Rumah ini dibeli orangtua saya sekitar tahun 1970an. Dua kakak saya tidak lahir di rumah ini, melainkan di rumah kontrakan. Rumah ini adalah rumah hak milik pertama orangtua saya setelah sekitar 12 tahun merantau di tanah Jawa. Oya, bapak ibu saya asli orang Gorontalo, Sulawesi Utara. Di Semarang mereka merantau, tanpa ada saudara dekat maupun teman dekat yang menyertai. Namun, dari rumah inilah, kami sekeluarga menemukan keluarga baru di kanan kiri rumah. Di rumah inilah saya dan adik perempuan saya lahir dan mengukir banyak kenangan, dengan saudara-saudara baru. Rumah yang terletak di Semarang Barat ini tidak besar, hanya terdapat dua kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan kamar tamu dimana disitu diletakkan satu tempat tidur untuk kakak laki2 saya yang terkadang berfungsi juga untuk tempat tidur tamu jika sepupu saya berlibur dari Gontor. Posisi rumah ini cukup strategis dilihat dari berbagai fasilitas publik yang ada: madrasah dimana saya dan 2 kakak saya habiskan masa SD, pasar Bulu yang lengkap, rumah sakit umum, dll. Belum lagi warung-warung yang tersebar di sepanjang rumah2 tetangga karena jaraknya yang dekat dengan madrasah. Sebut saja Bakso Lik Setu, martabak Lik Muh, bakmi Jowo, warung jajan Lik Temu yang lengkap, macam kolak, berbagai macam bubur, pecel, rujak, tempe/ tahu/ tempe bacem, jamu tradisional lengkap dengan rumah usahanya (saya sering mencari kecik untuk bermain dakonan di sampah jamu ini. Jorok ya). Banyak teman sebaya yang menemani saya kesana kemari brmain pasaran. Sering kali kami mencari bahan-bahan pasaran ini lintas kampung, termasuk dikejar-kejar pemilik kebun dimana kami sering mencuri buah-buahan yang belum masak. Hahaha…
Jarak rumah yang sangat dekat sekolah memungkinkan teman-teman saya dan 2 kakak saya untuk bermain ke rumah. Berbagai macam majalah langganan keluarga seperti Bobo, Tomtom dan Ananda menjadikan rumah saya layaknya perpustakaan. Ditambah koleksi buku Album Cerita Ternama menambah lengkap koleksi buku di rumah. Banyak teman-teman kakak saya nyaman dari duduk selonjor hingga tengkurap malang melintang membaca majalah di ruang tamu. Ritual membaca ini diwarnai juga dengan menyimak sandiwara radio bersama. Sebut saja Jaka Dilaga, Brama Kumbara, dan lainnya. Gelombang radio yang terkadang putus nyambung membuat kepala-kepala kami seolah beradu di depan corong radio.
Sekitar tahun 70-80an, televisi adalah barang yang sangat mewah. Pada waktu itu bapak saya cukup beruntung bisa membeli televisi hitam putih ukuran 14 inchi. Tak heran, setiap kali acara menarik dari TVRI seperti film Minggu siang, Aneka Ria Safari hingga Film Akhir Pekan yang sering menayangkan cerita-cerita horor, posisi televisi yang biasa diletakkan di kamar bapak saya, harus digotong ke ruang tamu. Banyak tetangga kanan kiri yang mencari hiburan dengan menonton televisi di rumah. Bisa dibayangkan, ruang tamu mungil itu penuh dengan penonton yang duduk di kursi hingga duduk berselonjor di lantai. Bahkan ada yang rela menonton dari balik jendela.
Dengan 4 anak yang masih kecil-kecil, rumah mungil ini cukup menampung kami berenam. Yang sedikit lucu adalah bapak ibu saya tidur di tempat terpisah. Bapak saya yang tidak bisa tidur dengan secercah cahaya, berbalik 180 derajat dari ibu saya yang merasa sesak begitu lampu padam. Jadi, bapak saya menempati kamar sendiri, sementara ibu saya menempati satu kamar dengan saya, kakak perempuan saya dan adik saya yang waktu itu masih tidur di boks bayi. Tempat tidur bertingkat adalah tempat tidur kami bertiga tidur, saya, ibu saya dan kakak perempuan saya. Terkadang kakak laki-laki saya terpaksa mengungsi di tempat tidur atas ketika tempat tidurnya harus diisi tamu. Yang aneh, tiap kali saya ikutan tidur di atas, dalam jangka 2 hari saja, kepala saya penuh dengan borok. Hiiiiiiiiii…. Sementara kakak saya aman-aman saja.
Kami menempati rumah ini hingga tahun 1981. Karena anak2 yang semakin besar dan membutuhkan kamar pribadi yang lebih besar, maka kami pindah ke rumah yang lebih besar. Rumah mungil penuh kenangan itu akhirnya kami kontrakkan. Sesekali saya dan ibu saya dulu mampir ke rumah tersebut sekedar bersilaturahmi dengan tetangga terutama menjelang dan seusai Lebaran. Terkadang saya pribadi melintas di rumah yang sedikit ada perubahan di bagian terasnya. Terbayang kenangan pertama belajar mengaji di ruang tamu, almarhum ayah saya yang duduk di teras membaca koran, membaui masakan tetangga kanan kiri, pengalaman pertama puasa bedug dengan siksaan aroma masakan tetangga, pengalaman pertama puppy love dengan teman sekolah dengan dag dig dug menunggunya lewat di depan rumah ketika pulang sekolah, berpoto berjamaah bersama tetangga atas jasa tukang foto keliling, dan berjuta kenangan indah lainnya. Saat ini, rumah ini secara hak milik masih milik kami, namun pihak pengontrak berniat membeli rumah tersebut. Sedikit dilemma memang, mempertahankan rumah tersebut sementara rumah besar saya saat ini juga hanya ditinggali 6 orang, melepasnya juga masih terasa berat. Biarlah, waktu nanti yang akan menentukan.