Pages

Tuesday, March 29, 2011

Nasi Jamblang Cirebon

Nasi jamblang seperti banyak orang tahu adalah makanan khas kota Cirebon. Pertama kali saya dengar nama ini, yang terbayang dalam pikiran saya adalah buah jamblang, buah warna hitam gemuk yang membuat gigi pemakannya hitam, hehe. Ternyata bukan, bahkan tidak ada hubungan sama sekali dengan buah colongan jaman saya kecil dulu. Yang pengen saya tulis disini adalah pengalaman saya dari tahun ke tahun menikmati makanan khas ini.

 

Dimulai ketika kakak sulung saya pindah ke kota Cirebon. Awalnya, tahun pertama sebelum kakak saya mempunyai rumah sendiri, saya dan saudara2 saya belum berkunjung ke sana. Begitu kehidupan kakak lumayan settled dengan rumah mungilnya, dia baru berani mengajak saya, dan saudara saya yang lain serta ibu saya datang berkunjung. Itu sekitar 20 tahun lalu.

 

Sebagai tuan rumah, kakak saya mengajak saya ke nasi jamblang terdekat, yaitu nasi jamblang Mang Dul. Kesan pertama cukup membuat saya geli. Bagaimana tidak? Makan dengan daun jati yang dibentuk seperti pincuk tanpa lidi (biting) cukup membuat repot tangan yang merasa kepanasan karena nasinya yang masih mengepul. Belum ada piring pada waktu itu, hanya sendok yg cukup'menyelamatkan tangan saya hahaha.

 

Menu yang saya pilih seingat saya tidak berubah banyak. Nasi 2, sambal 2, tahu sayur, telur bulat atau telur dadar, ayam goreng, perkedel kentang atau perkedel rempah dan krupuk. Sementara sebenarnya banyak pilihan lain yang bisa saja memperkaya rasa lidah saya, seperti daging, paru, dll. Jauh sebelum saya menjadi setengah vegetari, pilihan saya sudah terbatas, apalagi sekarang? Hihihi.

 

Saya masih ingat ketika ponakan saya masih kecil, kelihatan bengong ketika pertama kali mencicipi nasi jamblang ini. Belum lagi teh tawar yang dihidangkan gratis membuatnya tak begitu semangat dengan yang namanya nasi jamblang. Tahu sayur bisa dibilang menu spesial dari jambalng ini, sementara ponakan ini tidak nge-fans dengan yang namanya tahu. Nasiiibbb... Biarpun dia tidak begitu cocok dengan makanan khas ini, tidak demikian dengan banyak penduduk Cirebon ataupun para pendatang. Mobil2 bagus berderet di parkiran, belum lagi motor, dan juga sepeda onthel semua menghiasi parkiran dimana rumah makan memasang tulisan nasi Jamblang. Menu semua kalangan deh pokoknya. 

 

Bertahun berlalu. Beberapa perubahan mulai terasa. Kalo dulu, cukup daun jati sebagai dasar nasi, sekarang cukup dimudahkan dengan adanya piring plastic. Jadi buat mereka yang belum pernah makan dengan pincuk, lebih mudah memegangnya. Dalam soal penghitungan pun cukup berubah meski tidak begitu drastis. Dulu saya sangat amazed dengan kemampuan hitung2an akuntan nasi jamblang. Jika saya datang bertiga atau berempat, selesai makan kami akan berdiri berbaris menyebutkan apa saja yang kami nikmati. Tanpa kalkulator, si akuntan langsung menambahkan dari satu orang ke orang lain hingga lengkap jumlah bill kami berempat. Tapi sekarang, minggu lalu ketika saya berkunjung ke nasi jamblang pelabuhan, pengitungan dilakukan dengan menunjukkan piring berisi menu. Dan langsung dibayar. Penambahan kurupuk atau teh manis bisa dibayar kemudian.

 

Perubahan terakhir yang membuat saya ingin menulis blog ini adalah adanya music live yang menemani para tamu di warung ini. Ketika saya datang, saya pikir mereka adalah pengamen yang lewat. Tetapi setelah saya selesai memilih menu, membayar, dan duduk menikmati hidangan, mereka masih saja berdiri di pojok. Terdiri dari tiga orang, 1 orang sebagai vokalis dan dua yang lain sebagai pemegang alat instrument. Lagu2 yang mereka bawakan adalah lagu dangdut melayu. Yang masih ingat dan terngiang sampe sekarang adalah lagu yang pernah dipopulerkan oleh Ikke Nurjanah (ngga tahu siapa yang pertama kali menyanyikan lagu ini

 

“Bungakuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu….. Dahliaaaaa…….

 

Duhai bunga pujaan
Kau bunga dahlia
Oh bunga kesayangan
Kau bunga dahlia

Sunday, March 27, 2011

Moped alias Mobil Sepeda

Kegiatan berlibur saya ketika berada di Cirebon biasanya selalu sama, bersepeda keliling kota. Desember lalu sempat saya tulis pengalaman saya gowes bersama rekan2 mantan kantor kakak saya. Tapi kali ini, saya kepengen hanya berdua saja dengan kakak saya. Apalagi dengan hadirnya sepeda barunya yng unik. Kakak saya meyebutnya moped, mobil sepeda. Konsepnya sih sebenanrnya sama dengan sepeda. Yang membedakan adalah sepeda ini beroda empat, dengan dua kursi penumpang saling bersisian. Dengan penutup atas, jadilah sepeda ini mirip dengan mobil.

 

Karena unik dan mungkin satu2nya di cirebon itulah, selama dua hari bersepeda dengan moped ini, saya merasa seolah selebriti, wkwkwkwk. Bagaimana tidak, sejauh kaki menggowes, mata orang2 selalu memandang. Belum lagi komentar, “waahhh… enaknyaaa…”, “Mantaaappp gowesnyaaa..” dan banyak lagi. Saya dan kakak saya hanya nyengir saja. Belum lagi ketika si moped di parker arena kami butuh istirahat, beberapa orang langsung merubung. Hasilnya adalah, kakak saya musti mengulang keterangan ini itu kepada mereka. Macam konferensi pers gitu hahaha…


Beberapa orang yang penasaran...

Tuesday, March 22, 2011

Catatan Perjalanan @ Singapore (Day 2)

Singapore Tour (Day 2)

Mata masih terasa berat, ketika wake up call berdering dari hotel. Masih mengumpulkan nyawa, saya angkat telpon. Terdengar suara seseorang mengatakan “This is a wake up call.” Dengan comphre yang masih seperempat, saya jawab, “OK, thanks.” Setelah itu saya kembali molor. Begitu nyadar bahwa itu tadi adalah pertanda para peserta sudah harus mulai bersiap, langsung saja saya dan roommate saya bergegas ke kamar mandi. Whoooooaaaaa….. This is Singapore! Everything is one hour earlier, including the people hahaha….

Saat sarapan, beberapa peserta sudah mulai bertanya tanya, akan kemana kita hari itu. Karena saya sendiri tidak membawa schedule dari tour agency, saya persilakan saja mereka bertanya sendiri.  Oya, kembali ke sarapan, menunya cukup mengenyangkan meski ngga ada nasi. Ada bubur buat mereka yang mau mencicipi, tapi jangan harap ada gula jawa cair (kinca) disini hihihi. Sebagai seorang vegetarian yang nanggung seperti saya, saya juga sudah cukup bersyukur melihat mie goreng dan roti selai. Segala daging asap dan beberapa bentuk menyerupai daging, tentu saya tinggalkan. At least, menu sarapan cukup untuk menghadapi city tour sehari penuh di negri Singa ini. Eng ing eeenggg….

City tour yang semula dijadwalkan pukul 9 meninggalkan hotel, molor lebih dari 1 jam karena beberapa peserta yang masih jet lag dengan keadaan waktu yang satu jam lebih awal dibanding Indonesia. Selain itu, bis yang terlihat baik2 saja, ternyata butuh diganti demi keselamatan. Berbeda dari bis di Indonesia yang sudah mengeluarkan suara dan bunyi tak sedap masih saja beroperasi di jalan raya. Selama perjalanan, seperti biasa, banyak hal yang mulai kami perhatikan. Misalnya, para sopir disini rata2 menjalankan kendaraannya dengan kecepatan yang cukup membuat kami terpental tiap kali mereka menginjak pedal rem. Belakangan baru kami maklum mengapa mereka bertindak demikian. Di sini, para pejalan kaki adalah raja. Para pengendara harus menghormati para pejalan kaki. Traffic light pun diatur sedemikian rupa, hingga para pejalan kaki bisa memencet tombol di ujung jalan, agar lampu hijau para pejalan kaki menyala. Dan melengganglah kami menyeberang jalan, woooow…. Belum lagi trotoar yang bersih dari PKL serta struktur tanah yang datar, menjadi semakin nyamanlah kami yang merasakan berjalan kaki selama berjam-jam.

Tujuan pertama adalah menuju Merlion park, tempat wajib kunjung buat para turis seperti kami. The most important of all is take picture there, hahaha. Sayangnya, patung singa mengucurkan air saat itu masih dalam perbaikan, sehingga kami harus puas dengan singa anakan yang sama2 mengucurkan air. Tidak mudah untuk mendapatkan moment berpose  bersama patung tersebut karena banyaknya turis yang mempunyai tujuan yang sama.  Untunglah, patung singa bukan satu2nya object menarik untuk diajak berpose bersama, ada banyak bangunan keren serta laut lepas pantai nan panas namun cukup eksotis untuk dijadikan desktop computer hahahaha.

Lepas dari Merlion park, kami menuju ke Chinatown, kompleks pecinan. Kelenteng yang ada sebenarnya masih kalah megah dengan yang ada di Semarang yang mempunyai banyak kelenteng unik, seperti Kelenteng Sam Po Kong, Tay Kak Sie, dll. Tapi karena ini adalah kelenteng yang ada di Singapura, tetap saja ada beberapa sudut yang bisa digunakan kami para banci kamera hahaha.  Chinatown sebenarnya adalah arena belanja dengan harga lebih miring dibandingkan dengan Little India dan Bugis street. Dan sesuai dengan namanya, banyak pernak pernik tionghwa yang dijual disana. Mulai dari kipas, baju2, tas2 dengan etnik China. Beberapa ramuan herbal khas china juga bisa ditemukan disini. Yang kami (saya dan beberapa peserta) lakukan hanya berpose bersama dan cuci mata. Dasaaarrr..

Lepas pukul satu siang, bis menuju ke Sentosa Island, tempat dimana banyak tempat menarik ditemukan disana. Mulai dari Universal Studio, Song of the Sea, Candilicious, cable car, dll. Sebelum memenuhi hasrat meng-explore seluruh tempat, satu hal yang wajib lakukan adalah makan siang. Sekali lagi, menu nasi adalah pilihan utama mengingat banyaknya energy yang telah dan akan kami keluarkan. Karena uang saku makan hanya 5 dolar Singapura, kami sangat selektif memilih menu. Pilihan yang tersebar itu semakin dipersempit dengan patokan biaya yang bisa kami keluarkan. Hahaha…. Mungkin inilah esensi dari menjadi backpacker itu. Akhirnya pilihan kami jatuh pada restoran Toastbox. Menu pilihan hanya sekitar 3 saja, yaitu Mee rebus, Tom Yam dan Nasi lemak. Saya sendiri memlih mee rebus yang ternyata sejenis dengan mi instant kari ayam local, wkwkwk. Bumbu rempahnya sanggaaatttt terasa. Harga sekitar 4 dollar. Beberapa teman saya memilih Tom Yam, sejenis mie juga dengan rasa lebih segar. Sisanya memilih nasi lemak. Yang dimaksud nasi lemak adalah nasi plus ayam, dan telur ceplok plus sambal. Penyet kali ya istilah disini hihihi.  Semuanya mempunyai harga rata2 sama.

Cukup kenyang dengan makan siang, kami mulai eksplore sana sini. Karena dana cekak, kami memutuskan hanya berpose di depan logo Universal studio.  Kami tidak berkecil hati, karena toh sebagian besar dari kami memilih untuk ‘blusukan’ di seluruh tempat di Sentesa island, dibandingkan ngendon seharian di USS (excuse orang yang tak mampu membeli karcis wkwkwkwk).  

Dari pelataran USS, kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan cable car. Gratiiisss. Cable car ini membawa kami memutar dari Sentosa island menuju ke Song of The Sea. Pagelaran opera berbayar 15 dollar ini cukup laris, terbukti beberapa teman saya yang membeli tiket siang itu mendapatkan giliran malam hari pukul 9.  Sebagai penyuka musik2 opera, sebenarnya saya cukup tertarik, tetapi karena gang saya lebih memilih berpindah pindah tempat explore mereka, saya ngikut saja hehehe….  Dari Song of The Sea, kami sampai di sebuah pantai berpasir putih. Buat mereka yang sudah beberapa kali ke Bali, pemandangan pantai ini tidak terlalu spektakuler. Sekali lagi, karena pantai ini terletak di luar negri (please underline), kami pun tidak menyia2akan kesempatan berpose hahaha.

Cable car yang membawa kami sangat generous, selain gratis, cable car ini lewat setiap lima menit sekali dengan warna warna permen yang mencolok. Buat mereka yang kepengen bolak-balik-bolak, silakan saja. LOL. Salah satu tempat ya

ng kami singgahi dengan cable car ini adalah sebuah taman dengan patung singa raksasa dengan sungai buatan di bawahnya. Well, sepertinya semua object wisat di Singapore ini adalah tempat2 buatan dengan estetika art yang tinggi. Namun, jarang sekali saya lihat objek wisata dengan pemandangan alami, seperti alam di Indonesia. Sesuatu yang dijual disini memang segala sesuatu yang modern, seperti cable car, dan tentu saja MRT yang membuat kami terbengong-bengong hahaha…

Speaking about MRT, tour guide menjelaskan pada kami bahwa perjalanan pulang menuju hotel bisa ditempuh dengan bis atau taxi. Sementara banyak diantara kami peserta yang ingin menjajal MRT. Maka, menujulah kami ke stasiun MRT, dengan panduan rekan kami yang mempunyai keahlian spatial intelligence dengan membaca peta. Dengan koin 2 dollar 50 cent, kami melayani sendiri karcis MRT dengan sedikit tergagap. Maklum saja, segalanya berlaku sangat modern disini. Bagi kami yang udik ini, segala sesuatu yang kurang jelas, semua akan teratasi dengan bertanya. Masalahnya adalah, semua yang ada di negri ini semuanya tertulis dan penjaga MRT pun yang terlihat hanya satu dua saja. Itupun kami harus adaptasi dengan Singlish, Singapore English mereka. Terus terang, beberapa diantara kami lebih memilih saling tunjuk siapa yang mau bertanya hahaha… Syukurlah,  perjalanan menggunakan MRT cukup lancar plus jalan kaki dari satu stasiun ke stasiun yang lain. Semua berjalan cepat, termasuk escalator yang berjalan dua kali lebih cepat dari escalator local hehehe…  Oya, tiket MRT sebesar 2.5 dollar itu bisa di-reimburse 1 dollar jika kita mengembalikan tiket MRT. Buat beberapa diantara kami lebih memilih menyimpan tiket, sebagai bukti kami pernah naik MRT wkwkwkwkwk…

Perjalanan city tour sementara ditutup sore itu dengan istirahat sejenak di hotel. Kaki pegal sisa jalan kaki malam sebelumnya memang mengharuskan  kami istirahat. Seusai Maghrib, kami kembali siap ‘mengukur’ jalan-jalan Singapore. Tak ada tujuan yang pasti, hanya menuju ke Orchard Road. Sebelumnya kami mencari lokasi makan malam. Syarat utamanya masih sama. NASI. Sekilas kami melihat seseorang makan di restoran dekat hptel dengan tampilan mirip nasgor Surabaya. Langsung saja kami menuju ke restoran tersebut. Dana sebesar 5 dollar membuat kami kembali mempersempit pilihan menu. Dan ternyata memang dari sekian banyak menu, hanya dua saja yang cukup affordable, baik dari segi dana juga dari segi halal dan tidak hihihi… Sea food fried rice dan Yang chow (lupa gimana nulisnya) adalah dua menu pilihan kami. Masing2 tiga porsi kecil untuk kami berenam. Ketika pesanan kami datang, meledaklah tawa kami semua. Bagaimana tidak? Alih2 diatas piring, pihak restoran menggunakan wajan kecil untuk menghidangkan  menu pesanan. “Ngga ilok (tabu) dalam budaya jawa.” celetuk seseorang dari kami wkwkwkwk…

Hari berlalu begitu cepat rasanya ketika kita berada di suatu tempat asing dan banyak hal yang dilakukan. Orchard Road yang kami cari ternyata berblok blok jauhnya. Kami yang saat itu bersembilan, asyik saja menyusuri jalan. Orchard Road sendiri adalah tempat belanja cukup terkenal  dengan harga cukup mengerikan bagi kami non sosialita. Yang kami lakukan tentu saja berpoto session. Capek dweeehhh….

Hari sudah semakin larut, akhirnya kami memutuskan pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 11.40 waktu setempat. MRT sudah tak ada lagi yang beroperasi. Pilihan satu2nya adalah taxi. Dengan menggunakan 2 taxi, kami bertujuh menuju ke hotel. Keinginan istirahat ternyata masih harus melalui proses panjang lagi. Supir taxi yang saya tumpangi salah mendengar nama jalan yang saya sebutkan. Belum lagi hotel tempat kami menginap tergolong baru. Walhasil, nyasarlah kami di hotel antah berantah. Hoooaaa…… Untunglah, Singapore menyediakan peta lengkap di setiap halte bis. Sekitar 30 menit kami kembali menyusuri jalan. Akhirnya sampailah kami di hotel. Mata dan kaki sudah terasa sama beratnya. Well, hari kedua kami di Singapore berujung menyenangkan sekaligus menegangkan. Syukurlah.

Bersambung lagi aaahhhhhh….. lembur lagiiiiiiiii

 

Thursday, March 17, 2011

Catatan Perjalanan ke Singapore (Day 1)

Day 1 To Singapore

 

Hari pertama outing ke S'pore. Well, all participants already waited for this moment. Maklum saja. Sebagian besar diantara kami balum pernah mengecap tanah negri sebrang. Paspor yg sdh diurus jauh2 hari seolah sdh jadi down payment tentang mimpi outing ke S'pore ini.

 

Saya tiba di airport tepat pukul 10, setengah jam lebih awal dari perjanjian. Bukan karena saya sangat kebelet segera pergi ke negri Singa ini, tapi karena saya adalah ketua panitia kantor dadakan. Jadi mau ngga mau saya musti tiba terlebih dahulu. Semakin siang, para peserta mulai berdatangan. Jumlah 28 orang dalam grup outing ini bisa dibilang cukup besar. 28 orang dengan karakter berbeda dan dengan kondisi yg berbeda pula.  Bayangkan saja, menjelang boarding, masih saja harus menunggu beberapa murid yg ngakunya sdh dijalan dan mau nyampe. Belum lagi peserta lain yg mulai gelisah dan rongrongan tour guide yg menanyakan kapan mereka tiba. Hadeehhh... Berat nian jadi panitia dadakan begini.

 

Semakin siang, ada dua orang yg belum juga muncul. Rongrongan telpon dari saya sudah di-reject dengan kejam karena mungkin dia sendiri sdh tidak bisa menjawab dimana dia sekarang berada. Begitu akhirnya mereka muncul, dengan cueknya saya suruh si yang bersangkutan minta maap pada semua peserta yang dibuatnya menunggu. Yang bikin gondok, si bapak yang maju minta maap pada semua dan bilang kalo pesawatnya belum berangkat kan? Kalopun sudah ketinggalan, dia yg tanggung jawab. Gimana mau tanggung jawab coba? Idih, enak bener ni bapak ngomongnya. Swebel.

 

Setelah seluruh peserta berkumpul, saatnya melewati screening baggage yg pertama. Mengisi blanko imigrasi dan tadaaaaa... Take off. Tapi hidup saya hari itu memang banyak cobaan. Belum cukup menunggu dua peserta yang datang molor, masih ditambah para peserta yang hobi nanya ini itu sama saya, seolah saya ini tau semua dan minta ijin kesana kemari, tanpa saya sendiri sadar jam sudah menunjukkan pukul berapa. Akhirnya panggilan flight menuju S'pore berkumandang, dan saya masih celingukan mencari 4 perserta yang raib, dua ke kamar kecil dan dua yang lain makan siang. Telpon saya sdh tak lagi sakti utk segera diangkat. Hasilnya, tour guidenya menahan saya sementara untuk tetap tinggal hingga mereka muncul. Naseeebb...

 

Dan alhamdulillah... Melangkah juga kaki saya menuju tangga pesawat dan duduk di kursi bernomor D10. Let's enjoy the trip, guys...

 

Perjalanan pesawat cukup nyaman, dalam artian cukup nyaman buat mereka yang baru pertama kali mencicipi perjalanan dengan pesawat terbang. Aman karena cuaca juga sangat mendukung trip yang sudah diidamkan hampir lebih setengah tahun lalu. Dan kamipun tiba dengan selamat di Changi airport. Kesan yang muncul adalah berbagai macam perbandingan antara airport daerah (lokal) dengan airport international. Para banci kamera tentu saja tidak menyia2kan kesempatan mengabadikan setiap sudut airport yang terang benderang, megah, bersih....pokoknya sangat sangat membuat kami yang udik ini melongo hahaha...

 

Keluar dari airport, sesaat kami menunggu datangnya bis yang bakal mengangkut kami ke penginapan kami selama dua malam di negeri Singa ini. Begitu bis tiba, mulailah city tour kecil kami menuju hotel. Sepanjang jalan, banyak sekali celetukan bernada guyon sekaligus satir antara membandingkan kondisi Singapura dengan Indonesia, khususnya Semarang.

Saya, "ngga ada deretan PKL ya?"

guru 1, "ngga ada tikus mati kegencet di jalan ya?"

murid 1, "ngga ada angkot yang bising ya? "

Dll. Hahaha...

 

Begitu tiba di hotel, saya cukup takjub dengan kondisi hotel untuk paket backpacker ini. Bukannya apa2, banyak diantara kami yang membayangkan penginapan sederhana sejenis hostel atau dorm dan bukan hotel kelas bintang 3 ini. Waktu yang cukup lama untuk check in kami gunakan untuk kembali menyalurkan bakat banci kamera kami. Segala gedung unik, landmark, patung atau apa saja bisa jadi background bagi kalangan model dadakan begini.

 

Saatnya check in tiba dan mulailah kami mempelajari peta pemberian tour untuk menentukan arah kemana kami melewatkan malam pertama di Singapore. Setelah cukup segar istirahat sejenak, mulailah kami menuju Bugis street, tempat penjualan segala macam souvenir. Kaos, gantungan kunci adalah target utama saya dan beberapa teman. Modal kami yang hanya beberapa dollar tidak memungkinkan kami bergaya sosialita yang belanja di Singapore hahaha. Selain dua suvenir andalan itu, sebenarnya sangat banyak ragam yg bisa dipilih dengan harga cukup miring; jam tangan, kipas, hiasan dinding, piring hias, bros2 cantik, tas tangan, dll. Saya sendiri cukup membeli dua suvenir andalan itu hehehe...

 

Sekilas, kompleks Bugis ini mirip dengan Johar, pasar tradisional di Semarang. Yang membedakan jelas banyak, bugis bersih, teratur, dan yang jelas mereka hanya mengatakan sesuatu beberapa patah kata, tidak ada yang over ramah menawarkan barang dagangan mereka. Selesai belanja secukupnya, kami mulai berputar mencari tempat makan yang enak, murah dan yang jelas harus ada NASInya wkwkwkwk. Perut orang Indonesia memang tak bisa diam jika tidak disumpal dengan nasi. Setelah cukup desperate mencari kesana kemari, tibalah kami (bertiga saja) pada sebuah tempat makan. Atas rekomendasi seorang murid, kami memutuskan mencoba nasi campur dengan ayam bumbu kecap. Dengan 11 dollar 50 sen, kami mendapatkan tiga piring nasi (rasanya mirip nasi gurih), ayam setengah dan sayur bening semangkok. Alhamdulillahhhh…. Ketemu nasi dan ayam 


yang insya Allah halal, meski nyembelihnya belum tentu pake bismillah wkwkwkwk…. Tapi tetep berdoa dong sebelum makan.

 

Sepulang dari Bugis, tiba2 terbersit dari salah satu kami untuk melanjutkan perjalanan ke Little India alias Mustafa, kompleks belanja yang katanya 24 jam. Dengan taksi dan ongkos 7 dollar, tibalah kami di pusat belanja yang sebagian besar adalah warga India. Jadi serasa berada di India beneran melihat banyaknya orang India lalu lalang, dengan kostum pakaian daerah mereka, bau wangi rempah ataupun aroma yang tidak biasa atau yang tidak kami temukan tadi selama di Bugis. Karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam, jalanan mulai sepi dan bebaslah kami menyalurkan hasrat  banci kamera lagi hahaha….

 

Masalah tiba2 mucul ketika kami mulai menyadari bahwa taksi tidak begitu ramah di malam hari. Maksud saya adalah mereka tidak begitu menanggapi panggilan calon konsumen. Hasilnya adalah, kami harus rela berjalan kaki. Konyolnya, karena belum mengetahui letak Little India dan tempat kami menginap yang sebenarnya sangat dekat, kami mengambil jalan memutar. Dan ketika kami kembali tiba di Bugis, semua toko sudah tutup (hebatnya, tak ada sampah plastic atau apapun yang berserak disana, hanya daun2 kering dari pepohonan sekitar). Kaki yang mulai terasa berat, terasa sedikit ringan begitu melihat ujung hotel tempat kami mengnap. Alhamdulillah. Setengah hari di Singapura berlalu dengan menyenangkan.

 

Bersambung ahhh…..pegel ni tangan ngetik di hape

 

 

di halaman depan hotel