Pages

Saturday, September 24, 2011

(Rumah Kenangan) Segala Hiburan Murah Meriah

Rumah ini dibeli orangtua saya sekitar tahun 1970an. Dua kakak saya tidak lahir di rumah ini, melainkan di rumah kontrakan. Rumah ini adalah rumah hak milik pertama orangtua saya setelah sekitar 12 tahun merantau di tanah Jawa. Oya, bapak ibu  saya asli orang Gorontalo, Sulawesi Utara. Di Semarang mereka merantau, tanpa ada saudara dekat maupun teman dekat yang menyertai. Namun, dari rumah inilah, kami sekeluarga menemukan keluarga baru di kanan kiri rumah. Di rumah inilah saya dan adik perempuan saya lahir dan mengukir banyak kenangan, dengan saudara-saudara baru.

Rumah yang terletak di Semarang Barat ini tidak besar, hanya terdapat dua kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan kamar tamu dimana disitu diletakkan satu tempat tidur untuk kakak laki2 saya yang terkadang berfungsi juga untuk tempat tidur tamu jika sepupu saya berlibur dari Gontor. Posisi rumah ini cukup strategis dilihat dari berbagai fasilitas publik yang ada: madrasah dimana saya dan 2 kakak saya habiskan masa SD, pasar Bulu yang lengkap, rumah sakit umum, dll. Belum lagi warung-warung yang tersebar di sepanjang rumah2 tetangga karena jaraknya yang dekat dengan madrasah. Sebut saja Bakso Lik Setu, martabak Lik Muh, bakmi Jowo, warung jajan Lik Temu yang lengkap, macam kolak, berbagai macam bubur, pecel, rujak, tempe/ tahu/ tempe bacem, jamu tradisional lengkap dengan rumah usahanya (saya sering mencari kecik untuk bermain dakonan di sampah jamu ini. Jorok ya). Banyak teman sebaya yang menemani saya kesana kemari brmain pasaran. Sering kali kami mencari bahan-bahan pasaran ini lintas kampung, termasuk dikejar-kejar pemilik kebun dimana kami sering mencuri buah-buahan yang belum masak. Hahaha…

Jarak rumah yang sangat dekat sekolah memungkinkan teman-teman saya dan 2 kakak saya untuk bermain ke rumah. Berbagai macam majalah langganan keluarga seperti Bobo, Tomtom dan Ananda menjadikan rumah saya layaknya perpustakaan. Ditambah koleksi buku Album Cerita Ternama menambah lengkap koleksi buku di rumah. Banyak teman-teman kakak saya nyaman dari duduk selonjor hingga tengkurap malang melintang membaca majalah di ruang tamu. Ritual membaca ini diwarnai juga dengan menyimak sandiwara radio bersama. Sebut saja Jaka Dilaga, Brama Kumbara, dan lainnya. Gelombang radio yang terkadang putus nyambung membuat kepala-kepala kami seolah beradu di depan corong radio.

Sekitar tahun 70-80an, televisi adalah barang yang sangat mewah. Pada waktu itu bapak saya cukup beruntung bisa membeli televisi hitam putih ukuran 14 inchi. Tak heran, setiap kali acara menarik dari TVRI seperti film Minggu siang, Aneka Ria Safari hingga Film Akhir Pekan yang sering menayangkan cerita-cerita horor, posisi televisi yang biasa diletakkan di kamar bapak saya, harus digotong ke ruang tamu. Banyak tetangga kanan kiri yang mencari hiburan dengan menonton televisi di rumah. Bisa dibayangkan, ruang tamu mungil itu penuh dengan penonton yang duduk di kursi hingga duduk berselonjor di lantai. Bahkan ada yang rela menonton dari balik jendela.

Dengan 4 anak yang masih kecil-kecil, rumah mungil ini cukup menampung kami berenam. Yang sedikit lucu adalah bapak ibu saya tidur di tempat terpisah. Bapak saya yang tidak bisa tidur dengan secercah cahaya, berbalik 180 derajat dari ibu saya yang merasa sesak begitu lampu padam. Jadi, bapak saya menempati kamar sendiri, sementara ibu saya menempati satu kamar dengan saya, kakak perempuan saya dan adik saya yang waktu itu masih tidur di boks bayi. Tempat tidur bertingkat adalah tempat tidur kami bertiga tidur, saya, ibu saya dan kakak perempuan saya. Terkadang kakak laki-laki saya terpaksa mengungsi di tempat tidur atas ketika tempat tidurnya harus diisi tamu. Yang aneh, tiap kali saya ikutan tidur di atas, dalam jangka 2 hari saja, kepala saya penuh dengan borok. Hiiiiiiiiii…. Sementara kakak saya aman-aman saja.

Kami menempati rumah ini hingga tahun 1981. Karena anak2 yang semakin besar dan membutuhkan kamar pribadi yang lebih besar, maka kami pindah ke rumah yang lebih besar. Rumah mungil penuh kenangan itu akhirnya kami kontrakkan. Sesekali saya dan ibu saya dulu mampir ke rumah tersebut sekedar bersilaturahmi dengan tetangga terutama menjelang dan seusai Lebaran. Terkadang saya pribadi melintas di rumah yang sedikit ada perubahan di bagian terasnya. Terbayang kenangan pertama belajar mengaji di ruang tamu, almarhum ayah saya yang duduk di teras membaca koran, membaui masakan tetangga kanan kiri, pengalaman pertama puasa bedug dengan siksaan aroma masakan tetangga, pengalaman pertama puppy love dengan teman sekolah dengan dag dig dug menunggunya lewat di depan rumah ketika pulang sekolah, berpoto berjamaah bersama tetangga atas jasa tukang foto keliling, dan berjuta kenangan indah lainnya. Saat ini, rumah ini secara hak milik masih milik kami, namun pihak pengontrak berniat membeli rumah tersebut. Sedikit dilemma memang, mempertahankan rumah tersebut sementara rumah besar saya saat ini juga hanya ditinggali 6 orang, melepasnya juga masih terasa berat. Biarlah, waktu nanti yang akan menentukan.

Mejeng di ruang tamu, saya nomor dua dari kiri bersama ibu dan kakak serta tetangga

Masih di ruang tamu, saya di pangkuan ibu

Denganb 'pacar pertama' tetangga depan rumah, diintip kakak dari korden

Diikutkan lomba Rumah Kenangan



29 comments:

  1. Pengennya mengulang saat-saat seperti dahulu. Tersenyum, tertawa bercanda dng sanak saudara.

    ReplyDelete
  2. Iya.... indahnya masa lalu... mesti pernah terasa pahit,saat dikenang yang ada hanya manis...

    ReplyDelete
  3. Iya, yang pahit-pahit dah lebur ke udara. ^^

    ReplyDelete
  4. Kecilmu cantik Lil... Kenapa gedenya ca'ur ya?

    ReplyDelete
  5. Nuk,
    our parents moved to Semarang in 1962, they bought the house in Bulu in 1970, so 8 years after

    ReplyDelete
  6. Cantik? Makasiih.. Mirip Zahra-mu ngga?

    ReplyDelete
  7. Ngitungku ki piye ya? hahaha... thanks, sis....

    ReplyDelete
  8. mbak lala imuuut...hihihi...
    btw knapa sih semua orang jualan makanan dipanggilnya 'lik', Lik Setu, Lik Muh, paklike pooo....? wkwk..

    ReplyDelete
  9. Hihihihi... Sampe sekarang kan juga masih imut? wkwkwkwk

    Entah ya, kenapa kok mereka dipanggil Lik semua. Padahal mereka juga tidak saling bersaudara satu sama lain. Hlo?! wkwkwkwk

    ReplyDelete
  10. numpang baca ya, salam kenal juga:)
    unik deh lihat foto jaman jadul gitu :)

    ReplyDelete
  11. banyak photo jadul :)
    makasih sudah partisipasi ya .... langsung locked

    ReplyDelete
  12. Silakan duduk
    Makasih sudah mampir

    ReplyDelete
  13. Trima kasih juga sudah boleh ikutan lomba

    ReplyDelete
  14. sama....asalku jg dr Gorontalo ^_^

    dah pernah pulkam ke gtlo ngga mb?

    ReplyDelete
  15. Wah, tadinya aku ngga pengen nulis tentang gorontalo, takut dihubungk2kan sama si briptu hehehe... Ternyata ada temen lain yang juga sama2 dari tanah Gorontalo ya

    Pernah berkunjung ke sana, waktu masih TK, tahun 70an deh

    ReplyDelete
  16. gorontalo? pantes aja namamu gak njawani blast :)

    ReplyDelete
  17. Wehehehe.... Yang penting bahasa tetep medok Jowooooooo....

    ReplyDelete
  18. Ananda..aku jg langganan..brama kumbara..aku jg ndengerin..aneka ria safari...wkwk..ga pnah kelewatan..eh, trnyt jmn kecil kita menikmati hal2 yg sama yah...brati aku sm jadulnya sm mb lala...ups! ;-p btw tipinya pake aki ndak-an?

    ReplyDelete
  19. hehehe... lucu... tnyata dr kecil udah pd naksir ;D

    ReplyDelete
  20. Hahaha... Senenangnya dapet komen dari sesama jaduler ...

    Kayaknya tipiku pake listrik deh, ngga pake aki. Sudah agak modern kayaknya

    ReplyDelete
  21. 'Dipkasa' naksir sebenarnya wehehe... Tuh, comblangnya lagi ngintip di balik korden

    ReplyDelete
  22. berasa masuk mesin waktu, mbayangin lewat depan rumahnya mbak Lala dulu...ckckck trus tiba2 inget, aku yo masih kumanan aneka ria safari, ria jenaka dan teman2nya...
    btw, fotone mbak...beneran vintage bukan hasil editan hihihi lucu ngliatnya :)

    ReplyDelete
  23. Potonya asli vintage dari sononya hahaha...

    Duuhh... senengnya ketemu sesama penonton Ria Jenaka wkwkwkwk

    ReplyDelete
  24. gelenggeleng pala lihat foto jadulnya.. apalagi foto terakhir.. berapa artis jaman itu ya..

    eh orang semarang toh..

    ReplyDelete
  25. Hahaha... Itu ngga cuma jadoel, tapi poto sudah mbladus... sotosop canggih sekalipun ngga bisa nyulap poto jadi kempling hihihi...

    Makasih ya, sudah mampir....

    ReplyDelete
  26. wahahahahahahaha...... speechless! what a great childhood moments

    ReplyDelete
  27. klo jadi jodoh pastilah itu foto yg sangat indah :)

    ReplyDelete
  28. hihihi... Jane pas ngalami yo akeh pahite, but, those turned to be memorable moments

    ReplyDelete
  29. sayangnya kok ngga yaa.. Hiks... he's married, I'm not (yet)

    ReplyDelete