Pages

Thursday, December 29, 2011

Cafe Seoul (Korean Movie)

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
film produksi tahun 2009 ini sudah saya cari semenjak film ini bisa diakses di youtube. Saya coba mendonlot melalui youtube, sayangnya subtitle muncul secara online yang ngga bisa dibaca begitu donlotan selesai. Semenjak itu, saya browse kesana kemari, termasuk ke situs pengunggah film2 Asia, mysoju. Tak ada hasilnya pula meski dua kali saya kirim request. Rasa penasaran terhadap film ini semakin tinggi, meski saya ngga berharap terlalu tinggi dengan penasaran ini. Dan akhirnya, terjawab sudah begitu saya mendapatkan dvd berdurasi sekitar 1.30 jam di china town, Kuala Lumpur. Well, let's check a glance of movie review

Sedikit membingungkan untuk menentukan siapa tokoh utama di film ini. Yang jelas, fokus utama ada pada Marandong, toko roti keluarga milik tiga bersaudara yang tercerai berai. Adalah Jun, a Japanese reporter, yang berada di Seoul, sedang mencari berita menarik untuk majalahnya. Ketika sedang mengejar seseorang yang setengah mabuk, terdamparlah Jun di sebuah toko roti tradisional kecil di tengah dempetan rumah2. Dengan setengah hati,Jun masuk ke toko yang dimiliki Sang Woo. Begitu lidahnya menyentuh salah satu panganan tradisional yang disuguhkan Sang Woo, terbeliaklah Jun. Muncullah ide menulis seputar Marandong ini untuk majalahnya. Kendala bahasa tidak menghalangi Jun berkat seorang tetangga yang pernah bersuamikan seorang Jepang.

Sang Woo mempunyai masalah dengan dua orang dalam komplotan mafia yang memintanya menutup toko. Sebelumnya tak ada kejelasan mengapa mereka menginginkan hal tersebut. Tangannya yang patah karena siksaan dua mafia tersebut, hampir membuatnya menutup Marandong. Untunglah, datanglah Sang Hyuk, musisi frustasi karena masalah pendengarannya. Sadar karirnya tak akan lama, Sang Hyuk kembali ke toko roti yang didirikan almarhum kakeknya. Sementara menunggu Sang Hyuk belajar singkat pada kakaknya, toko ditutup sementara. Memanfaatkan waktu tutupnya Marandong tua, muncullah Marandong baru. Dengan amarah yang meletup2, Sang Hyuk mendatangi toko roti modern ini. Tubuhnya langsung lunglai, begitu ia tahu siapa yang berada di belakang layar toko roti Marandong baru, Sang Jin, adik bungsunya.

Tiga bersaudara Sang, masing2 mempunyai hak untuk memakai nama Marandong. Sang Woo dan Sang Hyuk meminta Sang jin untuk mengganti nama tokonya. Tentu saja gagal. Maka diambillah jalan win win solution. Sang Hyuk dan Sang jin harus menjalani kompetisi memasak. Sang Hyuk yang baru saja belajar memasak, bersedia meladeni kompetisi ini, meski ditanggapi sedikit sangsi oleh kakaknya. On the D day, bisa lah ditebak, siapa yang menang. Masakan modern dengan rasa dan garnish yang dahsyat dari Sang jin, harus tekuk lutut dengan masakan sederhana penuh kenangan milik Sang Hyuk. Marandong tua penuh kenangan lah yang berhak bertahan.

Comments
Tidak begitu mengecewakan bagi saya dengan rasa penasaran yang saya simpan sejak tahun 2009. Jalan cerita yang sederhana dan menyentuh sempat membuat saya sedikit berkaca kaca ketika Jun berpisah dengan Sang bersaudara. Atas jasanyalah, keluarga Sang yang sempat tercerai berai kembali bersatu, meski secara tidak langsung. Tema seputar toko roti yang dimiliki turun temurun bukanlah sesuatu yang baru, tetapi kemasannya tetap saja menarik, buat saya.

Yang menjadi ganjalan sedikit adalah dandanan rambut Sang Hyuk dan diperankan oleh Kim Joong Hoon. Pertama saya kenal, Joong Hoon berperan sebagai pangeran kedua di drama Korea Princess Hours 1. Dandanan rambut sebagai pengeran tak ada bedanya dengan sosoknya sebagai musisi, begitu juga ketika kemudian berkecimpung di dapur toko roti. Ngga bisa dibayangkan repotnya memasak dengan poni yang menusuk nusuk mata hahaha... Dan sepertinya ini juga yang membuat saya pensiun menonton drama Korea...

Wednesday, December 7, 2011

Antara Buku, E-book dan Software


Ketika saya masih kecil, ortu saya berlangganan 3 majalah anak2 sekaligus: Bobo, Ananda dan TomTom. Belum lagi beberapa cerita dari Album Cerita Ternama (ACT) yang juga menghiasi bacaan masa kecil saya. Sayang sekali, ketika saya mulai mengenal majalah yang lebih remaja, bapak saya malah menghentikan segala majalah tersebut. Padahal waktu itu saya mulai tertarik membaca Hai, dan majalah remaja penuh cerpen, Anita Cemerlang. Untunglah, saya tetap bisa membacanya meski harus meminjam sana sini. Belum lagi novel petualangan semacam Lima Sekawan dan beberapa buku karangan Enid Blyton yang kesemuanya bergantung dari pinjaman perpustakaan sekolah kakak saya yang waktu itu duduk di bangku SMA. Yah, uang jajan saya dan kakak2 saya memang tidak mencukupi untuk membeli majalah ataupun novel, maka jalan meminjam itu harus ditempuh. Maka tidak heran, ketika saya mulai mempunyai penghasilan sendiri, saya mulai membeli buku sendiri. Tidak terlalu banyak, karena saya masih saja tetap ingin meminjam saja hehe. Tetapi kebiasaan meminjam saya mulai berubah begitu teknologi telepon mulai support e-book reader, tetapi, apakah kemudian saya jadi lebih banyak membaca buku? Sayangnyaaaa…..

Seperti yang sudah pernah saya tulis mengenai e-book reader dalam tulisan review tentang Iriver Cover story eb05 wifi, saya sangat rajin mencari file2 di banyak website penyedia unduhan, seperti 4shared.com, filestube, torrent, dsb. Belum lagi saya menemukan beberapa website khusus penyedia ratusan ebook yang bisa diunduh tanpa menjadi anggota. Karena itulah, folder e-book di hard disc saya mulai membengkak. Dan apakah saya kemudian menjadi kutu buku akut dengan tumpukan buku itu? Ternyataaaaa…

Selain penggila buku unduhan, saya juga penggila software yang dipasang di hape. Bukan games atau aplikasi chat yang sering ditawarkan banyak website, melainkan software pembaca buku. Beberapa tahun lalu saya ‘ikhlas’ menerima buku elektronik berformat .jar untuk hape ber-java support. Akan tetapi semakin lama, ketidaknyamanan mulai timbul. Mulai dari file yang terpecah menjadi sangat banyak jika halaman buku mencapai ratusan, hingga batere yang boros karena light on terus menerus meskipun kondisi tidak sedang membaca. Mulai dari ketidaknyamanan itulah saya mulai browse ke sana kemari mencari pembaca buku lain yang nyaman. Saya menemukan software mobipocket ketika saya sedang ‘jalan2’ mencari e-book reader. Meskipun akhirnya saya memutuskan untuk membeli e-book reader bikinan Korea itu, sama sekali tidak menyurutkan saya untuk terus mencari pembaca buku baru untuk dipasang di hape (kemaruk.com hehehe).

Mobipocket adalah software pembaca buku yang dikhususkan pada hape ber-operating system symbian, windows, i-phone dan blackberry, dan tak ada file untuk hape berbasis java alias tak ber-OS. Kegembiraan saya menemukan mobipocket untuk nokia saya berujung ke ketidakpuasan lagi. Bagaimana mungkin saya puas karena tampilan font terlalu kecil dengan background putih tak tergantikan. Saya mulai mencari lagi untuk hape sony ericsson saya yang tanpa OS. Dengan kata kunci ‘mobipocket for java’, saya temukan apa yang saya cari di 4shared.com. dengan harap2 cemas, saya install software itu di hape. Voila, ajaib, file2 mobipocket itu bisa dengan nyaman saya baca. Lebih nyaman dibandingkan dengan hape layar lebar nokia saya. Font, theme, background color bisa enak saja saya ganti2. Yang menjadi masalah kemudian adalah pada pem-bookmark-an. Jika saya lupa me-remove bookmark di page tertentu, maka si mobi akan membuka bookmark pertama itu. Ditambah layar mungil elm dengan font besar, buku setebal 300-an halaman menjadi 3000an hingga 4000an. Entah berapa ribu kali saya harus menggeser ke page berikutnya hingga bacaan saya tamat.


Setelah sukses dengan mobi versi java, saya kembali mencari2 lagi software asik, yang lebih sempurna untuk membaca buku elektronik. Saya menemukan sebuah website yang menyediakan converter secara online untuk membuat buku berformat jar. Karena penasaran, saya coba menkonversi satu file, dan saya pun takjub dengan penampilan jar satu ini. File tak lagi terpotong-potong, masing chapter terpisah2 layaknya di buku, font, theme yang disesuaikan dengan keinginan, serasaaa…. Hebat nian si penemu converter ini.

Rasa kemaruk yang tidak diiringi dengan kemampuan seperti saya memang susah dicari obatnya. Meskipun nokia saya men-support PDF file, saya kepeingin elm saya juga mampu membaca, meski sederhana. Maka berangkatlah saya dalam pencarian tentang software tak bernama ini. Saya tersesat di sebuah website yang mengatakan perangkat lunak ini mampu membaca buku elektronik, namanya ngga jelas TCBR3- BETA. Semula saya masukkan file bentuk pdf ke elm saya, gagal. Baiklah, saya masukkan lagi file bentuk lain, jar, epub, tak mau juga. Akhirnya saya masukkan file ber-format fb2, berhasilll… Tapiii…. Kenapa juga saya repot2 membaca buku berformat ini, jika saya bisa membacanya di e-book reader saya? Meski demikian, saya install juga software ini di nokia saya. Wow, lebih keren tampilannya. Tampilan font menyediakan beberapa tawaran, Tahoma 20/ 24, large/ medium/ small font, background yang bisa dipilih, mulai dari parchment, Black on white, old crt, misty, pale gold. Membaca dengan pale gold serasa membaca di atas parkamen milik Harry Potter. Well, frankly, saya belum explore lebih jauh untuk software satu ini. Di awal instalasi, saya bahkan sempat berpikir untuk me-remove karena segala shortcut ada di angka2, dan tersebar tak keruan. Diawal2nya, saya pencet sana sini secara sembarang, dan mencoba menghafal bahwa angka ini adalah shortcut untuk itu dan ini untuk ini.

Yang terjadi kemudian dari baca membaca ini adalah ketika saya bergabung dengan komunitas pembaca buku, goodreads Indonesia. Dari beberapa teman yang mengapdet buku2 bacaan mereka, saya sesekali penasaran dengan buku2 tersebut. Sesekali saya temukan soft copy-nya, beberapa kudu membeli, bahkan secara online. Satu buku bahkan harus saya cetak saking penasarannya saya akan isi buku tersebut, padahal buku itu sedang didiskon di toko buku dengan harga hanya 10ribu. Dhueengg... Dengan banyaknya masukan dari teman2 saya di GRI, semakin banyak saja deretan keinginan saya membaca ini itu. Hadheehh...


Walhasil, yang terjadi sekarang adalah banyak buku yang statusnya sebagai 'currently reading'. Di e-reader saya, file terbuka adalah The Last Lecture, sementara di mobi elm, saya membaca The Demon's Rock-nya Famous Five, Rick Riordan, Percy Jackson chapter 2 bentuk jar terbaru di jar ebook reader nokia saya, buku kedua Michael Scott, The Magician ada di TCBR3-Beta nokia saya, sementara karya sastra Hamka, Di Bawah Lindungan Ka'bah ada di TCBR3-beta di elm saya. Untuk buku non virtual, saya baru saja mendapat pinjaman novel fantasy lokal dari teman baru saya di GRI Semarang, Ther Melian. Saya sih masih bisa beralasan kenapa saya masih menyimpan begitu banyak ebook di hape, karena saya tidak mungkin membawa bawa e-reader saya atau buku setebal 700halaman di kelas. Kalau hape, cukup umum jika di sela sela murid mengerjakan activity, saya iseng meneruskan bacaan ini atau itu, tergantung hape mana yang saya bawa ke kelas. The question is apakah saya akan menyelesaikan those currently reading books dengan software2 itu, liat saja nanti.

Friday, December 2, 2011

MANTAN

Saya baru saja selesai membaca salah satu tulisan pendek milik M. Sobary dalam bukunya Kang Sejo Melihat Tuhan. Tersentil sedikit, ngga terlalu parah karena tulisan ini bukan ditujukan untuk pejabat seperti saya. Tapi tetap saja tulisan ini menyindir saya.

Begini, dalam tulisannya, Sobary membandingkan antara tokoh utama, pendekar silat Mahesa Jenar dalam kisah karya S.H. Mintardja, Nagasasra Sabuk Inten, memilih meninggalkan jabatannya sebagai wiratamtama Kerajaan Demak, dan lebih memilih menjadi pendekar, hidup bersahaja, jauh dari kemewahan duniawi (hal. 106). Sebagai perbandingan Mahesa Jenar, sang penulis membandingkan dengan para mantan pejabat yang menganggap bahwa menjadi mantan adalah suatu hal yang menakutkan. Mungkin bahkan mewujud menjadi ketakutan itu sendiri. Maka, kalau menjadi mantan tak lagi terhindarkan, maunya mereka menjadi mantan yang makmur (hal. 108).

Melihat penjabaran tulisan diatas, sepertinya ngga ada bagian dimana saya tersentil. Well, mengingat saya bukanlah pejabat yang harus diangguki kemana kaki saya melangkah. Tetapi mengingat saya mempunyai pekerjaan yang dulu pernah saya geluti, siaran radio, maka keinginan untuk selalu didengar selalu ada. Untunglah saya sekarang berprofesi guru, saya masih mempunyai 'pendengar' aktif di kelas. Bagaimana kalau nanti saya menjadi mantan? Apakah nantinya saya tetap ingin di dengar? Tak tahulah.

Seorang teman saya yang lain (maap beribu maap jika dianya membaca tulisan ini) adalah mantan gitaris sebuah band lokal. Sekarang dia menjadi teman saya mengajar. Sebagai guru yang mantan gitaris, dia sering memberi lagu pada murid2nya, tidak berupa lirik untuk dipahami, melainkan 'let's sing together'. Obrolan seputar her glorious days ketika menjadi gitaris beberapa tahun lalu, masih terus didengungkan dengan kilatan kebahagiaan (kebanggaan) yang berkobar. Foto2nya dipanggung bahkan pernah dia sebarkan secara tertutup bagi kami, the females, karena di foto tersebut, dia masih berkaos seksi, tak seperti sekarang tertutup atas bawah.

Seorang teman yang lain, ibunya adalah mantan seorang pendidik alias guru. Masa pensiun alias masa menjadi mantan harus dilakoninya. Tak jarang, pride-nya sebagai mantan pendidik sering timbul tenggelam. Ketika timbul, dia bisa saja memanggil anak2 sekolah yang lewat rumahnya untuk meminta mereka cium tangan. Nasihat ini itu diberikan pada mereka tanpa diminta.

Well, leading dongeng, menjadi mantan tak harus seperti Mahesa Jenar yang memilih jalan sepi ing pamrih. Menjadi mantan nyata2 cukup menakutkan tapi tidak selalu harus ditakutkan. Kobaran semangat masa lalu terkadang memang cukup membakar. Yang diperlukan cukup menata hati, menyiapkan hati bagaimana nantinya menikmati menjadi mantan.