Singapore Tour (Day 2)
Mata masih terasa berat, ketika wake up call berdering dari hotel. Masih mengumpulkan nyawa, saya angkat telpon. Terdengar suara seseorang mengatakan “This is a wake up call.” Dengan comphre yang masih seperempat, saya jawab, “OK, thanks.” Setelah itu saya kembali molor. Begitu nyadar bahwa itu tadi adalah pertanda para peserta sudah harus mulai bersiap, langsung saja saya dan roommate saya bergegas ke kamar mandi. Whoooooaaaaa….. This is Singapore! Everything is one hour earlier, including the people hahaha….
Saat sarapan, beberapa peserta sudah mulai bertanya tanya, akan kemana kita hari itu. Karena saya sendiri tidak membawa schedule dari tour agency, saya persilakan saja mereka bertanya sendiri. Oya, kembali ke sarapan, menunya cukup mengenyangkan meski ngga ada nasi. Ada bubur buat mereka yang mau mencicipi, tapi jangan harap ada gula jawa cair (kinca) disini hihihi. Sebagai seorang vegetarian yang nanggung seperti saya, saya juga sudah cukup bersyukur melihat mie goreng dan roti selai. Segala daging asap dan beberapa bentuk menyerupai daging, tentu saya tinggalkan. At least, menu sarapan cukup untuk menghadapi city tour sehari penuh di negri Singa ini. Eng ing eeenggg….
City tour yang semula dijadwalkan pukul 9 meninggalkan hotel, molor lebih dari 1 jam karena beberapa peserta yang masih jet lag dengan keadaan waktu yang satu jam lebih awal dibanding Indonesia. Selain itu, bis yang terlihat baik2 saja, ternyata butuh diganti demi keselamatan. Berbeda dari bis di Indonesia yang sudah mengeluarkan suara dan bunyi tak sedap masih saja beroperasi di jalan raya. Selama perjalanan, seperti biasa, banyak hal yang mulai kami perhatikan. Misalnya, para sopir disini rata2 menjalankan kendaraannya dengan kecepatan yang cukup membuat kami terpental tiap kali mereka menginjak pedal rem. Belakangan baru kami maklum mengapa mereka bertindak demikian. Di sini, para pejalan kaki adalah raja. Para pengendara harus menghormati para pejalan kaki. Traffic light pun diatur sedemikian rupa, hingga para pejalan kaki bisa memencet tombol di ujung jalan, agar lampu hijau para pejalan kaki menyala. Dan melengganglah kami menyeberang jalan, woooow…. Belum lagi trotoar yang bersih dari PKL serta struktur tanah yang datar, menjadi semakin nyamanlah kami yang merasakan berjalan kaki selama berjam-jam.
Tujuan pertama adalah menuju Merlion park, tempat wajib kunjung buat para turis seperti kami. The most important of all is take picture there, hahaha. Sayangnya, patung singa mengucurkan air saat itu masih dalam perbaikan, sehingga kami harus puas dengan singa anakan yang sama2 mengucurkan air. Tidak mudah untuk mendapatkan moment berpose bersama patung tersebut karena banyaknya turis yang mempunyai tujuan yang sama. Untunglah, patung singa bukan satu2nya object menarik untuk diajak berpose bersama, ada banyak bangunan keren serta laut lepas pantai nan panas namun cukup eksotis untuk dijadikan desktop computer hahahaha.

Lepas dari Merlion park, kami menuju ke Chinatown, kompleks pecinan. Kelenteng yang ada sebenarnya masih kalah megah dengan yang ada di Semarang yang mempunyai banyak kelenteng unik, seperti Kelenteng Sam Po Kong, Tay Kak Sie, dll. Tapi karena ini adalah kelenteng yang ada di Singapura, tetap saja ada beberapa sudut yang bisa digunakan kami para banci kamera hahaha. Chinatown sebenarnya adalah arena belanja dengan harga lebih miring dibandingkan dengan Little India dan Bugis street. Dan sesuai dengan namanya, banyak pernak pernik tionghwa yang dijual disana. Mulai dari kipas, baju2, tas2 dengan etnik China. Beberapa ramuan herbal khas china juga bisa ditemukan disini. Yang kami (saya dan beberapa peserta) lakukan hanya berpose bersama dan cuci mata. Dasaaarrr..

Lepas pukul satu siang, bis menuju ke Sentosa Island, tempat dimana banyak tempat menarik ditemukan disana. Mulai dari Universal Studio, Song of the Sea, Candilicious, cable car, dll. Sebelum memenuhi hasrat meng-explore seluruh tempat, satu hal yang wajib lakukan adalah makan siang. Sekali lagi, menu nasi adalah pilihan utama mengingat banyaknya energy yang telah dan akan kami keluarkan. Karena uang saku makan hanya 5 dolar Singapura, kami sangat selektif memilih menu. Pilihan yang tersebar itu semakin dipersempit dengan patokan biaya yang bisa kami keluarkan. Hahaha…. Mungkin inilah esensi dari menjadi backpacker itu. Akhirnya pilihan kami jatuh pada restoran Toastbox. Menu pilihan hanya sekitar 3 saja, yaitu Mee rebus, Tom Yam dan Nasi lemak. Saya sendiri memlih mee rebus yang ternyata sejenis dengan mi instant kari ayam local, wkwkwk. Bumbu rempahnya sanggaaatttt terasa. Harga sekitar 4 dollar. Beberapa teman saya memilih Tom Yam, sejenis mie juga dengan rasa lebih segar. Sisanya memilih nasi lemak. Yang dimaksud nasi lemak adalah nasi plus ayam, dan telur ceplok plus sambal. Penyet kali ya istilah disini hihihi. Semuanya mempunyai harga rata2 sama.

Cukup kenyang dengan makan siang, kami mulai eksplore sana sini. Karena dana cekak, kami memutuskan hanya berpose di depan logo Universal studio. Kami tidak berkecil hati, karena toh sebagian besar dari kami memilih untuk ‘blusukan’ di seluruh tempat di Sentesa island, dibandingkan ngendon seharian di USS (excuse orang yang tak mampu membeli karcis wkwkwkwk).

Dari pelataran USS, kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan cable car. Gratiiisss. Cable car ini membawa kami memutar dari Sentosa island menuju ke Song of The Sea. Pagelaran opera berbayar 15 dollar ini cukup laris, terbukti beberapa teman saya yang membeli tiket siang itu mendapatkan giliran malam hari pukul 9. Sebagai penyuka musik2 opera, sebenarnya saya cukup tertarik, tetapi karena gang saya lebih memilih berpindah pindah tempat explore mereka, saya ngikut saja hehehe…. Dari Song of The Sea, kami sampai di sebuah pantai berpasir putih. Buat mereka yang sudah beberapa kali ke Bali, pemandangan pantai ini tidak terlalu spektakuler. Sekali lagi, karena pantai ini terletak di luar negri (please underline), kami pun tidak menyia2akan kesempatan berpose hahaha.

Cable car yang membawa kami sangat generous, selain gratis, cable car ini lewat setiap lima menit sekali dengan warna warna permen yang mencolok. Buat mereka yang kepengen bolak-balik-bolak, silakan saja. LOL. Salah satu tempat ya
ng kami singgahi dengan cable car ini adalah sebuah taman dengan patung singa raksasa dengan sungai buatan di bawahnya. Well, sepertinya semua object wisat di Singapore ini adalah tempat2 buatan dengan estetika art yang tinggi. Namun, jarang sekali saya lihat objek wisata dengan pemandangan alami, seperti alam di Indonesia. Sesuatu yang dijual disini memang segala sesuatu yang modern, seperti cable car, dan tentu saja MRT yang membuat kami terbengong-bengong hahaha…
Speaking about MRT, tour guide menjelaskan pada kami bahwa perjalanan pulang menuju hotel bisa ditempuh dengan bis atau taxi. Sementara banyak diantara kami peserta yang ingin menjajal MRT. Maka, menujulah kami ke stasiun MRT, dengan panduan rekan kami yang mempunyai keahlian spatial intelligence dengan membaca peta. Dengan koin 2 dollar 50 cent, kami melayani sendiri karcis MRT dengan sedikit tergagap. Maklum saja, segalanya berlaku sangat modern disini. Bagi kami yang udik ini, segala sesuatu yang kurang jelas, semua akan teratasi dengan bertanya. Masalahnya adalah, semua yang ada di negri ini semuanya tertulis dan penjaga MRT pun yang terlihat hanya satu dua saja. Itupun kami harus adaptasi dengan Singlish, Singapore English mereka. Terus terang, beberapa diantara kami lebih memilih saling tunjuk siapa yang mau bertanya hahaha… Syukurlah, perjalanan menggunakan MRT cukup lancar plus jalan kaki dari satu stasiun ke stasiun yang lain. Semua berjalan cepat, termasuk escalator yang berjalan dua kali lebih cepat dari escalator local hehehe… Oya, tiket MRT sebesar 2.5 dollar itu bisa di-reimburse 1 dollar jika kita mengembalikan tiket MRT. Buat beberapa diantara kami lebih memilih menyimpan tiket, sebagai bukti kami pernah naik MRT wkwkwkwkwk…
Perjalanan city tour sementara ditutup sore itu dengan istirahat sejenak di hotel. Kaki pegal sisa jalan kaki malam sebelumnya memang mengharuskan kami istirahat. Seusai Maghrib, kami kembali siap ‘mengukur’ jalan-jalan Singapore. Tak ada tujuan yang pasti, hanya menuju ke Orchard Road. Sebelumnya kami mencari lokasi makan malam. Syarat utamanya masih sama. NASI. Sekilas kami melihat seseorang makan di restoran dekat hptel dengan tampilan mirip nasgor Surabaya. Langsung saja kami menuju ke restoran tersebut. Dana sebesar 5 dollar membuat kami kembali mempersempit pilihan menu. Dan ternyata memang dari sekian banyak menu, hanya dua saja yang cukup affordable, baik dari segi dana juga dari segi halal dan tidak hihihi… Sea food fried rice dan Yang chow (lupa gimana nulisnya) adalah dua menu pilihan kami. Masing2 tiga porsi kecil untuk kami berenam. Ketika pesanan kami datang, meledaklah tawa kami semua. Bagaimana tidak? Alih2 diatas piring, pihak restoran menggunakan wajan kecil untuk menghidangkan menu pesanan. “Ngga ilok (tabu) dalam budaya jawa.” celetuk seseorang dari kami wkwkwkwk…

Hari berlalu begitu cepat rasanya ketika kita berada di suatu tempat asing dan banyak hal yang dilakukan. Orchard Road yang kami cari ternyata berblok blok jauhnya. Kami yang saat itu bersembilan, asyik saja menyusuri jalan. Orchard Road sendiri adalah tempat belanja cukup terkenal dengan harga cukup mengerikan bagi kami non sosialita. Yang kami lakukan tentu saja berpoto session. Capek dweeehhh….

Hari sudah semakin larut, akhirnya kami memutuskan pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 11.40 waktu setempat. MRT sudah tak ada lagi yang beroperasi. Pilihan satu2nya adalah taxi. Dengan menggunakan 2 taxi, kami bertujuh menuju ke hotel. Keinginan istirahat ternyata masih harus melalui proses panjang lagi. Supir taxi yang saya tumpangi salah mendengar nama jalan yang saya sebutkan. Belum lagi hotel tempat kami menginap tergolong baru. Walhasil, nyasarlah kami di hotel antah berantah. Hoooaaa…… Untunglah, Singapore menyediakan peta lengkap di setiap halte bis. Sekitar 30 menit kami kembali menyusuri jalan. Akhirnya sampailah kami di hotel. Mata dan kaki sudah terasa sama beratnya. Well, hari kedua kami di Singapore berujung menyenangkan sekaligus menegangkan. Syukurlah.
Bersambung lagi aaahhhhhh….. lembur lagiiiiiiiii