
Sekitar seminggu ini, saya mempunyai keponakan baru dari adik saya. Selama ini, saya mempunyai keponakan perempuan juga dari kakak saya, yang tentu saja memanggil saya ‘tante’. Panggilan tante ini sempat menjadi sedikit tanda tanya buat saya, ketika keponakan dari adik saya akan lahir. Tradisi di Jawa, anak dari kakak tentu akan memanggil adik, tante atau oom, jika laki. Sementara budhe atau pakdhe, jika lebih tua
Well, masalahnya adalah, saya ngga mau dipanggil budhe hahahaha…. Demikian juga kakak saya yang ngga mau dipanggil budhe, karena budhe itu, beberapa orang akan membayangkan seseorang setengah baya, sedikit gemuk dengan gelung dan…anda bayangkan sendiri. Kakak saya yang 10 tahun lebih tua dibanding adik saya saja ngga mau dipanggil budhe, gimana saya yang ‘hanya’ lebih tua enam tahun? Wkwkwkwk…
Walhasil, kakak saya minta dipanggil Mama Nana, sesuai dengan namanya, dan saya tetap sebagai tante Lala. Horeee…. Sebagian besar rekan kerja saya yang usianya dibawah saya, selalu memanggilkan saya sebagai tante bagi anak2 mereka, sebutan yang kemudian membuat saya sendiri rancu tiap ngobrol dengan murid di kelas, antara Miss Lala atau tante Lala hahahaha…. Bukannya apa2, ketika ngobrol dengan murid2, saya sering menyebut diri saya sebagai Ms. Lala dan jarang menggunakan kata ganti orang pertama, ‘Saya’. Suatu kali saya pernah melihat seorang murid saya berkerut kening ketika ngobrol dengan saya, dan saya baru ngeh, jangan2 saya kelepasan menyebut diri sendiri Tante Lala. Wkwkwkwk…
Sebagai single di usia lumayan tinggi begini, panggilan terkadang cukup mempengaruhi saya. Berpengaruh disini maksudnya saya bisa lebih bahagia ketika dipanggil ‘mbak’ dibanding ‘ibu’. Sebagai guru, tentu saya sering dipanggil ‘Ibu’ oleh murid ataupun orangtua murid. Yang ini saya tidak berkeberatan. Sementara rekan kerja yang rata2 lebih muda lebih banyak memanggil saya ‘mbak’, meski jarak usia kami terpaut cukup jauh. Begitu juga di komunitas sepeda dimana saya bergabung. Beberapa diantara mereka memanggil saya ‘mbak’ meski usia lebih tua, secara unggah ungguh Jawa, hal ini sangat biasa. Tentu saja saya senang hahaha. Sementara buat pendatang baru yang rata2 masih kuliah atau lulusan sekolah tinggi, sebagian mereka juga memanggil saya ‘mbak’. Mereka ini tentu tidak mempersoalkan berapa usia seseorang. Pokoknya memanggil ‘mbak’ terdengar lebih akrab dibanding ‘bu’ atau tante. Padahal kalo dilihat dari segi usia, mereka ini rata2 seusia dengan keponakan saya yang sudah duduk dibangku kuliah semester 3.
Overall, panggilan untuk seseorang terkadang membuat seseorang menjadi sangat ramah atau sebaliknya menjadi super jutek karena kurang mengena di hati. Seorang ibu2 di sebuah warung tiba2 bertanya pada saya sembari menunjuk ke adik saya yang notabene sama besarnya dengan saya, “Ini anaknya ya?”. Dalam kondisi nggondok, pengen sekali saya membalas, “Itu cucu2nya ya, mbah?” padahal jelas saya mendengar si anak bawel itu memanggilnya ‘bu’. Gggrrr….
ada tanganku nyempiiiillllll
ReplyDeleteBerbanding terbalik dengan saya.
ReplyDeleteMinggu lalu, saya mengantarkan kakak perempuan ke salon yang memiliki tempat cuci rambut tertutup, di mall yang tak jauh dr rumah. Saat menjemput, saya celingukan sana ini dan dikasih tau oleh orang salon kalau "lagi cuci rambut." Saya tinggalkan salon dan saya lanjutkan jalan2 di mall tersebut. Setelah selesai, kakak saya diberitahu oleh tukang salonnya," Anaknya tadi jemput, yang laki-laki, tinggi."
Kakak saya gumun maksimum karena beda umur kami hanya 7 tahun saja hehhehe....
Pastinya saya girang, walau ada sedihnya juga ada, dikit, krn dianggap anak2 :((
Udaaaa.... apa dong resep awet anak2nyaaa.... Aku juga mauuu......
ReplyDeletePositif thinking, dan gembira selalu :)
ReplyDeleteHihihi..... sok bener ya..... :))