Ini adalah mainan baru saya, sekaligus
gengsi (cieee…) dan juga gangguan syaitan nir rojim. Ini adalah hape idaman
saya mungkin sekitar setahun lalu, ketika harga masih seputar 4,5 jeti. Dengan
sabaar, saya menunggu grafik turunnya harga dari minggu ke minggu. Tak bosan
saya mengintip tabloid cellular phone and situs2 pemyedia info harga hape
idaman ini. Akhirnya…. Jeng jeng….dengan mengusap darah yang mengalir di
celengan saya, maka tercapailah cita cita saya memiliki hape ini.
Alhamdulillah. Puaskah saya? Ppppuaassss….ttttappp…tapiii…..
PLUSES
Baiklah saya mulai dengan pluses yang ada
di hape ini.
1.
Operating System atau OS hape
dengan layar 4,2 inchi ini masih memakai Android versi 2.3.4 gingerbread, untuk
pembelian jaman sekarang dimana OS sudah melesat ke buncis jelly alias
jellybean, gingerbread ini termasuk kuno. Etapi, meski kuno, kalo dibandingkan
dengan symbian anna dari Nokia C7 yang saya miliki sebelumnya, gingerbread ini
sudah luar biasa. Semua aplikasi yang saya inginkan dari info ponakan saya yang
memegang Sony Ericsson X8, bisa saya unduh.
2.
Camera yang dipasang sebenarnya
sama dengan hape sebelumnya, 8 MP, tapi ternyata 8 MP milik Sony selalu
istimewa. Apa karena hati saya memang menghadap ke Jepang instead of Findland
ya? Hahaha… tapi demikianlah. Dengan fasilitas 3D, panorama swap, saya bisa
memotret pemandangan dengan memanjang. Sayangnya, tangan saya selalu tremor
tiap memotret dengan feature ini. Ngga bisa menahan guncangan. Hasilnya, album
3D yang disediakan hape, masih kosong.
3.
Layar selebar 4,2 inchi ini dilengkapi dengan
Sony mobile Bravia engine. Segala image dan video terlihat juerniihh. Apalagi
menonton youtube online dengan bantuan wifi, wuusss….tak ada blur sama sekali.
Beda banget dengan …. Ah, no offense buat pecinta hape yang sekarang switch OS
nya ke windows phone instead of symbian.
4.
Predictive text. Sebenarnya
dari pertama kali saya memiliki Sony ericsson, seingat saya, predictive text
adalah keunggulan dari Soner. Bagi sebagian orang, ini mungkin menganggu, tapi
selama si hape mau mengenal dan menghapal bahasa selain English, saya akan
memujanya. Tsaahh…. Semula sih sedikit terganggu, tapi semakin sering saya
mengetik menggunakan bahasa prokem saya sendiri, perlahan, si Arc S ini mau
juga kenal. Jadilah, hape keren ini jadi hape yang mengenal banyak bahasa:
international vocabulary, plus bahasa Jawa and singkatan maksa dari pemiliknya
hehehe. Semakin nyaman mengetik karena keyboard yang asik juga, tak perlu buat
saya me-landscape-kan hape ketika mengetik. Beberapa orang sering menggunakan
dua jempolnya ketika mengetik, saya cukup mengetik seolah memakai keyboard
numeric, satu jempol berkat bantuan predictive word yang semakin banyak ia
kenal.
5.
Flash player 11 ke atas secara
langsung telah terinstall. Semula, saya sedikit bingung dengan perbedaan antara
HTML dengan adobe flash dan HTML 5 plus adobe flash. Inilah yang menjadi salah
satu pertimbangan saya sebelum membeli hape ini. Saya menonton video tag dari
seorang teman tanpa harus masuk ke youtube. Whoa, keren!!! #katrokyasaya…
6.
Applications are what I need.
Semula saya sedikit ngiri dengan postingan Instagram dari seorang teman.
Sekarang, saya mempunyai ‘gallery’ pribadi di situs unggah foto popular ini. Selain
instagram, game tebak lagu songpop juga enak sekali saya install disini. Radio
internet dengan situs www.sky.fm yang selama
ini hanya bisa saya dengar di laptop, bisa saya dengarkan dimana saja, dengan
menguras pulsa tentu saja wkwkwkwk…
7.
Dulu, saya sempat suudzon bahwa
Android terkadang bermasalah pada urusan aplikasi di luar market, tetapi
ternyata itu tergantung pada setting aplikasi yang kita set sendiri. Si Archie
ini mau dengan segala apa software di luar market, asalkan cocok saja. Game Cut
The Rope yang seharusnya bayar berapa dollar, bisa saya install tanpa bayar
hihihi. Office yang tersedia sebenaarnya adalah sekedar document viewer,
untunglah, apk dari luar mulus saya install disini juga.
Biar fair, mari saya imbangi dengan deretan
minuses yang terkadang bikin saya gondok juga sesekali…
1.
Internal Memory. Kalo saja
sejak awal saya tau bahwa ini akan sangat membuat saya kesal, saya mungkin akan
membuat berdarah darah lagi celengan saya. Bayangkan saja, dengan 380an MB,
berapa banyak aplikasi bisa saya install disini, sementara saya grayak begini
#ngaku. Peringatan dari hape seputar low space sering membuat saya gondok. #nahangemeletukgigi…
okelah, External memory memang cukup besar 8MB, tapi tetap saja semua aplikasi
akan memakan ruang dalam internal memory yang hanya secuil itu.
2.
HDMI port. Ini mungkin adalah
karma saya yang sudah memecat Nokia C7 saya dulu karena kekecawaan saya tidak
bisa menemukan kabel TV out, hal pertama yang membuat saya ingin segera membeli
dan sekaligus membuat saya kecewa luar biasa. Rupanya, kabel jenis ini cukup
mudah dicari, tapiiiii hanya untuk layar LCD TV. Lha trus, apa dong mau saya?
Saya maunya port ini bisa untuk LCD projector. Sebagai guru, saya ingin simple,
dengan hanya plug and show, tanpa perlu repot membawa laptop. Dan kenapa saya tidak membeli tablet saja,
hmmm…. Saya cinta dengan Sony, sementara tablet buatan Sony tak terjangkau
celengan saya, first reason, kemudian, second reason, saya tak mungkin membawa bawa tablet ketika
saya ikut fun bike atau bersepeda sana sini untuk mencatat sport tracker (narsis
ya? Ihik)… eh, kembali ke HDMI port ya, saya sudah nyari baik lewat situs
maupun toko2 komputer, hanya jawaban gelengan kepala yang saya dapatkan.
Sementara TV di ruang kelas dan rumah, adalah jenis TV juadul. #nguapgarukgaruk…
3.
Compatibility. Entah computer
saya di rumah atau canggihnya OS si Archie ini hingga computer di rumah ngga
mau baca ketika saya sambungkan hape ini. Untunglah, laptop saya mau kenal.
Ngga kebayang kalo ngga…. Kebayang ribetnya jika nanti saya kudu mengetik
document di hape dan segera harus di print. Computer kantor yang jadul, mana
mau membaca smartphone sombong ini? Hadheh…
Well, setelah
saya pikir2, baru tiga minuses itu saja yang saya temukan setelah kurang lebih
2 bulan pemakaian. Apakah ke depannya saya bakal menemukan minus nya si Archie,
mungkin saja. Setidaknya, tulisan ngalor ngidul saya ini bisa jadi acuan buat
yang akan membeli hape baru, meski bukan terbitan Sony, tapi paling tidak
banyak banyaklah mencari info seputar hape yang diidamkan, hingga tak perlu
menulis minuses seperti saya ini. Etapi, nothing is perfect ya? manusia aja
banyak sesatnya hahaha…
No comments:
Post a Comment