkin saya membeli gadget dengan harga selangit itu hanya untuk membaca buku dengan model lompat sana sini? Akan tetapi, Alhamdulillah, saya terselamatakan dengan satu artikel dari wikipedia mengenai aplikasi ebook reader untuk hape jenis symbian, yang bisa menginstal mobipocket reader di hape, dan tadaaa….. segala soft copy bisa di convert menjadi .prc/ .pdb dan voilaaa… Silakan menikmati bacaan dengan tampilan se asyik membaca di PDA. Meskipun tampilan font ngga bisa diperbesar, tapi lumayanlah untuk meredam keinginan emosional yang sering datang meledak ledak.

Well, overall, saya ngga butuh another newer cellphone berbasis android ataupun BB, saya sudah cukup puas dengan hape sekarang ini. Ngga tau, siapa tau nanti saya ngelirik gadget berkilau lain yang bisa jadi horcrux saya yang berikutnya hahaha…

Monday, July 18, 2011

Avalon High: Book VS Movie Version

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Teens
Author:Meg Cabot

Awas spoiler buat yang belum membaca dan menonton filmnya dan kepengen membaca novel and menonton filmnya.

Sekian lama saya absen membaca buku karya Meg Cabot, akhirnya saya tergoda membaca novel bersampul ungu tua ini. Alasanya tentu jelas buat anda yang selama ini sedikit bosan mendengar ocehan saya setiap saat tentang Merlin tv series wkwkwkwk. Keponakan saya yang menolak menonton serial yang dibintangi Colin Morgan itu bercerita bahwa novel yang dibacanya ada bumbu Arthur dan seorang knight-nya, Lancelot. Dengan berbinar-binar sayapun meminjam darinya. Tapiiiii…sebelumnya saya tau dari seorang teman bahwa Disney memproduksi novel tersebut menjadi drama remaja. Dan karena saya harus mengantri membaca novel itu, saya pun menonton filmnya terlebih dahulu dan baru kemudian menuntaskan novel setebal 307 halaman ini.
Well, siapapun setuju, novel dan film pasti akan berbeda satu sama lain. Dan perbedaan itu bisa menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi banyak lubang sana sini. Dan umumnya, novel akan jauh lebih bagus dari filmnya, dari segi penceritaan, imaginasi, dan tentu saja dalam Avalon High ini mana yang lebih mendekati legenda Arthurian. Baiklah, saya mulai saja pernak pernik yang ada di keduanya plus legenda Arthurian berdasar film serial Merlin ataupun sekilas sejarah Arthur menurut uncle Wiki.

1. Ellie Harrison atau Allie Harrison versi filmnya
Entah ini memang tipikal karakter cewek utama dalam novel2 Meg Cabot karena saya hanya membaca Princess Diary dan Avalon High, tokoh utama selalu digambarkan sebagai seseorang yang kurang percaya diri dan hobi sekali mengulang kata2 yang penting dua hingga tiga kali. Misalnya ketika Will menyentuhnya. Menyentuhnya. Diulang plus tercetak miring menegaskan betapa dia merasa bahwa sentuhan ini serasa mimpi bagi Ellie. Sementara dalam filmnya, seorang Allie meski sama2 hobi lari, tapi tidak mengapung di kolam renangnya seperti Ellie, dia hanya terkadang terlihat sedikit speechless tiap kali Will memandangnya. Kelihatan sangat pede, tidak seperti Ellie.

2. Awal jumpa Will dan Ellie/ Allie
Untung saya menonton filmnya terlebih dahulu, sehingga saya ngga perlu menunggu momen unik awal jumpa Ellie dan Will. Yang jelas, jurang yang dimaksud di novel dan film, berbeda jauh. Lebih ekstrem di novel tentu.

3. Déjà vu
Dalam novel, Will-lah yang sering mendapat perasaan bahwa dia mengenal Ellie sebelumnya, pernah mengatakan apa yang pernah dia katakan. Sementara dalam film, Allie lebih sering mendapat ‘penampakan’ masa lalu secara flash.

4. Pergeseran peran.
Dalam novel, Meg Cabot setia dengan alur, yaitu semuanya menempati perannya sesuai dengan legenda Arthurian. Misalnya saja Marco, adik tiri Will, yang ternyata saudara sekandung ayah dan ibu, adalah penjelmaan Mordred yang jahat. Sementara Mr. Morton, si guru Sejarah (?), menjalani perannya sebagai Merlin, ketua Orde Beruang yang menyiapkan lahir inkarnasi Arthur di jaman modern. Belum lagi senjata pedang, senjata andalan Arthur yang bernama Excalibur, berhasil menundukkan aura gelap Marco alias Mordred. Mmmmm… sejalan dengan legenda Arthurian. Sementara di film, semuanya jauh dari alur. Entah alasan apa Disney mengobrak abrik pakem yang ada. Jika hasilnya seperti Merlin, yang keluar alur, tapi bagus (menurut saya) sih, ngga masalah. Lha ini? Haddeehh… Mr. Moore, si guru sejarah di plot menjadi Mordred, Marco menjadi salah satu knight Arthur, dan Allie ternyata adalah King Arthur itu sendiri. Lha trus, Will-nya jadi siapa dong? Mungkin seperti kata Aliie, he will be her knight and shining armor. Wkwkwkwk….

5. Additional players and reducing players

Beberapa pemeran dihilangkan dalam versi filmnya, seperti Nancy, sahabat Ellie yang hanya muncul suaranya saja, Tig, kucing piaraan Ellie, Cavalier, anjing piaraan Will yang kebetulan mempunyai nama yang sama dengan anjing milik King Arthur, orangtua Will yang mempunyai alur yang sama seperti bagaimana cara Uther menikahi Igraine. Sementara dalam film, sosok tambahan ada pada Miles yang sering mendapat sighting seperti halnya Merlin dalam kisah Arthurian.

Well, overall, it’s not bad lah dari segi novelnya. Saya beri bintang 3.5 deh. Sementara filmnya cukup 2,5 saja hehehe…

Friday, July 15, 2011

Holiday @Karimunjawa (Day2)

Pagi, pukul 4.30, sebagian besar penghuni kamar saya yang berjumlah 4 orang sudah mulai menunjukkan kehidupan. Sebagian bangun untuk menjalankan sholat Shubuh, sebagian lainnya mulai mandi mengingat jumlah anggota peserta, 18 atau 16 orang ya, dengan dua kamar mandi di masing2 lantai. Saya sendiri sudah terbangun sebelum yang lainnya bangun karena sekujur tubuh terasa pegal. Entah karena efek tiduran lama di kapal atau bobot tas punggung yang audzubillah beratnya, atau efek kasur tipis yag tergelar di lantai hahaha…

Pukul 6 pagi, ada sedikit insiden di rumah tempat menginap karena seseorang yang sedang mandi dikejutkan dengan listrik mati. Gelap gulitalah di dalam kamar mandi. Kami baru sadar jika listrik di pulau ini hanya memancar sekitar 12 jam sehari more or less, mulai jam 5.30 PM-6.00 AM. Hasilnya, senter yang sudah di woro2 di website untuk dibawa, mulai menunjukkan aksinya. Listrik mati juga tidak menyurutkan bau sarapan pagi yang menggoda. Menu pagi itu adalah tumis  kembang kol, wortel, sawi, ikan goreng, tempe goreng plus sambal nan pedas maknyus. Selama sarapan, kami, sebagian besar cewek, mulai ngrumpi sana sini. Bahasa Jawa di-ban disini karena sebagian besar peserta protes dengan mengatakan, “Roaming…. Roaming”. Wkwkwkwk

Sekitar pukul 7 lebih, mulailah kami keluar dari guest house menuju dermaga dimana kapal menanti untuk membawa kami explore dari satu pulau ke pulau lainnya. Sebagian peserta sudah tak sabar menanti di kapal lengkap dengan life vest. Saya yang baru pertama kali memakai, bingung juga hahaha. Apakah jika life vest kendor akan membahayakan jiwa? Hihihi… dan sebenarnya banyak life vest yang sudah tak lagi layak pakai karena lepasnya kancing, kendornya tali dsb. Tapi at least, lumayanlah, jika toh terjadi apa2, life vest itu tetap saja akan membuat kami mengambang.

Pulau Tengah adalah destinasi pertama kami. Banyak peserta yang duduk menghadap laut dengan kamera siap di tangan. Mengabadikan segala sudut pemandangan, arus gelombang yang mulai menderas, dan tak ketinggalan, memotret diri sendiri dengan kostum lengkap life vest hahaha. Masalah mulai muncul ketika kapal mulai bergoyang kencang seiring dengan angin besar yang bertiup. Beum lagi perikan air laut yang terasa dingin dan tentu saja, asiin. Awalnya, kami saling memekik-mekik seru tiap kali gelombang besar menerpa. Tapi lambat laun, suara riuh pekikan itu mulai menurun. Sebagai gantinya, sebagian peserta mulai merebahkan diri di kapal. Kepala mulai pusing, perut serasa diaduk-aduk tak nyaman. Dari sebagian yang mulai menunjukkan ketaklukan kepada besarnya gelombang adalah saya, hingga akhirnya saya harus say goodbye pada sarapan maknyus pagi tadi. Lega rasanya meski agak menyesal hehehe…

Sekitar 1 jam perjalanan di atas kapal, akhirnya sampailah kami di pulau nan indah bernama Pulau Tengah. Disini panitia menunjukkan cara menggunakan alat snorkel dan mewanti-wanti untuk berhati-hati memakainya. Saya and the gang tak begitu memperhatikan karena kemampuan berenang saya yang sangat cekak meski berlindung di balik life vest sekalipun. Owh, what a waste yah? Tapi itu tetap tidak mengurangi keasyikan kami menikmati pulau. Hamparan laut dengan air jernih, pasir putih, gelombang yang menepuk-nepuk kaki kami, serta pemandangan yang subhanallah indah sekali. Tak habis2 kami saling narsis berpoto, mencelup2kan diri dalam air. Oya, di pulau ini ada sebuah rumah yang sepertinya dulunya adalah rumah makan atau mungkin tempat peristirahatan, tapi tak lagi berfungsi. Tak ada warung ataupun toilet disini. Jadi, buat yang kebelet, silakan ke laut aja hahahaha.


Kelar dengan satu pulau, kami menuju ke Pulau Menjangan. Menurut panitia, di pulau ini kami akan menikmati makan siang, sholat Dzuhur dan istirahat sejenak. Meski dengan maparan pasir putih yang sama dengan pulau sebelumnya, tetap saja pulau ini mempunyai sudut yang berbeda untuk kembali menyalurkan bakat narsis kami. Sesuai yang dijanjikan panitia, di pantai ini kami bisa menyalurkan our natural calls secara proper serta makan siang. Menu makan siang, nasi plus ayam bumbu pedas menghilangkan rasa lapar saya. Tak jauh dari kami duduk makan siang, ada seorang penjual kelapa muda dan warung penjual gorengan. Lumayanlah untuk menghilangkan dahaga dari suhu panas sesiang ini. Belum lagi istirahat di bawah pohon nyiur dengan hembusan angin sepoi2, serasa inilah point dari holiday ini. Tapiiii…. Belum lagi saya memejamkan mata denga lelap, sorang panitia membangunkan kami, emngatakan untu segera pindah, sebelum sebutir kelapa yang bisa saja jatuh sewaktu waktu. Hiiiiiiii….. langsung saja kami ngacir wkwkwkwk

Sekitar pukul 3 sore, kami mulai meninggalkan pulau Menjangan menuju ke penangkaran ikan hiu. Jarak yang ditempuh lumayan juga. Perut kenyang, dan saya tak ingin kehilagan rasa nyaman di perut karena mabuk laut, saya pun langsung memilih merebahkan diri di badan kapal. Sebagian peserta lain menggigil kedinginan dengan baju (renang) yang masih basah kuyup. Begitu sampai di pulau penangkaran ikan hiu, pemandangan pertama yang tergelar bukan mereka yang akan ber-snorkel berenang bersama ikan hiu, melainkan mereka yang sudah ngga tahan menahan their natural calls. Antrian panjang orang2 dengan tampang tersiksa mengundang tawa. Sementara sebagian lagi sudah mulai menikmati pemandangan ikan2 hiu kecil plus ikan Nemo yang lucu2. Mereka riuh saling berteriak girang plus geli tiap kali seekor ikan menggingiti kaki mereka. Saya snediri mencoa memberanikan diri mencemplung ke penangkaran tersebut. Bodohnya, dengan kemampuan renng yang cekak, kenapa saya ngga memakai life vest ya? Jadinya, saya hanya nyemplung sebentar dan berjalan ke sana kemari dengan siksaan air asin masuk ke mulut dan hidung, saking ngga bisanya memakai snorkel hahahaha…. Dasaarrr….

Tak begitu lama di pulau ini, kami mulai meninggalkan pulai sekitar pukul 5 sore. Jarak tempuh dari tempat penangkaran ke dermaga tempat dimana kami menginaptak sampai 20 menit perjalanan. Dalam perjalanan pulang, sempat kami melihat sekali lagi sunset yang begitu indah. Sampai di tumah, mulailah kmi mengantri kamar mandi yang tak terbayang lamanya bakal mendapatkan giliran. Kenapa? Tentu saja karena sebagian besar dari kami bakal mencuci rambut yang basah karena air asin laut hahahaha.

Agenda malam yang kami tunggu malam itu adalah ikan bakar. Tanpa mengatakan apapun, ternyata kami mempunyai bayangan yang sama, ikan bakar bakal di gelar di suatu tempat dimana kami semua peserta wisatakita bakal bertemu satu sama lain. Bayangan itu langsung pupus begitu kami membaui ikan bakar di ruang makan. Weh, ternyata bakar ikan itu diadakan di guest house masing2. Wakakakak…. Sebenarnya akan lebih mengasyikkan jika kami semua berkumpul di satu tempat dan menikmati ikan bakar bersama sama. Meski demikian, tetap saja kami melahap ikan bakar yang berasal dari ikan sebesar lengan orang dewasa bernama panti ini dengan nikmat. Sambal kecap menambah nikmat makan malam kami. Dan berakhirlah malam kedua di Karimunjawa. (Bersambung)

Wednesday, July 6, 2011

Holiday @Karimunjawa

Akhirnyaaaaa…..


Dari rangkaian rencana liburan yang pernah saya post tempo hari, trip inilah yang paling saya tunggu2. Berbagai hal saya siapkan menjelang trip ke pulau seberang Jepara ini, termasuk berlatih berenang bersama keponakan tersayang dua bulan sebelum keberangkatan. Belum lagi Tanya sana sini mengenai sun block lotion terbaik, baju nyaman tapi aman dari gosong dan lain sebagainya. Persiapnnya sepertinya bahkan melebihi perjalanan saya ketika melakukan trip ke Sigapore tempo hari. Dan apakah saya mendapatkan trip yang worth it sesuai dengan persiapan saya? Baiklah ini laporan bagian pertama.


Jumat, 24 July 2011


Pagi pukul 5, saya dan tiga teman lainnya sudah bersiap di kantor saya. Well, saya menentukan setting pertemuan kami di kantor yang sekaligus tempat penitipan kendaraan di tangan satpam yang tempat. Perjalanan yang diprediksi sekitar 2 jam perjalanan, ternyata hanya memakan waktu kurang dari 1,5 jam berkat speed gila2an pacar teman saya. Fyi, salah seorang teman bahkan sudah mabuk terlebih begitu duduk di belakang tempat duduk passenger sebelum duduk di dek kapal Muria hahahaha. Sesampai kami di tempat yang ditentukan panitia, warung Bu Diyah di kawasan pantai Kartini, kami melakukan registrasi. Sedikit bingung pada awalnya, karena panitia duduk di tempat duduk wrung dengan segelas cangkir minuman di depannya, kami sepat mengira bahwa mereka adalah customer warung biasa meski di depannya terdapat kertas2 yang bisa lembaran kertas daftar ulang. Sekitar 1 jam kami lingering di tempat tersebut hingga akhirnya salah satu dari panitia menelpon saya, menanyakan keberadaan saya ada dimana. Sedikit geli sedikit nggonduk, saya mendekati si mas2 yang dari tadi sebenarnya sudah saya curigai sebagai panitia wisatakita.

Sarapan bubur ayam disini...


Kondisi sedang segar bugar, belum mabuk laut


Pukul 9 kami sudah duduk manis tapi kepanasan di dek paling atas kapal Muria. Tia teman saya mengatakan lebih baik terkena angin laut dan kepanasan dibandingkan duduk di dek pengap nan berasap rokok. Cukup banyak para penumpang yang memilih duduk di atas kapal ini. Dari awal perjalanan, sudah Nampak keceriaan mereka dengan berpoto narsis. Sementara saya dan teman2 saya sudah cukup tesiksa dengan hawa panas serta kekhawatiran akan mabuk laut yang bakal menyerang selama 6 jam perjalanan. Untunglah, pihak kapal cukup menatuh kasihan pada kami sehingga mereka memasang terpal penahan panas. Namun, ini belum cukup nyaman bagi kami. Dan benar saja, belum sejam kami berada kami terpanggang dan terangguk-angguk dengan goyangan kapal yang semakin lama semakin keras, seorang dari kami mulai meraskan mabuk laut. Khaatir bakal terjadi hal yang sama pada saya, saya rebahkan tuuh saya di lantai dek yang keras. Dengan berbantal tas, saya mencoba untuk tidur. Sayaperhatikan cukup banyak penumpang lain yang juga mengalami hal yang sama, mabuk laut dan memilih rebahan di lantai ek. Jadilah kami seperti ikan asin yang dijemur plus diangin-angin.


Yang tiduran disensor yaaa...


Lega rasanya melihat dermaga


Pukul 3 sore, sampailah kami di dermaga Karimunjawa. Dengan bawaan berat plus kondisi bekas mabuk laut , kami tertatih menujudaratan problem kembali muncul ketika kami bingung mencari panitia travel yang kami tuju.  Tak ada spanduk ataupun apa yang bisa membuat kami percaya diri untuk bertanya akan nasib kami selanjutnya. Akhinya saya beranikan bertanya dengan seseorang yang terlihat sok sibuk berjalan kesana kemari, menanyakan apakah mereka dari wisatakita, dan untungnya memang benar, legalah hati kami. Dengan menumpang mobil, berdelapan kami berdesakan didalam mobil yang membawa kami menuju guest house dimana kami nantinya akan menginap. Tidak jauh dari dermaga, sampailah kami di guest house yang diberi nama Srikandi. Tepat sekali untuk kami berdelapan yang kebetulan semunnya adalah cewek. (Tamu berikutnya ternyata adalah para cowok)



Guest house tempat kami menginap sangat nyaman, terutama buat kami berempat. Nyaman karena kamar ini berada di paling depan rumah sehingga angin segar selalu berembus. Sementara kamar para tamu lainnya kurang nyaman buat mereka karena mereka selalu kepanasan, meskipun kipas angin dalam keadaan on. Oya, selain cukup nyaman, suguhan hidangannya juga cukup mnggiurkan. Es kelapa muda langsung tersedia enyambut kedtangan kami. Menu sop, telur dadar cumi, plus sambal kecap maknyus. Waahh… rasanya land lady guest house ini memanjakan kami.

<a href="http://s240.photobucket.com/albums/ff153/lilass1051/?action=view&amp;current=DSC06559.jpg" target="_blank"><img src="http://i240.photobucket.com/albums/ff153/lilass1051/DSC06559.jpg" border=0 alt=Photobucket></img></a>

Menikmati senja


Sore pukul 5.15, kami dibawa ke pantai. Kami bertanya-tanya, ngapain ya sore2 begini? Oya, selama makan siang, kami sempat saling berkenalan dengan peserta lain. Sebagian besar dari mereka datang dari Jakarta. Ngga kebayang, perjuangan mereka untuk datang ke dermaga ini sekedar melihat sunset yang ternyata sangaaaaattt indaahh… rasanya mabuk laut siang tadi hilang begitu saja terbayar dengan keindahan lukisan Tuhan ini. Sepulang dari dermaga, seusai sholat Maghrib, kami mulai meng-eksplore daerah sekitar dermaga. Kurang dari 600 meter dari dermaga, ada alun2 dengan warung2 di sekitarnya. Kamipun mulai memilih menu apa untuk dinner kami. Dari sekian warung, hanya beberapa yang ternyata membuat kami penasaran. Hampir semua menu bisa ditemukan di Semarang. What can we expect actually? Jadilah dua teman saya memesan bakso sementara saya memilih mie instan yang saya harap terhidang panas2 karena suhu yang cukup dingin malam itu. Ternyata oh, ternyata, angin besar yang terus menerus bertiup membuat mie instan yang seharusnya bisa menghangatkan tubuh, menjadi sekedar hangat. Oh, well…

Makan malam yang dingin


Pukul 9 malam, kami sudah kembali ke guest house. Beberapa kamar sudah rapat terkunci dengan penghuni yang tertidur lelap. Dan sayapun mengakhiri perjalanan panjang hari itu dengan istirahat. Sampai jumpa hari esok, hari pertama meng-explore pulau2. (bersambung)


Sunday, June 5, 2011

Harmony (Korean Movie-2010)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama

Film produksi 2010 ini terhitung baru, terutama beredar di situs2 film donlotan. Jangan harap melihat bintang2 muda macam SUJU atau SNSD disini. Semua pemain didominasi cewek usia 25 tahun ke atas dan jauh dari cerita pop corn cinta2 model Korea. Lebih dari setengah setting cerita berada di penjara wanita. Yup, cerita sentral berada pada sosok Hong Jeong hye, pembunuh suaminya yang sering melakukan physical abuse padanya. Ketika masuk penjara, Jeong hye sedang mengandung dan kemudian melahirkan di penjara wanita. Selain kisah Jeong hye, ada pula Kim Moon ok, mantan professor music, narapidana mati karena membunuh suami dan selingkuhan suaminya. Selain itu, kisah napi baru, Kang Hyu Mi, pembunuh bapak tiri yang bertahun melakukan sexual abuse padanya.

Terus kalo ceritanya tentang para napi wanita, kenapa judulnya Harmony ya? It has to be about music if the title is Harmony, right? Sabaarrr… review belum sampe kesana kok hehehe…. Bermula dari kekaguman Jeong Hye pada paduan suara yang menghibur para napi, dia berniat membuat paduan suara yang sama, hanya para penyanyinya tentu para napi setempat. Ide ini diperkuat dengan keinginannya mendapatkan one day out bersama putranya yang berusia 18 bulan sebelum masa adopsi tiba. Tentu saja dengan catatan dia berhasil membentuk para napi yang semula bersuara ngalor ngidul itu menjadi satu Harmony yang indah. Cita citanya ini didukung teman2nya dan terutama Kim Moon ok, yang bertekad mengisi sisa hidupnya dengan sesuatu yang berharga sebelum hukuman mati dijatuhkan padanya.


Sepanjang hampir dua jam film ini berlangsung. Saya yakin, banyak para penonton bakal tertawa geli melihat tingkah para napi yang tidak ada bedanya dengan napi pria, saling bully, terutama pada napi baru, dan senjata ampuhnya tentu adalah saling jambak. Belum ;ai suara Jeong hye yang jauh dari merdu, karena tiap kali dia nyanyi, sang putra akan menangis keras, ngga tahan dengan suara ibunya. Miris, karena terlihat kilasan flashback alasan beberapa napi berada dalam penjara. Rata2 mereka terlibat pembunuhan tak terencana, karena mereka membunuh dalam kondisi tertekan. Terharu, betapa dalam kondisi terisolasi, mereka sangat padu dalam merawat Min woo, putra semata wayang Jeong hye, sekaligus saling menguatkan satu sama lain ketika mereka ditolak anggota keluarga masing2.

Comments

4 bintang deh buat film ini karena membuat saya yang akhir2 ini sering ngantuk ketika nonton film dengan durasi lebih dari serial Merlin, wkwkwkwk… Selama 1.54 menit, saya betah nonton drama penuh haru biru plus mata bengkak karena ikut menangis bareng para napi… Satu bintang tidak saya berikan karena cerita model begini tentu tidak memberi suatu kejutan baru. Dengan kata lain, endingnya mudah ditebak meski prediksi saya cukup meleset di bagian akhir film. Kita tentu sudah mafhum jika film bercerita tentang tekad atau mimpi, pada akhir film biasanya akan happy ending. Yup, paduan suara para napi yang diberi nama Harmony choir ini cukup sukses dengan tampilnya mereka sebagai bintang tamu Kompetisi paduan suara wanita di luar penjara. Meleset, karena saya pikir happy ending akan berlaku juga pada para napi, entah grasi entah pembebasan hukuman pada Jeong hye atau Moon ok yang sudah bersusah payah mewujudkan mimpi mereka sekaligus membuat bangga para petinggi sipir. Klimaks film berpusar pada sosok Moon ok yang akhirnya tiba pada hari hukuman mati akan dijatuhkan padanya. Derai airmata para penghuni penjara berubah menjadi iringan lagu yang dinyanyikan dengan suara menahan isak, mengiringi kepergiannya, menuju akhir hidupnya…

Saturday, June 4, 2011

Nama panggilan. Does It Matter?

Sekitar seminggu ini, saya mempunyai keponakan baru dari adik saya. Selama ini, saya mempunyai keponakan perempuan juga dari kakak saya, yang tentu saja memanggil saya ‘tante’. Panggilan tante ini sempat menjadi sedikit tanda tanya buat saya, ketika keponakan dari adik saya akan lahir. Tradisi di Jawa, anak dari kakak tentu akan memanggil adik,  tante atau oom, jika laki. Sementara budhe atau pakdhe, jika lebih tua

Well, masalahnya adalah, saya ngga mau dipanggil budhe hahahaha…. Demikian juga kakak saya yang ngga mau dipanggil budhe, karena budhe itu, beberapa orang akan membayangkan seseorang setengah baya, sedikit gemuk dengan gelung dan…anda bayangkan sendiri. Kakak saya yang 10 tahun lebih tua dibanding adik saya saja ngga mau dipanggil budhe, gimana saya yang ‘hanya’ lebih tua enam tahun? Wkwkwkwk…

Walhasil, kakak saya minta dipanggil Mama Nana, sesuai dengan namanya, dan saya tetap sebagai tante Lala. Horeee….  Sebagian besar rekan kerja saya yang usianya dibawah saya, selalu memanggilkan saya sebagai tante bagi anak2 mereka, sebutan yang kemudian membuat saya sendiri rancu tiap ngobrol dengan murid di kelas, antara Miss Lala atau tante Lala hahahaha….  Bukannya apa2, ketika ngobrol dengan murid2, saya sering menyebut diri saya sebagai Ms. Lala dan jarang menggunakan kata ganti orang pertama, ‘Saya’. Suatu kali saya pernah melihat seorang murid saya berkerut kening ketika ngobrol dengan saya, dan saya baru ngeh, jangan2 saya kelepasan menyebut diri sendiri Tante Lala. Wkwkwkwk…

Sebagai single di usia lumayan tinggi begini, panggilan terkadang cukup mempengaruhi saya. Berpengaruh disini maksudnya saya bisa lebih bahagia ketika dipanggil ‘mbak’ dibanding ‘ibu’. Sebagai guru, tentu saya sering dipanggil ‘Ibu’ oleh murid ataupun orangtua murid. Yang ini saya tidak berkeberatan. Sementara rekan kerja yang rata2 lebih muda lebih banyak memanggil saya ‘mbak’, meski jarak usia kami terpaut cukup jauh. Begitu juga di komunitas sepeda dimana saya bergabung. Beberapa diantara mereka memanggil saya ‘mbak’ meski usia lebih tua, secara unggah ungguh Jawa, hal ini sangat biasa. Tentu saja saya senang hahaha. Sementara buat pendatang baru yang rata2 masih kuliah atau lulusan sekolah tinggi, sebagian mereka juga memanggil saya ‘mbak’. Mereka ini tentu tidak mempersoalkan berapa usia seseorang. Pokoknya memanggil ‘mbak’ terdengar lebih akrab dibanding ‘bu’ atau tante. Padahal kalo dilihat dari segi usia, mereka ini rata2 seusia dengan keponakan saya yang sudah duduk dibangku kuliah semester 3.

Overall, panggilan untuk seseorang terkadang membuat seseorang menjadi sangat ramah atau sebaliknya menjadi super jutek karena kurang mengena di hati. Seorang ibu2 di sebuah warung tiba2 bertanya pada saya sembari menunjuk ke adik saya yang notabene sama besarnya dengan saya, “Ini anaknya ya?”. Dalam kondisi nggondok, pengen sekali saya membalas, “Itu cucu2nya ya, mbah?” padahal jelas saya mendengar si anak bawel itu memanggilnya ‘bu’. Gggrrr….  

Wednesday, May 18, 2011

Merlin TV Series

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Classics
Merlin TV Series
Mendengar nama Merlin pertama kali, satu hal yang saya ingat adalah exclamation dari Ron Weasley dalam novel Harry Potter tiap kali dia mendengar sesuatu yang mengagumkan atau mengejutkan, “Merlin beard!”, begitu katanya. Ketika seorang teman menawarkan serial berjumlah 3 season ini, yang saya bayangkan adalah sosok tua berjenggot. Ternyata saya salah. Dan inilah yang akhirnya menggeser drama Korea dalam kehidupan saya.
Serial produksi BBC ini pertama mengudara pada tahun 2008. Serial ini berpusat pada tokoh utama si penyihir yang berperan sangat penting bagi raja Arthur sebelum datang masa pemerintahannya di negeri Britain. Merlin, pada season pertama, berperan sebagai pembantu pangeran Arthur yang nantinya akan berganti peran menjadi penasehat di season berikutnya. Beberapa tokoh lainnya, serial berjumlah 13 episode di tiap seasonnya, tetap setia menghadirkan tokoh2 utama dalam legenda King Arthur. Nama2 Morgana, Lancelot, Guinevere, Mordred, Gwaine, dll, hadir dengan karakter masing2.

TWISTS

Saya menyelesaikan serial 3 season ini dalam waktu sekitar 2 minggu. Serial hasil donlotan seorang teman ini cukup membuat saya khawatir, karena saya takut akan segera merindukannya begitu season 3 selesai saya tonton, maka saya irit2 lah masa menonton saya hahaha. Tetapi, karena penasaran, maka akhirnya dengan berat hati, saya selesaikan saja keseluruhan season. Dan, benar saja, minggu2 berikutnya, saya selalu dilanda rindu dengan serial ini hingga saya ulang2lah episode2 yang saya suka. Dan karena itu pula, saya cari segala pernak pernik tentang Merlin ataupun tentang King Arthur, baik dari referensi online Wikipedia ataupun film2 yang pernah beredar di tahun2 sebelum dirilisnya Merlin TV series.
Nah, berikut ini adalah beberapa twists yang membuat saya betah berlama-lama menonton sekaligus mengulang2 beberapa episodenya:

1. Merlin

Dalam pakem cerita King Arthur, ataupun Merlin, usia Merlin bisa dua kali lipat usia Arthur. Namun dalam serial TV ini, diceritakan Merlin berusia hampir sama dengan Arthur. Mereka tidak lebih dari dua sahabat yang saling membantu, dibandingkan hubungan pangeran dengan pembantunya. Merlin, dalam film King Arthur produksi 2004 yang memasang Clive Owen sebagai Arthur, sempat berseilisih paham dengan Merlin yang sudah beruban, berjenggot dan tentu saja tua. Sementara Arthur masih muda, nggantheng pula hahaha…

Menurut saya, twist usia ini sangat menyenangkan bagi penonton muda ataupun penonton yang tidak mempunyai latar belakang history tentang kisah klasik ini. Jika mereka bertengkar, tidak ubahnya dua sahabat yang saling berbeda pendapat ataupun dua sahabat yang saling mengejek satu sama lain. Colin Morgan sebagai Merlin, menurut saya, mempunyai wajah ‘sangat Merlin’. Bahkan ketika saya melihat Colin Morgan dalam interview, gaya bicaranya sangat bukan siapa2, seperti bukan bintang serial yang sudah ditonton berjuta penonton. Seperti Merlin yang berjasa banyak pada Arrthur atau Camelot, namun hanya Gaius yang mengetahuinya. Dan penonton tentunya.
Sosok Merlin sabagai penyihir, dalam referensi, tidak begitu menyukai kemampuan sihirnya sendiri. Maka, dalam cerita2 yang lain, sangat jarang terlihat Merlin memanfaatkan kemampuan sihirnya. Sementara dalam serial BBC ini, Merlin sangat royal menunjukkan kemampuan sihirnya. Bukan hanya untuk hal2 penting, bahkan untuk sekedar ‘mengerjai’ Arthur atau orang lain pun, dia terlihat sangat menikmati bakatnya.

2. Arthur

Dalam beberapa referensi, Arthur ini dikisahkan sebagai illegitimate son of Uther Pendragon. Kelahirannya direncanakan oleh Merlin sebagai pewaris tahta, menyingkirkan Morgana yang jahat. Namun, dalam kisah serial ini, Arthur dikisahkan sebagai anak sah Uther dari seorang ibu yang sudah meninggal, Ygraine, yang lahir berkat kolaborasi Uther dengan sorcerer.

3. Morgana/ Morgan.

Ada persamaan di sana sini tentang sosok Morgana ini dari kisah yang sudah dikenal umum dan di serial Merlin ini. Morgan adalah sorceress atau witch yang nantinya akan menjadi musuh utama Merlin. Dalam serial ini, si penulis script ingin menghadirkan perubahan karakter pada sosok Morgana yang pada season awal, sangat baik hati meskipun sering beradu argument dengan Uther Pendragon tentang kebijakannya membunuh para sorcerers. Saya yang tidak sengaja mendengar obrolan spoiler dari teman saya, sedikit kecewa ketika nantinya dia bakal bertransformasi menjadi pengkhianat dalam istana Camelot. Namun, akhirnya saya bisa juga menerima dan sekaligus menikmati sosok musuh dalam selimut dalam serial ini.

4. Guinevere
Seorang teman saya ‘sangat kecewa’ dengan pemilihan pemeran Gwen dalam serial ini. Dia pikir bahwa demi meredam racial, maka dipilihlah Gwen yang berkulit hitam sebagai pemerannya. Ketika saya bandingkan antara Gwen di film King Arhtur dan Camelot, Gwen di serial Merlin ini memang ‘kurang eye catching’, hehehe. Tapi si penulis cerita menempatkan Gwen ini sebagai pembantu Morgana. Menurut saya sih wajar saja jika Gwen ini berkulit hitam dan nantinya bakal mencuri hati Arthur dan sekaligus menjadi the Queen of Camelot, karena pakemnya memang begitu, regardless the skin color.

5. Camelot

Negara cikal bakal Britain ini dikisahkan sangat tidak ramah dengan penyihir. Semua orang yang mempunyai kemampuan sihir akan dibasmi. Yang menarik, justru Merlin, si young warlock, hidup di tengah2 dinding Camelot, bersahabat dekat dengan Arthur, putra raja yang membantai semua sorcerers tanpa ampun. Dalam serial Camelot, Merlin yang mempunyai kemampuan sihir plus obat2an, sangat dikenal luas sebagai penyihir pendamping raja.

6. Other characters

Beberapa karakter tambahan diciptakan disini, untuk memperjelas suatu karkter ataupun berperan cukup signifikan demi memperjelas masa lalu suatu karakter. Gaius misalnya. Perannya sebagai physician istana sangat memperjelas suatu karakter tentang masa lalunya. Masa lalu Morgana misalnya yang ternyata mempunyai half sister, Morgouse, yang ternyata adalah sorceress hebat. Ibu Merlin, Hunith, juga dciptakan dalam serial ini untuk memberi tahu bagaaimana seorang Merlin mendapatkan bakatnya sebagai warlock. Sosok ganas sekaligus bersahabat, Kylgarah, alias si dragon, mempunyai peran yang sangat signifikan bagi seorang Merlin yang baru menyadari bahwa hidupnya sudah ditakdirkan demi masa depan Britain, mendampingi Arthur.

COMEDY TOUCH

Beberapa film yang mengangkat kisah Arthur ataupun Merlin, sering kali ber-genre serius karena latar belakang perang dan peralalihan antara Old Religion, Saxon serta Pagan. Film Merlin produksi tahun 1998, saya dapat mengunduh dari youtube, sentuhan komedinya cukup mengganggu dan aneh. Film King Arthur yang dibintangi Clive Owen terlalu serius membuat saya terkantuk kantuk hahaha. Kalo bukan adegan yang cukup hot antara Arthur dan Guinevere, yang tidak bakal ditemukan di serial Merlin, saya mungkin sudah pulas tidur di depan computer.

Berbeda dari film layar lebarnya, cerita yang berangkat dari novel Geoffrey Mornmouth ini sangat menghibur, bisa dikatakan komplet dengan segala suasana. Adegan konyol yang dilakukan Merlin ataupun Arthur seringkali mencairkan suasana tegang yang terbangun dari konflik cerita. Sayangnya, terkadang, dalam satu episode, tak jelas mengapa cerita itu musti dihadirkan. Misalnya cerita tentang goblin, changeling dan beberapa episode lain. Mungkin saja sebagai hiburan di tengah konflik panas antara dendam para sorcerers dengan Uther Pendragon.

Well, overall, serial ini bisa direkomendasikan untuk ditonton segala usia. Teman kantor saya bahkan menggubahnya disana sini menjadi dongeng sebelum tidur anak2nya. Dan jika mereka penasaran, sang mama bisa saja mengajak mereka menonton bersama. Sayang, season 4 masih harus sabar menanti hingga September atau October mendatang. Seorang fans menulis di akun twitter #Merlin, ‘this waiting is killing me. Aaarrghhh.. it’s killing me, too.

Sunday, May 8, 2011

Berkumpulnya kembali Balung Pisah


Sabtu pagi, May 7, 2011

Tanpa disangka sangka, saya menerima sms dari seorang temana lama saya yang mengabarkan berita mengejutkan sekaligus menyenangkan. Seorang teman lama akan datang, tepatnya pulang kampong dan berharap kami, para teman lamanya bisa berkumpul. Berkumpul untuk menyambutnya?  Hmmm…. Mungkin  ada beberapa diantara kami yang menolak istilah yang sedikit menyanjungnya bak selebriti yang datang dan kami menyambutnya. Tapi mau tidak mau, memang itu adalah istilah yang paling tepat. Kami, entah kenapa selalu mampu berusaha semaksimal mugkin untuk berkumpul. Menyambutnya. Apakah teman lama kami ini sudah menjadi orang penting? Hehehe… jawabnya ada di cerita berikut ini.

Minggu, May 8, 2011

Jam sudah menunjukkan angka 13.00. saya sudah berdiri di depan mantan gedung kantor tempat saya dan belasan teman saya yang lain pernah bernaung belasan tahun lalu. Kondisinya sangat menyedihkan sekaligus menyeramkan karena mangkrak bertahun-tahun. Tanpa menunggu lama, dua orang teman yang lain tiba di tempat saya menunggu. Tanpa menengok kedua kali ke gedung yang mempertemukan kami semua, kami langsung meninggalkan tempat menuju tempat makan siang sekaligus tempat untuk menyambutnya teman kami.

Tibalah kami bertiga di warung Wedangan yang bertempat tidak jauh dari tempat kerja kenangan kami. Tanpa menunggu lama, satu persatu crew radio yang dulu berada di jalur AM 936 mulai berdatangan. Perasaan haru mulai menyeruak. Beberapa mulai berkaca-kaca ketika saling peluk. Terasa sudah suasana reuni kali ini sangat special. Tahun2 sebelumnya, kami pernah juga berkumpul, dan selalu saja bertepatan dengan datangnya teman kami yang fenomenal ini. Dan akhirnya, tibalah sosok yang kami tunggu. Seorang kawan yang selalu mampu membuat kami selalu berkumpul untuk menyambutnya, di segala situasi, baik sibuk ataupun mendadak. Dia sebenarnya bukanlah selebriti, melainkan seorang teman yang kebetulan menikah dengan pria berkebangsaan Inggris dan tinggal disana. Saat2 tertentu mereka pulang, ritual berkumpul ini selalu berulang. Dan selalu saya akui, selalu meriah dan semuanya selalu rela menyediakan waktunya untuk sahabat yang dulu aktif di LSM ini.

Makan siang kami lewatkan dengan hahahihi plus foto2. Bukan reuni mantan penyiar namanya kalo tidak ramai gegap gempita. Semua bercerita, semua mendengar, semua tertawa, bahkan ada beberapa yang merasa masih seperti mimpi ketika kembali bertemu dengan teman setelah belasan tahun tak bersua. Saya bisa katakan ada beberapa perubahan mencolok , tetapitetap selalu saja masih ada beberapa hal yang awet, alias tidak berubah. Perubahan yang mencolok tentu saja pada bentuk tubuh dari masing2 kami yang tidak bisa dipungkiri tingkat bengkaknya. Factor U bisa saja disalahkan. Usia yang berada diatas 30 tahun, bisa jadi alasan utama mengapa kami susah diet hahahaha. Selain factor U, mungkin ada factor K, alias kemakmuran hahaha…. Alhamdulillah. Hal yang tidak berubah pada tingkat kehebohan ketika kami berkumpul. Hal2 konyol selalu saja muncul dari beberapa diantara kami. Dudung misalnya, masih awet dengan kegilaannya (seharusnya dia menjadi artis Youtube, agar lebih banyak orang mengakui kegilaannya hahaha… Piss ya, Dung). Yang sedikit mengherankan, wajah2 beberapa teman kami yang sudah belasan tahun tak bertemu, yang dulu setia menyediakan konsumsi di setiap miting, dan juga teman yang dulu mengurusi bagian administrasi dan iklan yang masuk, sama sekali tak berubah. Apakah mereka mengkonsumsi obat anti menua ya? Hihihihi….

Setelah puas, makan, bercerita dan berpoto2, kami pun mulai berkemas. Kali ini kami menuju ke gedung yang menyimpan beribu kenangan. Beberapa menyebut ini sebagai napak tilas. Sayangnya, napak tilas ini tidak bisa sepenuhnya kami lakukan. Jalan menuju ke gedung sudah tertutup dengan semak belukar, banjir sepanjang masa yang menggenangi ruang dalam gedung menutup kemungkinan bagi kami untuk memandang ruang2 dalam gedung. Akhirnya kami memutuskan untuk berpose di luar halaman di kantor yang beralamat di Satria Utara ini. Berkumpulnya belasan orang di depan rumah yang terletak di permukiman penduduk ini tentu saja mearik perhatian warga sekitar. Beberapa orang tetangga sekitar mulai keluar rumah, memandang tingkah aneh kami yang berpoto narsis di depan rumah yang dikenal berhantu ini.  Menyadari ini, kami mulai berkemas, meninggalkan lokasi sebelum warga menanyakan sesuatu pada kami. Atau parahnya meminta pertanggungjawaban kami akan terbengkalainya gedung yang santer dengan keluarga hantunya (seorang teman mengatakan adanya hantu kakek dan cucu perempuannya disana. Hiiiiiii).

Acara berikutnya adalah menuju rumah penasehat radio yang beberapa waktu lalu dikabarkan terkena stroke. Perjalanan ditempuh dengan tiga mobil mwnuju daerah Kaligawe. Harus saya akui daya ingat teman saya yang masih hapal luar kepala rumah rekan yang juga berbelas tahun tak saling jumpa, dan entah berapa belas tahun tak berkunjung ke rumah tersebut. Hal yang tidak masuk akal terjadi sesaat kami tiba di rumah yang kami tuju. Teriakan permisi kami saya sekali dianggap angin lalu oleh si pemilik rumah. Usaha membuka pintu gerbang mulai dilakukan. Bahkan ada yang bermaksud memanjat pintu gerbang demi meraih pintu ruang tamu. Untunglah semua itu tidak lagi perlu dilakukan karena ternyata letak rumah yang dimaksud berada disamping rumah yang sedang kami gedor2. Wakakakak… lupa adalah alas an yang sangaaattt manusiawi.

Ngobrol dilanjutkan begitu si empunya rumah mempersilakan kami duduk. Tidak saya lihat adanya kaca2 di mata teman2 saya atau saya yang tidak memperhatikan. Obrolan didominasi para tetua radio seputar kondisi PRSSNI saat ini dan bla bal bla. Sesekali diinterupsi dengan teriakan norak Dudung yang merasa kehausan sekaligus mencari perhatian. Hahahaha…. Dan, tentu saja sesi poto2 kembali berlangsung. Puaaasss rasanya acar berkumpul kali ini.

Well, harus saya akui, acara kumpul2 ini tidak akan pernah terjadi jika sahabat dari jauh ini tidak muncul. Saling ajak berkumpul atau sekedar menengok rekan yang sakit bukan alasan yang tepat untuk membuat kami berkumpul seperti ini. Sahabat inilah lem perekat kami untuk kembali mengingatkan bahwa kami pernah mempunyai cerita suka duka bersama. Kami berangkat dari sebuah kantor kecil yang saat ini kondisinya sangat mengenaskan tetapi ternyata mampu mengingatkan bahwa kami ini adalah keluarga sesuai slogan ketika kami mengudara dulu, “PASOPATI, THE FAMILY STATION”.

Thanks to you, Tary and Stuart Thewlis.  We love you.