Sudah hampir satu jam aku duduk di kafe ini. Dan hampir setengah jam ini keasyikanku menulis blog terganggu dengan suara gadis di sebelah kananku. Letak mejanya tidak persis di sebelahku, sedikit menyerong ke depan sehingga sedikit sulit buat aku untuk melihat gadis yang ternyata berambut sebahu itu. Tangan kanannya menempel di telinga kanannya. Mulutnya tak henti bergumam sesekali diselingi suara cekikikan khas gadis belia. Agak nyaring tapi terkadang terdengar genit.
Kucoba kembali konsentrasi dengan tulisan di laptopku. Tulisan ini harus selesai malam ini untuk kukirim ke lomba penulisan blog malam ini juga. Begitu mataku kembali menatap layar laptop, kembali suara cekikikan itu terdengar. Lebih nyaring malah. Kuedarkan pandanganku di ruangan kafe ini. Terlihat pasangan muda-mudi yang duduk mojok sedikit melotot ke arah gadis di meja sebelah. Kugeser sedikit pandangan mataku ke meja di depannya. Pandangan kesal juga dilayangkan ke arah gadis ini oleh seorang wanita yang duduk dengan novel di tangannya. Kukembalikan pandanganku ke arah gadis ini. Tangan kirinya sekarang yang menempel di telinga kirinya. Pegal juga tangannya memegang hape. Terlintas dalam pikiranku kenapa dia tidak memakai hands free saja agar lebih nyaman ngobrol berjam-jam di telepon?
Ketika pandangan kukembalikan ke gadis itu, tangan kirinya masih menempel di telinga kirinya. Kaki kirinya yang sedari tadi bertumpu di kaki kanannya mulai diturunkan. Dia berdiri sambil sedikit meluruskan badan. Ide usil muncul secara tiba-tiba di kepalaku. Secara sembarangan kulemparkan sendok kopi ke bawah kaki mejanya. Reflex dia membungkuk dan meraih sendok itu dengan kirinya. Sedikit terperanjat kuperhatikan tangannya yang sedari tadi memegang telepon. Tak ada telepon disana. Kuterima sendok kopi dengan kikuk. Dia menggumam tidak jelas kemudian melenggang. Dia berjalan lurus ke pintu dengan tawa cekikikannya yang selama setengah jam ini mengusikku. Meski tak ada lagi tangan yang menempel di telinga kanan atau kirinya.
No comments:
Post a Comment