| Rating: | ★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Sedikit membingungkan untuk menentukan siapa tokoh utama di film ini. Yang jelas, fokus utama ada pada Marandong, toko roti keluarga milik tiga bersaudara yang tercerai berai. Adalah Jun, a Japanese reporter, yang berada di Seoul, sedang mencari berita menarik untuk majalahnya. Ketika sedang mengejar seseorang yang setengah mabuk, terdamparlah Jun di sebuah toko roti tradisional kecil di tengah dempetan rumah2. Dengan setengah hati,Jun masuk ke toko yang dimiliki Sang Woo. Begitu lidahnya menyentuh salah satu panganan tradisional yang disuguhkan Sang Woo, terbeliaklah Jun. Muncullah ide menulis seputar Marandong ini untuk majalahnya. Kendala bahasa tidak menghalangi Jun berkat seorang tetangga yang pernah bersuamikan seorang Jepang.
Sang Woo mempunyai masalah dengan dua orang dalam komplotan mafia yang memintanya menutup toko. Sebelumnya tak ada kejelasan mengapa mereka menginginkan hal tersebut. Tangannya yang patah karena siksaan dua mafia tersebut, hampir membuatnya menutup Marandong. Untunglah, datanglah Sang Hyuk, musisi frustasi karena masalah pendengarannya. Sadar karirnya tak akan lama, Sang Hyuk kembali ke toko roti yang didirikan almarhum kakeknya. Sementara menunggu Sang Hyuk belajar singkat pada kakaknya, toko ditutup sementara. Memanfaatkan waktu tutupnya Marandong tua, muncullah Marandong baru. Dengan amarah yang meletup2, Sang Hyuk mendatangi toko roti modern ini. Tubuhnya langsung lunglai, begitu ia tahu siapa yang berada di belakang layar toko roti Marandong baru, Sang Jin, adik bungsunya.
Tiga bersaudara Sang, masing2 mempunyai hak untuk memakai nama Marandong. Sang Woo dan Sang Hyuk meminta Sang jin untuk mengganti nama tokonya. Tentu saja gagal. Maka diambillah jalan win win solution. Sang Hyuk dan Sang jin harus menjalani kompetisi memasak. Sang Hyuk yang baru saja belajar memasak, bersedia meladeni kompetisi ini, meski ditanggapi sedikit sangsi oleh kakaknya. On the D day, bisa lah ditebak, siapa yang menang. Masakan modern dengan rasa dan garnish yang dahsyat dari Sang jin, harus tekuk lutut dengan masakan sederhana penuh kenangan milik Sang Hyuk. Marandong tua penuh kenangan lah yang berhak bertahan.
Comments
Tidak begitu mengecewakan bagi saya dengan rasa penasaran yang saya simpan sejak tahun 2009. Jalan cerita yang sederhana dan menyentuh sempat membuat saya sedikit berkaca kaca ketika Jun berpisah dengan Sang bersaudara. Atas jasanyalah, keluarga Sang yang sempat tercerai berai kembali bersatu, meski secara tidak langsung. Tema seputar toko roti yang dimiliki turun temurun bukanlah sesuatu yang baru, tetapi kemasannya tetap saja menarik, buat saya.
Yang menjadi ganjalan sedikit adalah dandanan rambut Sang Hyuk dan diperankan oleh Kim Joong Hoon. Pertama saya kenal, Joong Hoon berperan sebagai pangeran kedua di drama Korea Princess Hours 1. Dandanan rambut sebagai pengeran tak ada bedanya dengan sosoknya sebagai musisi, begitu juga ketika kemudian berkecimpung di dapur toko roti. Ngga bisa dibayangkan repotnya memasak dengan poni yang menusuk nusuk mata hahaha... Dan sepertinya ini juga yang membuat saya pensiun menonton drama Korea...
