Pages

Friday, May 25, 2012

LAPORAN PANDANGAN MATA GR SEMARANG

Mengingat sudah seminggu berlalu dari kopdar yang ke empat (buat saya), dan tak seorang pun yang berniat menulis laporan pandangan dari yang hadir, maka saya dengan suka rela menuliskan ini. Sumpah, menulis ini pada saat mood membaca saya sedang ada di puncak. Huufftt…

Oya, tadi saya bilang, ini adalah kopdar saya yang ke empat dengan para goodreader Semarang. Namanya juga anggota goodreads, ya setiap kopdar, selalu banjir buku. Hari Kamis, 17 Mei 2012, pukul 10 bertepatan dengan libur Nasional, kami kembali berjanji berkumpul. Kali ini kami memilih tempat di pintu belakang gerbang gedung gubernuran, seberang taman KB. Sementara tempat sebelumnya, kami sempat kopdar di gedung wanita, pada saat pameran buku, kemudian di perwil Semarang, yang ke tiga adalah kopdar tak niat. Gimana kok dibilang ngga niat? Karena kopdar yang sedianya akan digunakan untuk nobar film The Hunger Games, ternyata gagal. Meski demikian, transaksi pinjam meminjam tetap berjalan. Dari Cindy ke saya untk Tezar dan Wulan. Dari Tezar untuk saya dan Wulan, dan dari Wulan untuk saya. Lho, kok trafficnya brenti ke saya aja ya? Maklum, lagi kemaruk buku pinjaman hahaha…

Beberapa menit baru saja melewati jarum jam 10. Saya sudah tiba di tempat kopdar. Saya lihat Pra, yang didapuk sebagai ketua goodreads Semarang sudah tenang duduk di bangku tembok di dekat gerbang gedung gubernuran. Tangannya memegang satu buku, tapiiii tas punggungnya ternyata penuh dengan buku pesanan. Saya sendiri hanya membawa dua buku yang semuanya dalam status pengembalian. Dengan harapan membawa lebih banyak buku ke rumah wkwkwkwk.

Selang beberapa menit kemudian, sosok kurus bertopi berkacamata Tezar berjalan terhuyung huyung membawa tas yang sekilas mirip karung berisi buku. Rupanya dia sudah membawakan 4 buku pesanan saya: trilogy Bartimaeus dan Valharald. Horeeeee (meski judul terakhir belum tentu saya baca, karena sebenarnya awalnya saya ingin ikut lomba menulis review yang diadakan satu book publisher. Waktunya ngga cukuuuppp). Meski sudah berkumpul tiga anggota, tapi kami malah asyik merumpikan seorang teman yang heboh sebelum kedatangannya. Bingung dimana dan kapan kopdar akan diadakan. Dasaarrr.. padahal selama berbulan-bulan, kami berenam tak henti mengapdet inbox fb. Isinya? Buku tentu saja dan cela2an hahaha. Tentu saja termasuk kapan kopdar lagi dan lagi.

Transaksi pinjam meinjam benar2 berlangsung ketika Wulan datang dengan membawa satu tas jinjing dan tas cangklong. Dua buku pesanan saya dibawanya pula. Horeee lagiii. Dimsum Terakhir dan Life Traveler. Dan saya pun sudah mendapatkan 6 buku!!!! Itu saya tidak modal membawakan koleksi saya apapun (ihh… ngga modal malah bangga). Sedang hebohnya kami bertukar buku, tiba2 sebuah mobil berhenti di depan kami. Muncullah gadis berjilbab. Dengan malu2 bertanya, “Apa ini kopdar goodreads? Saya Nada.” Horeee lagi ada anggota baru nongol. Tak selang berapa lama, hape saya berbunyi. Ika, seorang rekan kerja saya yang saya rayu untuk ikut kumpul kopdar ternyata sudah berada di dekat lokasi, tapi bingung ke arah mana dia harus menuju. Saya jemputlah ia. Horeee… nambah lagi satu lagi anggota kopdar kali ini.

Sesi poto bersama dimulai  begitu Cindy muncul. Bintang utamanya sebenarnya bukan Cindy, melainkan dua tumpukan buku setinggi kira2 satu meter. Lol. Setelah sesi poto2, kami mulai membicarakan beberapa teman2 di goodreads, si tukang cari typo, si aki yang ngaku ngga hobi teenlit, dan tentu saja teman kami yang hingga hampir usainya kopdar tak kelihatan batang hidungnya. Echaaaaa….

Pukul 12 lebih sedikit, kami mulai membubarkan diri. Tas punggung saya yang awalnya berisi dua buku, mulai menyiksa punggung saya. 7 buku total ditambah dengan The Journey nya Gola Gong yang saya taksir di tempat. Addhuhh. Gunungan buku pinjaman di rumah semakin tinggi saja. Pra, sepertinya adalah sosok yang paling berbahagia, tas kosong melompong laris manis diserbu. Tezar, kembali berperan layaknya Sinterklas dengan karungnya, penuh buku. Tambah sempoyongan hahahaha…

Sekian LPM dari sayaa.. *unyil kucing, sampai jumpaaaa*

Wednesday, May 9, 2012

The Five People You Meet in Heaven

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Mitch Albom
“Orang-orang asing adalah keluarga yang belum kau kenal.” (hal. 54)

Pernahkah kita membayangkan apa yang akan kita temui setelah kematian menjemput kita? Dari agama yang saya anut, saya akan bertemu dengan malaikat yang memberi pertanyaan2, yang nantinya akan menentukan dimana nantinya kita berada. Di surga sebelah mana kita akan berdiam selama-lamanya. Tapi sebelum kita masuk ke surga dimana banyak orang sebut, dimanakah jiwa akan berada? Apakah kita tidak akan bertemu dengan mahluk lain selain malaikat? Bagaimana dengan ungkapan semoga kita bertemu di surga, di kehidupan yang akan datang?


Eddie Maintenance menemui ajalnya di tempat kerjanya yang sangat ia cintai. Ruby Pier adalah sebuah tempat hiburan dimana berbagai macam wahana permainan yang banyak menyedot kehadiran pengunjung, tua muda, laki perempuan. Berpuluh tahun ia menggantikan posisi ayahnya sebagai penanggung jawab maintenance, dan kerena itulah nama maintenance menempel pada Eddie. Ayahnya, seseorang yang ia ingat selalu berlaku kasar padanya, kepadanyalah Eddie menyimpan beribu pertanyaan dan dendam hingga sang ayah meninggal dunia.

Cerita mulai bergulir setelah kematian Eddie. Sesuai judulnya, ada 5 orang yang ditemui Eddie setelah ajalnya tiba. Tidak ada yang mengira bahwa pertemuan sekilas seseorang dengan seseorang yang lain adalah suatu kebetulan yang sudah terancang. … "bahwa setiap kehidupan mempengaruhi kehidupan berikutnya, dan kehidupan berikutnya mempengaruhi kehidupan berikutnya lagi, dan bahwa dunia ini penuh dengan kisah2 kehdiupan, dan semua kisah kehidupan itu adalah satu (hal. 202)". Dan tidak ada kehidupan dari seseorang yang sia2.

Kelima orang yang menemui Eddie di alam baka tidak semua orang2 yang perah dekat secara pribadi atau emosional dengan Eddie. Beberapa orang bahkan tak pernah dia kenal sebelumnya, atau paling tidak pernah ia jumpai sekali dalam hidupnya. Tak bisa diprediksi dimana dan siapa yang akan ditemui Eddie, dan justru kepada merekalah Eddie belajar mengenai apa yang pernah terjadi dan ia bawa mati segala pertanyaan yang ia simpan selama ini. Dendam dan rasa penasarannya pada ayahnya dijelaskan seseorang yang jauh dari bayangannya pernah mengenal dirinya dan juga ayahnya. “Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri.”(hal. 145)

Comments:
Terus terang, baru sekarang saya menemukan alur cerita macam begini. Jika hanya sekedar maju mundur sih sudah sering saya temukan, tapi yang setipe dengan tulisan Albom, baru buku setebal 208 ini saja. Oya, saya bukan tipikal penyuka buku2 spirit, motivasi ataupun buku masalah kejiwaan yang memang secara khusus membahas masalah kehidupan, tujuan hidup dan semacamnya. Tapi ternyata saya sangat suka dengan buku ini. Penyampaian message-nya lebih mengena dibandingkan jika saya secara khusus membaca buku yang membahas tema2 tersebut.

Terlepas dari segala agama apa yang melatarbelakangi buku ini, tapi saya pikir bisa jadi khayalan Mitch Albom adalah suatu ide utopia bagi para arwah yang masih penasaran dengan segala urusan dunia. Meski ada yang mengatakan, sudah putus urusan anak Adam begitu kematian tiba, kecuali 3 perkara, 1. Doa anak yang sholeh, 2, Amal jariyah, 3. dan ilmu yang bermanfaat.

Eddie sangat mencintai pekerjaan, dan ia sangat bertanggung jawab atas posisinya sebagai maintenance. Hidupnya harus berakhir ketika ia menyelamatkan jiwa gadis kecil, salah satu pengunjung taman hiburannya. Tuhan, tidak membedakan agama apa seseorang. Eddie, ataupun siapapun dia, tetap saja meninggalkan 3 perkara setelah kematiannya. Meski Eddie dan istrinya tidak memiliki anak, anak2 pengunjung taman hiburan sangat sayang padanya, disiplin yang tinggi menjaga seluruh mesin demi keselamatan para pengunjung menjadi amalnya sepenjang hidupnya, dan ilmu pengetahuan yang ia bagikan pada semua orang, tetap saja membawanya menuju surga yang ia pilih. Ruby Pier.