Pages

Wednesday, September 28, 2011

Tergantikan (Cerpen)

Peamandangan di depanku setiap pagi adalah ritual yang selalu sama. Anak istriku berlomba saling memandikan satu sama selain; suatu ritual yang dimulai semenjak Rere berusia 3 tahun. Sering kali kutegur keduanya untuk mulai memulai privasi masing-masing, terutama untuk istriku. Rere, pria kecilku selalu menyukai memandikan mamanya, meski tidak memandikan dengan arti sesungguhnya. Dia hanya mencipratkan air ke tubuh mamanya yang sering kali menjerit kecil tiap kali air dingin menyentuh tubuhnya. Teguranku hanya berakhir dengan lirikan santai  istriku dan celotehan cedal putraku.

Ritual selanjutnya adalah makan bersama. Sarapan oatmeal kesukaan mereka berdua selalu diwarnai dengan saling menyuap satu sama lain. Ceceran buliran oatmeal adalah anugrah bagi Piko, anjing pudel kesayangan keluarga. Lidahnya tak henti menjilat lantai dimana ceceran oatmeal itu jatuh. Beberapa kali teguranku melayang kepada mereka berdua, yang kudapatkan masih saja senyum dari mereka.

Hari ini istri dan anakku pulang cepat. Tidak biasanya mereka melakukan hal diluar kebiasaan. Kudengar suara pintu mobil di halaman menutup. Tamu spesialkah yang datang sehingga mereka harus menyambut kedatangannya. Seorang WNI keturunan berjalan bergandengan tangan dengan istri dan anakku. Dadaku terasa panas. Kutatap wajah ceria istriku yang menatapku sendu. Dengan perlahan dia meraihku. Pria itu dan anakku juga menatapku sambil menganggukkan kepala. Diriku melayang di tangan istriku dan mendarat di meja pemujaan. Mereka berdiri takzim, berdoa dengan hio-swa di tangan, meletakkannya di guci di depanku.

“Koh, saya menemukan penggantimu. Saya mohon berikan ijinmu,’ suara lirih istriku serasa menggelegar di telingaku. 

Di Sebuah Kafe (Sebuah Cerpen)

Sudah hampir satu jam aku duduk di kafe ini. Dan hampir setengah jam ini keasyikanku menulis blog terganggu dengan suara gadis di sebelah kananku. Letak mejanya tidak persis di sebelahku, sedikit menyerong ke depan sehingga sedikit sulit buat aku untuk melihat gadis yang ternyata berambut sebahu itu. Tangan kanannya menempel di telinga kanannya. Mulutnya tak henti bergumam sesekali diselingi suara cekikikan khas gadis belia. Agak nyaring tapi terkadang terdengar genit.

Kucoba kembali konsentrasi dengan tulisan di laptopku. Tulisan ini harus selesai malam ini untuk kukirim ke lomba penulisan blog malam ini juga. Begitu mataku kembali menatap layar laptop, kembali suara cekikikan itu terdengar. Lebih nyaring malah. Kuedarkan pandanganku di ruangan kafe ini. Terlihat pasangan muda-mudi yang duduk mojok sedikit melotot ke arah gadis di meja sebelah. Kugeser sedikit pandangan mataku ke meja di depannya. Pandangan kesal juga dilayangkan ke arah gadis ini oleh seorang wanita yang duduk dengan novel di tangannya. Kukembalikan pandanganku ke arah gadis ini. Tangan kirinya sekarang yang menempel di telinga kirinya.  Pegal juga tangannya memegang hape. Terlintas dalam pikiranku kenapa dia tidak memakai hands free saja agar lebih nyaman ngobrol berjam-jam di telepon?

Ketika pandangan kukembalikan ke gadis itu, tangan kirinya masih menempel di telinga kirinya. Kaki kirinya yang sedari tadi bertumpu di kaki kanannya mulai diturunkan. Dia berdiri sambil sedikit meluruskan badan. Ide usil muncul secara tiba-tiba di kepalaku. Secara sembarangan kulemparkan sendok kopi ke bawah kaki mejanya. Reflex dia membungkuk dan meraih sendok itu dengan kirinya. Sedikit terperanjat kuperhatikan tangannya yang sedari tadi memegang telepon. Tak ada telepon disana. Kuterima sendok kopi dengan kikuk. Dia menggumam tidak jelas kemudian melenggang. Dia berjalan lurus ke pintu dengan tawa cekikikannya yang selama setengah jam ini mengusikku. Meski tak ada lagi tangan yang menempel di telinga kanan atau kirinya.

 

Saturday, September 24, 2011

(Rumah Kenangan) Segala Hiburan Murah Meriah

Rumah ini dibeli orangtua saya sekitar tahun 1970an. Dua kakak saya tidak lahir di rumah ini, melainkan di rumah kontrakan. Rumah ini adalah rumah hak milik pertama orangtua saya setelah sekitar 12 tahun merantau di tanah Jawa. Oya, bapak ibu  saya asli orang Gorontalo, Sulawesi Utara. Di Semarang mereka merantau, tanpa ada saudara dekat maupun teman dekat yang menyertai. Namun, dari rumah inilah, kami sekeluarga menemukan keluarga baru di kanan kiri rumah. Di rumah inilah saya dan adik perempuan saya lahir dan mengukir banyak kenangan, dengan saudara-saudara baru.

Rumah yang terletak di Semarang Barat ini tidak besar, hanya terdapat dua kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan kamar tamu dimana disitu diletakkan satu tempat tidur untuk kakak laki2 saya yang terkadang berfungsi juga untuk tempat tidur tamu jika sepupu saya berlibur dari Gontor. Posisi rumah ini cukup strategis dilihat dari berbagai fasilitas publik yang ada: madrasah dimana saya dan 2 kakak saya habiskan masa SD, pasar Bulu yang lengkap, rumah sakit umum, dll. Belum lagi warung-warung yang tersebar di sepanjang rumah2 tetangga karena jaraknya yang dekat dengan madrasah. Sebut saja Bakso Lik Setu, martabak Lik Muh, bakmi Jowo, warung jajan Lik Temu yang lengkap, macam kolak, berbagai macam bubur, pecel, rujak, tempe/ tahu/ tempe bacem, jamu tradisional lengkap dengan rumah usahanya (saya sering mencari kecik untuk bermain dakonan di sampah jamu ini. Jorok ya). Banyak teman sebaya yang menemani saya kesana kemari brmain pasaran. Sering kali kami mencari bahan-bahan pasaran ini lintas kampung, termasuk dikejar-kejar pemilik kebun dimana kami sering mencuri buah-buahan yang belum masak. Hahaha…

Jarak rumah yang sangat dekat sekolah memungkinkan teman-teman saya dan 2 kakak saya untuk bermain ke rumah. Berbagai macam majalah langganan keluarga seperti Bobo, Tomtom dan Ananda menjadikan rumah saya layaknya perpustakaan. Ditambah koleksi buku Album Cerita Ternama menambah lengkap koleksi buku di rumah. Banyak teman-teman kakak saya nyaman dari duduk selonjor hingga tengkurap malang melintang membaca majalah di ruang tamu. Ritual membaca ini diwarnai juga dengan menyimak sandiwara radio bersama. Sebut saja Jaka Dilaga, Brama Kumbara, dan lainnya. Gelombang radio yang terkadang putus nyambung membuat kepala-kepala kami seolah beradu di depan corong radio.

Sekitar tahun 70-80an, televisi adalah barang yang sangat mewah. Pada waktu itu bapak saya cukup beruntung bisa membeli televisi hitam putih ukuran 14 inchi. Tak heran, setiap kali acara menarik dari TVRI seperti film Minggu siang, Aneka Ria Safari hingga Film Akhir Pekan yang sering menayangkan cerita-cerita horor, posisi televisi yang biasa diletakkan di kamar bapak saya, harus digotong ke ruang tamu. Banyak tetangga kanan kiri yang mencari hiburan dengan menonton televisi di rumah. Bisa dibayangkan, ruang tamu mungil itu penuh dengan penonton yang duduk di kursi hingga duduk berselonjor di lantai. Bahkan ada yang rela menonton dari balik jendela.

Dengan 4 anak yang masih kecil-kecil, rumah mungil ini cukup menampung kami berenam. Yang sedikit lucu adalah bapak ibu saya tidur di tempat terpisah. Bapak saya yang tidak bisa tidur dengan secercah cahaya, berbalik 180 derajat dari ibu saya yang merasa sesak begitu lampu padam. Jadi, bapak saya menempati kamar sendiri, sementara ibu saya menempati satu kamar dengan saya, kakak perempuan saya dan adik saya yang waktu itu masih tidur di boks bayi. Tempat tidur bertingkat adalah tempat tidur kami bertiga tidur, saya, ibu saya dan kakak perempuan saya. Terkadang kakak laki-laki saya terpaksa mengungsi di tempat tidur atas ketika tempat tidurnya harus diisi tamu. Yang aneh, tiap kali saya ikutan tidur di atas, dalam jangka 2 hari saja, kepala saya penuh dengan borok. Hiiiiiiiiii…. Sementara kakak saya aman-aman saja.

Kami menempati rumah ini hingga tahun 1981. Karena anak2 yang semakin besar dan membutuhkan kamar pribadi yang lebih besar, maka kami pindah ke rumah yang lebih besar. Rumah mungil penuh kenangan itu akhirnya kami kontrakkan. Sesekali saya dan ibu saya dulu mampir ke rumah tersebut sekedar bersilaturahmi dengan tetangga terutama menjelang dan seusai Lebaran. Terkadang saya pribadi melintas di rumah yang sedikit ada perubahan di bagian terasnya. Terbayang kenangan pertama belajar mengaji di ruang tamu, almarhum ayah saya yang duduk di teras membaca koran, membaui masakan tetangga kanan kiri, pengalaman pertama puasa bedug dengan siksaan aroma masakan tetangga, pengalaman pertama puppy love dengan teman sekolah dengan dag dig dug menunggunya lewat di depan rumah ketika pulang sekolah, berpoto berjamaah bersama tetangga atas jasa tukang foto keliling, dan berjuta kenangan indah lainnya. Saat ini, rumah ini secara hak milik masih milik kami, namun pihak pengontrak berniat membeli rumah tersebut. Sedikit dilemma memang, mempertahankan rumah tersebut sementara rumah besar saya saat ini juga hanya ditinggali 6 orang, melepasnya juga masih terasa berat. Biarlah, waktu nanti yang akan menentukan.

Mejeng di ruang tamu, saya nomor dua dari kiri bersama ibu dan kakak serta tetangga

Masih di ruang tamu, saya di pangkuan ibu

Denganb 'pacar pertama' tetangga depan rumah, diintip kakak dari korden

Diikutkan lomba Rumah Kenangan



Monday, September 19, 2011

Danny The Champion of The World

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Roald Dahl

Bagaimanakah memiliki anak2 yang bisa menjadi juara? Dengan memberinya instruksi ini itu, mengikutkannya ke berbagai macam kursus ketrampilan atau dengan menunjukkan foto2 orang besar di dunia? Danny tak butuh semua itu. Danny hanya membutuhkan sosok ayah yang mendukungnya dan menjadi sosok panutan untuk menjadi juara.

Novel karya Roald Dahl ini sudah menjadi idaman saya sejak lama. Sempat membaca sebelumnya di PDA saya dulu yang kemudian harus almarhum karena rusak, akhirnya tuntas juga novel setebal 81 halaman ini dengan ebook reader saya yang baru. Halah hahahaha… Cerita terfokus hanya pada sosok Danny dan ayahnya, William, ayah yang hangat dan ramah. Keramahan seorang ayah tak perlu ditunjukkan dengan banyak senyum, melainkan dengan mata yang selalu bersinar setiap kali memandang putra tercinta. I was so lucky to have a father who has a smile on his eyes, begitu Danny merasa sangat bersyukur atas ayahnya.
Dibesarkan tanpa kehadiran ibu tidak membuat Danny merindukan sosok ibu. Ayahnya sudah berperan ganda untuk mengasuhnya. Mulai dari memandikannya ketika masih balita, mengantarnya sekolah ketika is berusia 7 tahun, mendongenginya tentang raksasa penangkap mimpi2 indah dan membagikannya kepada anak2 lain, hingga melibatkannya ke pengalaman masa kecil ayahnya, mencuri ayam di halaman tetangga! Bahkan, William yang memiliki bengkel mobil sering membiarkan Danny bermain dan membantu pekerjaan bengkelnya. Usia 9 tahuan Danny sudah mampu membongkar dan memasang kembali mesin secara sederhana bahkan menyetir Baby Austin dalam angka menyelamatkan ayahnya

Comments

Membaca novel ini jadi membuat saya sedikit iri dengan Danny yang memiliki ayah yang begitu dekat dengan anaknya. Bukan berarti ayah saya dulu semasa hidupnya tidak memperhatikan anak2nya, hanya kedekatan itu yang membuat saya membayangkan jika ayah saya masih hidup, apakah saya bisa sedekat itu? Tidur dengan menyelipkan jari2 satu sama lain membuat hati terasa hangat ketika membacanya. Komedi khas Roald Dahl terselip disana sini sepanjang novel yang terkadang membuat saya geleng2 kepala. Sedikit sadis tapi cukup setimpal untuk kejahatan yang dilakukan. Contohnya saja adegan ketika Doctor Spencer yang sakit hati melihat anjingnya ditendang oleh Hazell, juragan ayam. Dengan sepenuh sadar Doctor Spencer memberinya suntikan ke Hazell ketika ia sakit dengan jarum yang sengaja ditumpulkan. Wkwkwkwkwk… sadis tapi setimpal dengan kejahatan Hazell. Karya2 Roald Dahl baik anak2 ataupun dewasa sering menyelipkan hal2 semacam ini, menunjukkan betapa manusia itu mempunyai sisi sadis yang bisa disalurkan di saat2 tertentu.

Oya, untuk para guru, novel ini menyuguhkan banyak sekali deskripsi detil tentang caravan dimana Danny dan ayahnya tinggal, kondisi bengkel, tetangga yang baik dan yang jahatm dan tentu saja sosok detil seorang ayah. Boleh untuk contoh menulis tentang deskripsi dengan bahasa yang sederhana dalam pelajaran writing description hehehe. Selain itu juga bagus untuk menyelami anak2 didik yang sering mempunyai kehendak aneh2. Pesan utama novel ini sebenarnya adalah untuk menjadi orangtua, tak perlu menjadi serius, banyak aturan yang akan membuat si anak bosan bahkan melawan. Jadilah orangtua yang SPARKY untuk membuat anak menjadi JUARA.

Sunday, September 4, 2011

THE IMMORTAL LIFE OF HENRIETTA LACKS

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Rebecca Skloot
At the beginning of reading the title of the novel, I thought it’s something about the life of vampires, Dracula, werewolves and kinds of that. But then I dropped down the thought at the first paper (or page? since I read it from ebook). It’s all about the life of an amazing, friendly, kind colored-woman (frankly I always get shivered every time the word ‘color’ is repeated in all pages in the novel. It might show how bad white people treated them) who lived to her fullest. The author of the novel Rebecca Skloot-who is white, did series of investigations about Henrietta Lacks whose cells have been beneficial to medical department
.
The novel is divided into 3 parts, Life, Death and Immortality. Rebecca tried to dig information from people who used to live with Hennie (how her family called Henrietta), who knew her well and (supposed to) thank her for her amazing cells that survive. It’s not a piece of cake for Rebecca to get information from people who once were skeptical about her intention.

Honestly, I haven’t finished reading the novel but the urge of sharing the novel is so big that I can’t bear not to write it down. For your information, I’m not from medical department, and I’m not a really big fan of true story book. But I’m a kind of fantasy book freak, but I can’t resist reading the book even in the middle of reading Egyptian mythology based=novel by Rick Riordan, The Kane Chronicles. However, the 2010 released novel is really page turning. I’m positive.