Peamandangan di depanku setiap pagi adalah ritual yang selalu sama. Anak istriku berlomba saling memandikan satu sama selain; suatu ritual yang dimulai semenjak Rere berusia 3 tahun. Sering kali kutegur keduanya untuk mulai memulai privasi masing-masing, terutama untuk istriku. Rere, pria kecilku selalu menyukai memandikan mamanya, meski tidak memandikan dengan arti sesungguhnya. Dia hanya mencipratkan air ke tubuh mamanya yang sering kali menjerit kecil tiap kali air dingin menyentuh tubuhnya. Teguranku hanya berakhir dengan lirikan santai istriku dan celotehan cedal putraku.
Ritual selanjutnya adalah makan bersama. Sarapan oatmeal kesukaan mereka berdua selalu diwarnai dengan saling menyuap satu sama lain. Ceceran buliran oatmeal adalah anugrah bagi Piko, anjing pudel kesayangan keluarga. Lidahnya tak henti menjilat lantai dimana ceceran oatmeal itu jatuh. Beberapa kali teguranku melayang kepada mereka berdua, yang kudapatkan masih saja senyum dari mereka.
Hari ini istri dan anakku pulang cepat. Tidak biasanya mereka melakukan hal diluar kebiasaan. Kudengar suara pintu mobil di halaman menutup. Tamu spesialkah yang datang sehingga mereka harus menyambut kedatangannya. Seorang WNI keturunan berjalan bergandengan tangan dengan istri dan anakku. Dadaku terasa panas. Kutatap wajah ceria istriku yang menatapku sendu. Dengan perlahan dia meraihku. Pria itu dan anakku juga menatapku sambil menganggukkan kepala. Diriku melayang di tangan istriku dan mendarat di meja pemujaan. Mereka berdiri takzim, berdoa dengan hio-swa di tangan, meletakkannya di guci di depanku.
“Koh, saya menemukan penggantimu. Saya mohon berikan ijinmu,’ suara lirih istriku serasa menggelegar di telingaku.
No comments:
Post a Comment