Pagi, pukul 4.30, sebagian besar penghuni kamar saya yang berjumlah 4 orang sudah mulai menunjukkan kehidupan. Sebagian bangun untuk menjalankan sholat Shubuh, sebagian lainnya mulai mandi mengingat jumlah anggota peserta, 18 atau 16 orang ya, dengan dua kamar mandi di masing2 lantai. Saya sendiri sudah terbangun sebelum yang lainnya bangun karena sekujur tubuh terasa pegal. Entah karena efek tiduran lama di kapal atau bobot tas punggung yang audzubillah beratnya, atau efek kasur tipis yag tergelar di lantai hahaha…
Pukul 6 pagi, ada sedikit insiden di rumah tempat menginap karena seseorang yang sedang mandi dikejutkan dengan listrik mati. Gelap gulitalah di dalam kamar mandi. Kami baru sadar jika listrik di pulau ini hanya memancar sekitar 12 jam sehari more or less, mulai jam 5.30 PM-6.00 AM. Hasilnya, senter yang sudah di woro2 di website untuk dibawa, mulai menunjukkan aksinya. Listrik mati juga tidak menyurutkan bau sarapan pagi yang menggoda. Menu pagi itu adalah tumis kembang kol, wortel, sawi, ikan goreng, tempe goreng plus sambal nan pedas maknyus. Selama sarapan, kami, sebagian besar cewek, mulai ngrumpi sana sini. Bahasa Jawa di-ban disini karena sebagian besar peserta protes dengan mengatakan, “Roaming…. Roaming”. Wkwkwkwk
Sekitar pukul 7 lebih, mulailah kami keluar dari guest house menuju dermaga dimana kapal menanti untuk membawa kami explore dari satu pulau ke pulau lainnya. Sebagian peserta sudah tak sabar menanti di kapal lengkap dengan life vest. Saya yang baru pertama kali memakai, bingung juga hahaha. Apakah jika life vest kendor akan membahayakan jiwa? Hihihi… dan sebenarnya banyak life vest yang sudah tak lagi layak pakai karena lepasnya kancing, kendornya tali dsb. Tapi at least, lumayanlah, jika toh terjadi apa2, life vest itu tetap saja akan membuat kami mengambang.
Pulau Tengah adalah destinasi pertama kami. Banyak peserta yang duduk menghadap laut dengan kamera siap di tangan. Mengabadikan segala sudut pemandangan, arus gelombang yang mulai menderas, dan tak ketinggalan, memotret diri sendiri dengan kostum lengkap life vest hahaha. Masalah mulai muncul ketika kapal mulai bergoyang kencang seiring dengan angin besar yang bertiup. Beum lagi perikan air laut yang terasa dingin dan tentu saja, asiin. Awalnya, kami saling memekik-mekik seru tiap kali gelombang besar menerpa. Tapi lambat laun, suara riuh pekikan itu mulai menurun. Sebagai gantinya, sebagian peserta mulai merebahkan diri di kapal. Kepala mulai pusing, perut serasa diaduk-aduk tak nyaman. Dari sebagian yang mulai menunjukkan ketaklukan kepada besarnya gelombang adalah saya, hingga akhirnya saya harus say goodbye pada sarapan maknyus pagi tadi. Lega rasanya meski agak menyesal hehehe…
Sekitar 1 jam perjalanan di atas kapal, akhirnya sampailah kami di pulau nan indah bernama Pulau Tengah. Disini panitia menunjukkan cara menggunakan alat snorkel dan mewanti-wanti untuk berhati-hati memakainya. Saya and the gang tak begitu memperhatikan karena kemampuan berenang saya yang sangat cekak meski berlindung di balik life vest sekalipun. Owh, what a waste yah? Tapi itu tetap tidak mengurangi keasyikan kami menikmati pulau. Hamparan laut dengan air jernih, pasir putih, gelombang yang menepuk-nepuk kaki kami, serta pemandangan yang subhanallah indah sekali. Tak habis2 kami saling narsis berpoto, mencelup2kan diri dalam air. Oya, di pulau ini ada sebuah rumah yang sepertinya dulunya adalah rumah makan atau mungkin tempat peristirahatan, tapi tak lagi berfungsi. Tak ada warung ataupun toilet disini. Jadi, buat yang kebelet, silakan ke laut aja hahahaha.
Kelar dengan satu pulau, kami menuju ke Pulau Menjangan. Menurut panitia, di pulau ini kami akan menikmati makan siang, sholat Dzuhur dan istirahat sejenak. Meski dengan maparan pasir putih yang sama dengan pulau sebelumnya, tetap saja pulau ini mempunyai sudut yang berbeda untuk kembali menyalurkan bakat narsis kami. Sesuai yang dijanjikan panitia, di pantai ini kami bisa menyalurkan our natural calls secara proper serta makan siang. Menu makan siang, nasi plus ayam bumbu pedas menghilangkan rasa lapar saya. Tak jauh dari kami duduk makan siang, ada seorang penjual kelapa muda dan warung penjual gorengan. Lumayanlah untuk menghilangkan dahaga dari suhu panas sesiang ini. Belum lagi istirahat di bawah pohon nyiur dengan hembusan angin sepoi2, serasa inilah point dari holiday ini. Tapiiii…. Belum lagi saya memejamkan mata denga lelap, sorang panitia membangunkan kami, emngatakan untu segera pindah, sebelum sebutir kelapa yang bisa saja jatuh sewaktu waktu. Hiiiiiiii….. langsung saja kami ngacir wkwkwkwk
Sekitar pukul 3 sore, kami mulai meninggalkan pulau Menjangan menuju ke penangkaran ikan hiu. Jarak yang ditempuh lumayan juga. Perut kenyang, dan saya tak ingin kehilagan rasa nyaman di perut karena mabuk laut, saya pun langsung memilih merebahkan diri di badan kapal. Sebagian peserta lain menggigil kedinginan dengan baju (renang) yang masih basah kuyup. Begitu sampai di pulau penangkaran ikan hiu, pemandangan pertama yang tergelar bukan mereka yang akan ber-snorkel berenang bersama ikan hiu, melainkan mereka yang sudah ngga tahan menahan their natural calls. Antrian panjang orang2 dengan tampang tersiksa mengundang tawa. Sementara sebagian lagi sudah mulai menikmati pemandangan ikan2 hiu kecil plus ikan Nemo yang lucu2. Mereka riuh saling berteriak girang plus geli tiap kali seekor ikan menggingiti kaki mereka. Saya snediri mencoa memberanikan diri mencemplung ke penangkaran tersebut. Bodohnya, dengan kemampuan renng yang cekak, kenapa saya ngga memakai life vest ya? Jadinya, saya hanya nyemplung sebentar dan berjalan ke sana kemari dengan siksaan air asin masuk ke mulut dan hidung, saking ngga bisanya memakai snorkel hahahaha…. Dasaarrr….
Tak begitu lama di pulau ini, kami mulai meninggalkan pulai sekitar pukul 5 sore. Jarak tempuh dari tempat penangkaran ke dermaga tempat dimana kami menginaptak sampai 20 menit perjalanan. Dalam perjalanan pulang, sempat kami melihat sekali lagi sunset yang begitu indah. Sampai di tumah, mulailah kmi mengantri kamar mandi yang tak terbayang lamanya bakal mendapatkan giliran. Kenapa? Tentu saja karena sebagian besar dari kami bakal mencuci rambut yang basah karena air asin laut hahahaha.
Agenda malam yang kami tunggu malam itu adalah ikan bakar. Tanpa mengatakan apapun, ternyata kami mempunyai bayangan yang sama, ikan bakar bakal di gelar di suatu tempat dimana kami semua peserta wisatakita bakal bertemu satu sama lain. Bayangan itu langsung pupus begitu kami membaui ikan bakar di ruang makan. Weh, ternyata bakar ikan itu diadakan di guest house masing2. Wakakakak…. Sebenarnya akan lebih mengasyikkan jika kami semua berkumpul di satu tempat dan menikmati ikan bakar bersama sama. Meski demikian, tetap saja kami melahap ikan bakar yang berasal dari ikan sebesar lengan orang dewasa bernama panti ini dengan nikmat. Sambal kecap menambah nikmat makan malam kami. Dan berakhirlah malam kedua di Karimunjawa. (Bersambung)
No comments:
Post a Comment