Pages

Friday, July 29, 2011

Mengekspolitasi my Nokia E63

Rating:★★★★
Category:Computers & Electronics
Product Type: Cell-phones
Manufacturer:  Nokia


My cellphone is my horcrux!!!

Hahaha… berlebihan ya? Tapi memang itu kenyataannya. Meski saya sadar bahwa mempunyai attachment pada suatu barang itu tidak boleh, but I just can’t help it. Semenjak saya punya soner K750i, saya sudah memaksimalkan penggunaannya hingga titik darah penghabisan wkwkwkwk. Saya ini bukan tipe penyuka game yang akut, saya hanya penggila segala sofwer yang bisa diinstal di hape. Dari mulai chat application, browser application hingga ebook. Dan hasilnya, K750i saya mempunyai umur lebih pendek dibanding punya punya adik saya. Dan kini saatnya saya mengeksploitasi hape yang saya miliki sekarang ini Nokia E63.

Sebelumnya, saya selalu melirik soner sebagai ‘horcrux’ saya, tapi entah mengapa, tahun lalu, ketika saya memegang hape seorang teman saya yang waktu itu masih memegang E63, saya kok tiba2 berpikiran membeli hape jenis itu, ditambah harga yang tiba2 melorot drastic, dari 2 juta something, menjadi 1,5 something. Pilihan utama saya waktu itu hanya pada penerimaan hotspotnya yang lumayan meski tidak berada di dekat daerah spot yang hot hehehe. Tapi begitu saya mengeksplore, saya jadi ternganga nganga dengan feature-nya. Selain kapasitas smsnya yang mencapai ratusan, pocket office-nya yang membuat saya ternganga. Bayangkan, selama ini saya hanya berpikir hanya PDA saya yang sakti bisa edit dokumen, tapi ternyata, tidak hanya dokumen, bahkan exel plus power point sederhana pun masuk kesini. Hasilnya, segala catatan mulai dari menulis blog, menulis buku harian hingga pengeluaran dan pemasukan masuk disini.
Dari sebagian banyak feature yang ditawarkan EE3, sebenarnya saya tidak begitu memanfaatkan semuanya, seperti youtube, facebook, mySpace, maps, GPS data, pokoknya yang menghabiskan pulsa, ngga satupun yang saya sentuh hahaha. Meski browser di dalam E63 ini sudah cukup sakti untuk browse maupun download lagu dari multiply, tapi saya masih merasa perlu untuk meng-install opera mini and UC browser sebagai partner seiring browser built in. Pokoknya, dimana mana kudu bisa online…online….dengan murah tentunya.

Karena banyak feature built in nya yang saya cuekin, akhirnya saya pun lebih banyak meng-exploit instalasinya. Segala macam program saya instal disana. Mulai dari ebuddy, program chat yang saat ini nyaris tak pernah saya sentuh lagi, karena boros pulsa haha, ada juga aplikasi al-Qur’an. Seorang teman saya tertarik ingin meminta aplikasi ini karena dia kira, tinggal klik, trus mengalunlah suara ngaji. Saya bilang aja, kalo begitu sih, yang dapet pahalanya yang ngaji, kita Cuma dapet pahala dengerin aja hahaha. Begitu tau, bahwa ini adalah aplikasi Al-Qur’an yang dibaca manual, sedikit sekali yang tertarik. Ngga heran, kalo saya pernah melihat status seseorang yang mengatakan bahwa nanti di rurga bakal banyak kaset, CD atau player yang masuk surga hihihi…

Selain al-Qur’an, ada pula index Qur’an yang agak jarang saya buka karena tampilannya kurang enak dibaca, tapi lumayanlah sesekali melihat terjemahan al-Qur’an disini. Saya install pula kamus PD English Indonesia, game hangman, Bubble Bash game (sangat jarang saya mainkan karena sudah mentok di level tertentu hehehe). Snaptu, semacam shortcut untuk masuk ke jejaring social juga masuk dalam instalasi. Tetapi ternyata, mahaaallll… dan sayapun berjanji, hanya memakainya ketika berada dalam jangkauan hotspot saja hehehe. Berikutnya adalah Whatsapp sejenis aplikasi chat antar OS, yang katanya bakal menggeser kedigdayaan BBM mengingat hape ber-OS symbian, Android, BB dan i-phone bisa saling chat rame2 melalui aplikasi ini. Saya sendiri hanya memakainya kadang2 saja, selain boros batere, juga bisa boros pulsa ketika saya bergabung dengan group tertentu. Bisa puyeng saya melihat pulsa yang sudah tipis, tambah tipis dengan sedotan obrolan yang tau2 njedul begitu saja.

Sejak saya memiliki K750i, saya sudah sering memanfaatkaannya sebagai ebook reader. Dengan aplikasi javanyaa, saya bisa membuat ebook apa saja dan masuk ke dalamnya. Hanya, yang namanya manusia kayaknya ngga ada puasnya. Dulu saya pernah mengalami kenikmatan membaca ebook di PDA saya. Hanya kerena si PDA ini ngambek karena jatuh, akhirnya saya harus kembali menikmati ebook tampilan minimalis dari java. Bayangan tampilan ebook reader milik PDA itu masih tergambar jelas di pelupuk mata hingga akhirnya saya kembali browse sana sini mengenai ebook reader. Pilihan jatuh pada iriver cover story, ebook reader rilisan Google. Melihat harganya, saya sudah cukup pening, 2,3 jeti. Sepertinya saya bakal kalah pada godaan jika pada akhirnya nanti saya membeli gadget ini. Sementara saya mengenal diri sendiri, yang sedikit saja tertarik novel ini, dan sesaat kemudian pindah ke novel lain. Mana mungkin saya membeli gadget dengan harga selangit itu hanya untuk membaca buku dengan model lompat sana sini? Akan tetapi, Alhamdulillah, saya terselamatakan dengan satu artikel dari wikipedia mengenai aplikasi ebook reader untuk hape jenis symbian, yang bisa menginstal mobipocket reader di hape, dan tadaaa….. segala soft copy bisa di convert menjadi .prc/ .pdb dan voilaaa… Silakan menikmati bacaan dengan tampilan se asyik membaca di PDA. Meskipun tampilan font ngga bisa diperbesar, tapi lumayanlah untuk meredam keinginan emosional yang sering datang meledak ledak.

Well, overall, saya ngga butuh another newer cellphone berbasis android ataupun BB, saya sudah cukup puas dengan hape sekarang ini. Ngga tau, siapa tau nanti saya ngelirik gadget berkilau lain yang bisa jadi horcrux saya yang berikutnya hahaha…

Monday, July 18, 2011

Avalon High: Book VS Movie Version

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Teens
Author:Meg Cabot

Awas spoiler buat yang belum membaca dan menonton filmnya dan kepengen membaca novel and menonton filmnya.

Sekian lama saya absen membaca buku karya Meg Cabot, akhirnya saya tergoda membaca novel bersampul ungu tua ini. Alasanya tentu jelas buat anda yang selama ini sedikit bosan mendengar ocehan saya setiap saat tentang Merlin tv series wkwkwkwk. Keponakan saya yang menolak menonton serial yang dibintangi Colin Morgan itu bercerita bahwa novel yang dibacanya ada bumbu Arthur dan seorang knight-nya, Lancelot. Dengan berbinar-binar sayapun meminjam darinya. Tapiiiii…sebelumnya saya tau dari seorang teman bahwa Disney memproduksi novel tersebut menjadi drama remaja. Dan karena saya harus mengantri membaca novel itu, saya pun menonton filmnya terlebih dahulu dan baru kemudian menuntaskan novel setebal 307 halaman ini.
Well, siapapun setuju, novel dan film pasti akan berbeda satu sama lain. Dan perbedaan itu bisa menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi banyak lubang sana sini. Dan umumnya, novel akan jauh lebih bagus dari filmnya, dari segi penceritaan, imaginasi, dan tentu saja dalam Avalon High ini mana yang lebih mendekati legenda Arthurian. Baiklah, saya mulai saja pernak pernik yang ada di keduanya plus legenda Arthurian berdasar film serial Merlin ataupun sekilas sejarah Arthur menurut uncle Wiki.

1. Ellie Harrison atau Allie Harrison versi filmnya
Entah ini memang tipikal karakter cewek utama dalam novel2 Meg Cabot karena saya hanya membaca Princess Diary dan Avalon High, tokoh utama selalu digambarkan sebagai seseorang yang kurang percaya diri dan hobi sekali mengulang kata2 yang penting dua hingga tiga kali. Misalnya ketika Will menyentuhnya. Menyentuhnya. Diulang plus tercetak miring menegaskan betapa dia merasa bahwa sentuhan ini serasa mimpi bagi Ellie. Sementara dalam filmnya, seorang Allie meski sama2 hobi lari, tapi tidak mengapung di kolam renangnya seperti Ellie, dia hanya terkadang terlihat sedikit speechless tiap kali Will memandangnya. Kelihatan sangat pede, tidak seperti Ellie.

2. Awal jumpa Will dan Ellie/ Allie
Untung saya menonton filmnya terlebih dahulu, sehingga saya ngga perlu menunggu momen unik awal jumpa Ellie dan Will. Yang jelas, jurang yang dimaksud di novel dan film, berbeda jauh. Lebih ekstrem di novel tentu.

3. Déjà vu
Dalam novel, Will-lah yang sering mendapat perasaan bahwa dia mengenal Ellie sebelumnya, pernah mengatakan apa yang pernah dia katakan. Sementara dalam film, Allie lebih sering mendapat ‘penampakan’ masa lalu secara flash.

4. Pergeseran peran.
Dalam novel, Meg Cabot setia dengan alur, yaitu semuanya menempati perannya sesuai dengan legenda Arthurian. Misalnya saja Marco, adik tiri Will, yang ternyata saudara sekandung ayah dan ibu, adalah penjelmaan Mordred yang jahat. Sementara Mr. Morton, si guru Sejarah (?), menjalani perannya sebagai Merlin, ketua Orde Beruang yang menyiapkan lahir inkarnasi Arthur di jaman modern. Belum lagi senjata pedang, senjata andalan Arthur yang bernama Excalibur, berhasil menundukkan aura gelap Marco alias Mordred. Mmmmm… sejalan dengan legenda Arthurian. Sementara di film, semuanya jauh dari alur. Entah alasan apa Disney mengobrak abrik pakem yang ada. Jika hasilnya seperti Merlin, yang keluar alur, tapi bagus (menurut saya) sih, ngga masalah. Lha ini? Haddeehh… Mr. Moore, si guru sejarah di plot menjadi Mordred, Marco menjadi salah satu knight Arthur, dan Allie ternyata adalah King Arthur itu sendiri. Lha trus, Will-nya jadi siapa dong? Mungkin seperti kata Aliie, he will be her knight and shining armor. Wkwkwkwk….

5. Additional players and reducing players

Beberapa pemeran dihilangkan dalam versi filmnya, seperti Nancy, sahabat Ellie yang hanya muncul suaranya saja, Tig, kucing piaraan Ellie, Cavalier, anjing piaraan Will yang kebetulan mempunyai nama yang sama dengan anjing milik King Arthur, orangtua Will yang mempunyai alur yang sama seperti bagaimana cara Uther menikahi Igraine. Sementara dalam film, sosok tambahan ada pada Miles yang sering mendapat sighting seperti halnya Merlin dalam kisah Arthurian.

Well, overall, it’s not bad lah dari segi novelnya. Saya beri bintang 3.5 deh. Sementara filmnya cukup 2,5 saja hehehe…

Friday, July 15, 2011

Holiday @Karimunjawa (Day2)

Pagi, pukul 4.30, sebagian besar penghuni kamar saya yang berjumlah 4 orang sudah mulai menunjukkan kehidupan. Sebagian bangun untuk menjalankan sholat Shubuh, sebagian lainnya mulai mandi mengingat jumlah anggota peserta, 18 atau 16 orang ya, dengan dua kamar mandi di masing2 lantai. Saya sendiri sudah terbangun sebelum yang lainnya bangun karena sekujur tubuh terasa pegal. Entah karena efek tiduran lama di kapal atau bobot tas punggung yang audzubillah beratnya, atau efek kasur tipis yag tergelar di lantai hahaha…

Pukul 6 pagi, ada sedikit insiden di rumah tempat menginap karena seseorang yang sedang mandi dikejutkan dengan listrik mati. Gelap gulitalah di dalam kamar mandi. Kami baru sadar jika listrik di pulau ini hanya memancar sekitar 12 jam sehari more or less, mulai jam 5.30 PM-6.00 AM. Hasilnya, senter yang sudah di woro2 di website untuk dibawa, mulai menunjukkan aksinya. Listrik mati juga tidak menyurutkan bau sarapan pagi yang menggoda. Menu pagi itu adalah tumis  kembang kol, wortel, sawi, ikan goreng, tempe goreng plus sambal nan pedas maknyus. Selama sarapan, kami, sebagian besar cewek, mulai ngrumpi sana sini. Bahasa Jawa di-ban disini karena sebagian besar peserta protes dengan mengatakan, “Roaming…. Roaming”. Wkwkwkwk

Sekitar pukul 7 lebih, mulailah kami keluar dari guest house menuju dermaga dimana kapal menanti untuk membawa kami explore dari satu pulau ke pulau lainnya. Sebagian peserta sudah tak sabar menanti di kapal lengkap dengan life vest. Saya yang baru pertama kali memakai, bingung juga hahaha. Apakah jika life vest kendor akan membahayakan jiwa? Hihihi… dan sebenarnya banyak life vest yang sudah tak lagi layak pakai karena lepasnya kancing, kendornya tali dsb. Tapi at least, lumayanlah, jika toh terjadi apa2, life vest itu tetap saja akan membuat kami mengambang.

Pulau Tengah adalah destinasi pertama kami. Banyak peserta yang duduk menghadap laut dengan kamera siap di tangan. Mengabadikan segala sudut pemandangan, arus gelombang yang mulai menderas, dan tak ketinggalan, memotret diri sendiri dengan kostum lengkap life vest hahaha. Masalah mulai muncul ketika kapal mulai bergoyang kencang seiring dengan angin besar yang bertiup. Beum lagi perikan air laut yang terasa dingin dan tentu saja, asiin. Awalnya, kami saling memekik-mekik seru tiap kali gelombang besar menerpa. Tapi lambat laun, suara riuh pekikan itu mulai menurun. Sebagai gantinya, sebagian peserta mulai merebahkan diri di kapal. Kepala mulai pusing, perut serasa diaduk-aduk tak nyaman. Dari sebagian yang mulai menunjukkan ketaklukan kepada besarnya gelombang adalah saya, hingga akhirnya saya harus say goodbye pada sarapan maknyus pagi tadi. Lega rasanya meski agak menyesal hehehe…

Sekitar 1 jam perjalanan di atas kapal, akhirnya sampailah kami di pulau nan indah bernama Pulau Tengah. Disini panitia menunjukkan cara menggunakan alat snorkel dan mewanti-wanti untuk berhati-hati memakainya. Saya and the gang tak begitu memperhatikan karena kemampuan berenang saya yang sangat cekak meski berlindung di balik life vest sekalipun. Owh, what a waste yah? Tapi itu tetap tidak mengurangi keasyikan kami menikmati pulau. Hamparan laut dengan air jernih, pasir putih, gelombang yang menepuk-nepuk kaki kami, serta pemandangan yang subhanallah indah sekali. Tak habis2 kami saling narsis berpoto, mencelup2kan diri dalam air. Oya, di pulau ini ada sebuah rumah yang sepertinya dulunya adalah rumah makan atau mungkin tempat peristirahatan, tapi tak lagi berfungsi. Tak ada warung ataupun toilet disini. Jadi, buat yang kebelet, silakan ke laut aja hahahaha.


Kelar dengan satu pulau, kami menuju ke Pulau Menjangan. Menurut panitia, di pulau ini kami akan menikmati makan siang, sholat Dzuhur dan istirahat sejenak. Meski dengan maparan pasir putih yang sama dengan pulau sebelumnya, tetap saja pulau ini mempunyai sudut yang berbeda untuk kembali menyalurkan bakat narsis kami. Sesuai yang dijanjikan panitia, di pantai ini kami bisa menyalurkan our natural calls secara proper serta makan siang. Menu makan siang, nasi plus ayam bumbu pedas menghilangkan rasa lapar saya. Tak jauh dari kami duduk makan siang, ada seorang penjual kelapa muda dan warung penjual gorengan. Lumayanlah untuk menghilangkan dahaga dari suhu panas sesiang ini. Belum lagi istirahat di bawah pohon nyiur dengan hembusan angin sepoi2, serasa inilah point dari holiday ini. Tapiiii…. Belum lagi saya memejamkan mata denga lelap, sorang panitia membangunkan kami, emngatakan untu segera pindah, sebelum sebutir kelapa yang bisa saja jatuh sewaktu waktu. Hiiiiiiii….. langsung saja kami ngacir wkwkwkwk

Sekitar pukul 3 sore, kami mulai meninggalkan pulau Menjangan menuju ke penangkaran ikan hiu. Jarak yang ditempuh lumayan juga. Perut kenyang, dan saya tak ingin kehilagan rasa nyaman di perut karena mabuk laut, saya pun langsung memilih merebahkan diri di badan kapal. Sebagian peserta lain menggigil kedinginan dengan baju (renang) yang masih basah kuyup. Begitu sampai di pulau penangkaran ikan hiu, pemandangan pertama yang tergelar bukan mereka yang akan ber-snorkel berenang bersama ikan hiu, melainkan mereka yang sudah ngga tahan menahan their natural calls. Antrian panjang orang2 dengan tampang tersiksa mengundang tawa. Sementara sebagian lagi sudah mulai menikmati pemandangan ikan2 hiu kecil plus ikan Nemo yang lucu2. Mereka riuh saling berteriak girang plus geli tiap kali seekor ikan menggingiti kaki mereka. Saya snediri mencoa memberanikan diri mencemplung ke penangkaran tersebut. Bodohnya, dengan kemampuan renng yang cekak, kenapa saya ngga memakai life vest ya? Jadinya, saya hanya nyemplung sebentar dan berjalan ke sana kemari dengan siksaan air asin masuk ke mulut dan hidung, saking ngga bisanya memakai snorkel hahahaha…. Dasaarrr….

Tak begitu lama di pulau ini, kami mulai meninggalkan pulai sekitar pukul 5 sore. Jarak tempuh dari tempat penangkaran ke dermaga tempat dimana kami menginaptak sampai 20 menit perjalanan. Dalam perjalanan pulang, sempat kami melihat sekali lagi sunset yang begitu indah. Sampai di tumah, mulailah kmi mengantri kamar mandi yang tak terbayang lamanya bakal mendapatkan giliran. Kenapa? Tentu saja karena sebagian besar dari kami bakal mencuci rambut yang basah karena air asin laut hahahaha.

Agenda malam yang kami tunggu malam itu adalah ikan bakar. Tanpa mengatakan apapun, ternyata kami mempunyai bayangan yang sama, ikan bakar bakal di gelar di suatu tempat dimana kami semua peserta wisatakita bakal bertemu satu sama lain. Bayangan itu langsung pupus begitu kami membaui ikan bakar di ruang makan. Weh, ternyata bakar ikan itu diadakan di guest house masing2. Wakakakak…. Sebenarnya akan lebih mengasyikkan jika kami semua berkumpul di satu tempat dan menikmati ikan bakar bersama sama. Meski demikian, tetap saja kami melahap ikan bakar yang berasal dari ikan sebesar lengan orang dewasa bernama panti ini dengan nikmat. Sambal kecap menambah nikmat makan malam kami. Dan berakhirlah malam kedua di Karimunjawa. (Bersambung)

Wednesday, July 6, 2011

Holiday @Karimunjawa

Akhirnyaaaaa…..


Dari rangkaian rencana liburan yang pernah saya post tempo hari, trip inilah yang paling saya tunggu2. Berbagai hal saya siapkan menjelang trip ke pulau seberang Jepara ini, termasuk berlatih berenang bersama keponakan tersayang dua bulan sebelum keberangkatan. Belum lagi Tanya sana sini mengenai sun block lotion terbaik, baju nyaman tapi aman dari gosong dan lain sebagainya. Persiapnnya sepertinya bahkan melebihi perjalanan saya ketika melakukan trip ke Sigapore tempo hari. Dan apakah saya mendapatkan trip yang worth it sesuai dengan persiapan saya? Baiklah ini laporan bagian pertama.


Jumat, 24 July 2011


Pagi pukul 5, saya dan tiga teman lainnya sudah bersiap di kantor saya. Well, saya menentukan setting pertemuan kami di kantor yang sekaligus tempat penitipan kendaraan di tangan satpam yang tempat. Perjalanan yang diprediksi sekitar 2 jam perjalanan, ternyata hanya memakan waktu kurang dari 1,5 jam berkat speed gila2an pacar teman saya. Fyi, salah seorang teman bahkan sudah mabuk terlebih begitu duduk di belakang tempat duduk passenger sebelum duduk di dek kapal Muria hahahaha. Sesampai kami di tempat yang ditentukan panitia, warung Bu Diyah di kawasan pantai Kartini, kami melakukan registrasi. Sedikit bingung pada awalnya, karena panitia duduk di tempat duduk wrung dengan segelas cangkir minuman di depannya, kami sepat mengira bahwa mereka adalah customer warung biasa meski di depannya terdapat kertas2 yang bisa lembaran kertas daftar ulang. Sekitar 1 jam kami lingering di tempat tersebut hingga akhirnya salah satu dari panitia menelpon saya, menanyakan keberadaan saya ada dimana. Sedikit geli sedikit nggonduk, saya mendekati si mas2 yang dari tadi sebenarnya sudah saya curigai sebagai panitia wisatakita.

Sarapan bubur ayam disini...


Kondisi sedang segar bugar, belum mabuk laut


Pukul 9 kami sudah duduk manis tapi kepanasan di dek paling atas kapal Muria. Tia teman saya mengatakan lebih baik terkena angin laut dan kepanasan dibandingkan duduk di dek pengap nan berasap rokok. Cukup banyak para penumpang yang memilih duduk di atas kapal ini. Dari awal perjalanan, sudah Nampak keceriaan mereka dengan berpoto narsis. Sementara saya dan teman2 saya sudah cukup tesiksa dengan hawa panas serta kekhawatiran akan mabuk laut yang bakal menyerang selama 6 jam perjalanan. Untunglah, pihak kapal cukup menatuh kasihan pada kami sehingga mereka memasang terpal penahan panas. Namun, ini belum cukup nyaman bagi kami. Dan benar saja, belum sejam kami berada kami terpanggang dan terangguk-angguk dengan goyangan kapal yang semakin lama semakin keras, seorang dari kami mulai meraskan mabuk laut. Khaatir bakal terjadi hal yang sama pada saya, saya rebahkan tuuh saya di lantai dek yang keras. Dengan berbantal tas, saya mencoba untuk tidur. Sayaperhatikan cukup banyak penumpang lain yang juga mengalami hal yang sama, mabuk laut dan memilih rebahan di lantai ek. Jadilah kami seperti ikan asin yang dijemur plus diangin-angin.


Yang tiduran disensor yaaa...


Lega rasanya melihat dermaga


Pukul 3 sore, sampailah kami di dermaga Karimunjawa. Dengan bawaan berat plus kondisi bekas mabuk laut , kami tertatih menujudaratan problem kembali muncul ketika kami bingung mencari panitia travel yang kami tuju.  Tak ada spanduk ataupun apa yang bisa membuat kami percaya diri untuk bertanya akan nasib kami selanjutnya. Akhinya saya beranikan bertanya dengan seseorang yang terlihat sok sibuk berjalan kesana kemari, menanyakan apakah mereka dari wisatakita, dan untungnya memang benar, legalah hati kami. Dengan menumpang mobil, berdelapan kami berdesakan didalam mobil yang membawa kami menuju guest house dimana kami nantinya akan menginap. Tidak jauh dari dermaga, sampailah kami di guest house yang diberi nama Srikandi. Tepat sekali untuk kami berdelapan yang kebetulan semunnya adalah cewek. (Tamu berikutnya ternyata adalah para cowok)



Guest house tempat kami menginap sangat nyaman, terutama buat kami berempat. Nyaman karena kamar ini berada di paling depan rumah sehingga angin segar selalu berembus. Sementara kamar para tamu lainnya kurang nyaman buat mereka karena mereka selalu kepanasan, meskipun kipas angin dalam keadaan on. Oya, selain cukup nyaman, suguhan hidangannya juga cukup mnggiurkan. Es kelapa muda langsung tersedia enyambut kedtangan kami. Menu sop, telur dadar cumi, plus sambal kecap maknyus. Waahh… rasanya land lady guest house ini memanjakan kami.

<a href="http://s240.photobucket.com/albums/ff153/lilass1051/?action=view&amp;current=DSC06559.jpg" target="_blank"><img src="http://i240.photobucket.com/albums/ff153/lilass1051/DSC06559.jpg" border=0 alt=Photobucket></img></a>

Menikmati senja


Sore pukul 5.15, kami dibawa ke pantai. Kami bertanya-tanya, ngapain ya sore2 begini? Oya, selama makan siang, kami sempat saling berkenalan dengan peserta lain. Sebagian besar dari mereka datang dari Jakarta. Ngga kebayang, perjuangan mereka untuk datang ke dermaga ini sekedar melihat sunset yang ternyata sangaaaaattt indaahh… rasanya mabuk laut siang tadi hilang begitu saja terbayar dengan keindahan lukisan Tuhan ini. Sepulang dari dermaga, seusai sholat Maghrib, kami mulai meng-eksplore daerah sekitar dermaga. Kurang dari 600 meter dari dermaga, ada alun2 dengan warung2 di sekitarnya. Kamipun mulai memilih menu apa untuk dinner kami. Dari sekian warung, hanya beberapa yang ternyata membuat kami penasaran. Hampir semua menu bisa ditemukan di Semarang. What can we expect actually? Jadilah dua teman saya memesan bakso sementara saya memilih mie instan yang saya harap terhidang panas2 karena suhu yang cukup dingin malam itu. Ternyata oh, ternyata, angin besar yang terus menerus bertiup membuat mie instan yang seharusnya bisa menghangatkan tubuh, menjadi sekedar hangat. Oh, well…

Makan malam yang dingin


Pukul 9 malam, kami sudah kembali ke guest house. Beberapa kamar sudah rapat terkunci dengan penghuni yang tertidur lelap. Dan sayapun mengakhiri perjalanan panjang hari itu dengan istirahat. Sampai jumpa hari esok, hari pertama meng-explore pulau2. (bersambung)