Pages

Sunday, October 21, 2012

Sony Ericsson Xperia Arc S



Ini adalah mainan baru saya, sekaligus gengsi (cieee…) dan juga gangguan syaitan nir rojim. Ini adalah hape idaman saya mungkin sekitar setahun lalu, ketika harga masih seputar 4,5 jeti. Dengan sabaar, saya menunggu grafik turunnya harga dari minggu ke minggu. Tak bosan saya mengintip tabloid cellular phone and situs2 pemyedia info harga hape idaman ini. Akhirnya…. Jeng jeng….dengan mengusap darah yang mengalir di celengan saya, maka tercapailah cita cita saya memiliki hape ini. Alhamdulillah. Puaskah saya? Ppppuaassss….ttttappp…tapiii…..

PLUSES

Baiklah saya mulai dengan pluses yang ada di hape ini.

1.       Operating System atau OS hape dengan layar 4,2 inchi ini masih memakai Android versi 2.3.4 gingerbread, untuk pembelian jaman sekarang dimana OS sudah melesat ke buncis jelly alias jellybean, gingerbread ini termasuk kuno. Etapi, meski kuno, kalo dibandingkan dengan symbian anna dari Nokia C7 yang saya miliki sebelumnya, gingerbread ini sudah luar biasa. Semua aplikasi yang saya inginkan dari info ponakan saya yang memegang Sony Ericsson X8, bisa saya unduh.

2.       Camera yang dipasang sebenarnya sama dengan hape sebelumnya, 8 MP, tapi ternyata 8 MP milik Sony selalu istimewa. Apa karena hati saya memang menghadap ke Jepang instead of Findland ya? Hahaha… tapi demikianlah. Dengan fasilitas 3D, panorama swap, saya bisa memotret pemandangan dengan memanjang. Sayangnya, tangan saya selalu tremor tiap memotret dengan feature ini. Ngga bisa menahan guncangan. Hasilnya, album 3D yang disediakan hape, masih kosong.

3.        Layar selebar 4,2 inchi ini dilengkapi dengan Sony mobile Bravia engine. Segala image dan video terlihat juerniihh. Apalagi menonton youtube online dengan bantuan wifi, wuusss….tak ada blur sama sekali. Beda banget dengan …. Ah, no offense buat pecinta hape yang sekarang switch OS nya ke windows phone instead of symbian.

4.       Predictive text. Sebenarnya dari pertama kali saya memiliki Sony ericsson, seingat saya, predictive text adalah keunggulan dari Soner. Bagi sebagian orang, ini mungkin menganggu, tapi selama si hape mau mengenal dan menghapal bahasa selain English, saya akan memujanya. Tsaahh…. Semula sih sedikit terganggu, tapi semakin sering saya mengetik menggunakan bahasa prokem saya sendiri, perlahan, si Arc S ini mau juga kenal. Jadilah, hape keren ini jadi hape yang mengenal banyak bahasa: international vocabulary, plus bahasa Jawa and singkatan maksa dari pemiliknya hehehe. Semakin nyaman mengetik karena keyboard yang asik juga, tak perlu buat saya me-landscape-kan hape ketika mengetik. Beberapa orang sering menggunakan dua jempolnya ketika mengetik, saya cukup mengetik seolah memakai keyboard numeric, satu jempol berkat bantuan predictive word yang semakin banyak ia kenal.
5.       Flash player 11 ke atas secara langsung telah terinstall. Semula, saya sedikit bingung dengan perbedaan antara HTML dengan adobe flash dan HTML 5 plus adobe flash. Inilah yang menjadi salah satu pertimbangan saya sebelum membeli hape ini. Saya menonton video tag dari seorang teman tanpa harus masuk ke youtube. Whoa, keren!!! #katrokyasaya…

6.       Applications are what I need. Semula saya sedikit ngiri dengan postingan Instagram dari seorang teman. Sekarang, saya mempunyai ‘gallery’ pribadi di situs unggah foto popular ini. Selain instagram, game tebak lagu songpop juga enak sekali saya install disini. Radio internet dengan situs www.sky.fm yang selama ini hanya bisa saya dengar di laptop, bisa saya dengarkan dimana saja, dengan menguras pulsa tentu saja wkwkwkwk…

7.       Dulu, saya sempat suudzon bahwa Android terkadang bermasalah pada urusan aplikasi di luar market, tetapi ternyata itu tergantung pada setting aplikasi yang kita set sendiri. Si Archie ini mau dengan segala apa software di luar market, asalkan cocok saja. Game Cut The Rope yang seharusnya bayar berapa dollar, bisa saya install tanpa bayar hihihi. Office yang tersedia sebenaarnya adalah sekedar document viewer, untunglah, apk dari luar mulus saya install disini juga.

Biar fair, mari saya imbangi dengan deretan minuses yang terkadang bikin saya gondok juga sesekali…

1.       Internal Memory. Kalo saja sejak awal saya tau bahwa ini akan sangat membuat saya kesal, saya mungkin akan membuat berdarah darah lagi celengan saya. Bayangkan saja, dengan 380an MB, berapa banyak aplikasi bisa saya install disini, sementara saya grayak begini #ngaku. Peringatan dari hape seputar low space sering membuat saya gondok. #nahangemeletukgigi… okelah, External memory memang cukup besar 8MB, tapi tetap saja semua aplikasi akan memakan ruang dalam internal memory yang hanya secuil itu.

2.       HDMI port. Ini mungkin adalah karma saya yang sudah memecat Nokia C7 saya dulu karena kekecawaan saya tidak bisa menemukan kabel TV out, hal pertama yang membuat saya ingin segera membeli dan sekaligus membuat saya kecewa luar biasa. Rupanya, kabel jenis ini cukup mudah dicari, tapiiiii hanya untuk layar LCD TV. Lha trus, apa dong mau saya? Saya maunya port ini bisa untuk LCD projector. Sebagai guru, saya ingin simple, dengan hanya plug and show, tanpa perlu repot membawa laptop.  Dan kenapa saya tidak membeli tablet saja, hmmm…. Saya cinta dengan Sony, sementara tablet buatan Sony tak terjangkau celengan saya, first reason, kemudian, second reason,  saya tak mungkin membawa bawa tablet ketika saya ikut fun bike atau bersepeda sana sini untuk mencatat sport tracker (narsis ya? Ihik)… eh, kembali ke HDMI port ya, saya sudah nyari baik lewat situs maupun toko2 komputer, hanya jawaban gelengan kepala yang saya dapatkan. Sementara TV di ruang kelas dan rumah, adalah jenis TV juadul. #nguapgarukgaruk…

3.       Compatibility. Entah computer saya di rumah atau canggihnya OS si Archie ini hingga computer di rumah ngga mau baca ketika saya sambungkan hape ini. Untunglah, laptop saya mau kenal. Ngga kebayang kalo ngga…. Kebayang ribetnya jika nanti saya kudu mengetik document di hape dan segera harus di print. Computer kantor yang jadul, mana mau membaca smartphone sombong ini? Hadheh…

Well, setelah saya pikir2, baru tiga minuses itu saja yang saya temukan setelah kurang lebih 2 bulan pemakaian. Apakah ke depannya saya bakal menemukan minus nya si Archie, mungkin saja. Setidaknya, tulisan ngalor ngidul saya ini bisa jadi acuan buat yang akan membeli hape baru, meski bukan terbitan Sony, tapi paling tidak banyak banyaklah mencari info seputar hape yang diidamkan, hingga tak perlu menulis minuses seperti saya ini. Etapi, nothing is perfect ya? manusia aja banyak sesatnya hahaha… 

No comments:

Post a Comment