Pages

Sunday, June 5, 2011

Harmony (Korean Movie-2010)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama

Film produksi 2010 ini terhitung baru, terutama beredar di situs2 film donlotan. Jangan harap melihat bintang2 muda macam SUJU atau SNSD disini. Semua pemain didominasi cewek usia 25 tahun ke atas dan jauh dari cerita pop corn cinta2 model Korea. Lebih dari setengah setting cerita berada di penjara wanita. Yup, cerita sentral berada pada sosok Hong Jeong hye, pembunuh suaminya yang sering melakukan physical abuse padanya. Ketika masuk penjara, Jeong hye sedang mengandung dan kemudian melahirkan di penjara wanita. Selain kisah Jeong hye, ada pula Kim Moon ok, mantan professor music, narapidana mati karena membunuh suami dan selingkuhan suaminya. Selain itu, kisah napi baru, Kang Hyu Mi, pembunuh bapak tiri yang bertahun melakukan sexual abuse padanya.

Terus kalo ceritanya tentang para napi wanita, kenapa judulnya Harmony ya? It has to be about music if the title is Harmony, right? Sabaarrr… review belum sampe kesana kok hehehe…. Bermula dari kekaguman Jeong Hye pada paduan suara yang menghibur para napi, dia berniat membuat paduan suara yang sama, hanya para penyanyinya tentu para napi setempat. Ide ini diperkuat dengan keinginannya mendapatkan one day out bersama putranya yang berusia 18 bulan sebelum masa adopsi tiba. Tentu saja dengan catatan dia berhasil membentuk para napi yang semula bersuara ngalor ngidul itu menjadi satu Harmony yang indah. Cita citanya ini didukung teman2nya dan terutama Kim Moon ok, yang bertekad mengisi sisa hidupnya dengan sesuatu yang berharga sebelum hukuman mati dijatuhkan padanya.


Sepanjang hampir dua jam film ini berlangsung. Saya yakin, banyak para penonton bakal tertawa geli melihat tingkah para napi yang tidak ada bedanya dengan napi pria, saling bully, terutama pada napi baru, dan senjata ampuhnya tentu adalah saling jambak. Belum ;ai suara Jeong hye yang jauh dari merdu, karena tiap kali dia nyanyi, sang putra akan menangis keras, ngga tahan dengan suara ibunya. Miris, karena terlihat kilasan flashback alasan beberapa napi berada dalam penjara. Rata2 mereka terlibat pembunuhan tak terencana, karena mereka membunuh dalam kondisi tertekan. Terharu, betapa dalam kondisi terisolasi, mereka sangat padu dalam merawat Min woo, putra semata wayang Jeong hye, sekaligus saling menguatkan satu sama lain ketika mereka ditolak anggota keluarga masing2.

Comments

4 bintang deh buat film ini karena membuat saya yang akhir2 ini sering ngantuk ketika nonton film dengan durasi lebih dari serial Merlin, wkwkwkwk… Selama 1.54 menit, saya betah nonton drama penuh haru biru plus mata bengkak karena ikut menangis bareng para napi… Satu bintang tidak saya berikan karena cerita model begini tentu tidak memberi suatu kejutan baru. Dengan kata lain, endingnya mudah ditebak meski prediksi saya cukup meleset di bagian akhir film. Kita tentu sudah mafhum jika film bercerita tentang tekad atau mimpi, pada akhir film biasanya akan happy ending. Yup, paduan suara para napi yang diberi nama Harmony choir ini cukup sukses dengan tampilnya mereka sebagai bintang tamu Kompetisi paduan suara wanita di luar penjara. Meleset, karena saya pikir happy ending akan berlaku juga pada para napi, entah grasi entah pembebasan hukuman pada Jeong hye atau Moon ok yang sudah bersusah payah mewujudkan mimpi mereka sekaligus membuat bangga para petinggi sipir. Klimaks film berpusar pada sosok Moon ok yang akhirnya tiba pada hari hukuman mati akan dijatuhkan padanya. Derai airmata para penghuni penjara berubah menjadi iringan lagu yang dinyanyikan dengan suara menahan isak, mengiringi kepergiannya, menuju akhir hidupnya…

Saturday, June 4, 2011

Nama panggilan. Does It Matter?

Sekitar seminggu ini, saya mempunyai keponakan baru dari adik saya. Selama ini, saya mempunyai keponakan perempuan juga dari kakak saya, yang tentu saja memanggil saya ‘tante’. Panggilan tante ini sempat menjadi sedikit tanda tanya buat saya, ketika keponakan dari adik saya akan lahir. Tradisi di Jawa, anak dari kakak tentu akan memanggil adik,  tante atau oom, jika laki. Sementara budhe atau pakdhe, jika lebih tua

Well, masalahnya adalah, saya ngga mau dipanggil budhe hahahaha…. Demikian juga kakak saya yang ngga mau dipanggil budhe, karena budhe itu, beberapa orang akan membayangkan seseorang setengah baya, sedikit gemuk dengan gelung dan…anda bayangkan sendiri. Kakak saya yang 10 tahun lebih tua dibanding adik saya saja ngga mau dipanggil budhe, gimana saya yang ‘hanya’ lebih tua enam tahun? Wkwkwkwk…

Walhasil, kakak saya minta dipanggil Mama Nana, sesuai dengan namanya, dan saya tetap sebagai tante Lala. Horeee….  Sebagian besar rekan kerja saya yang usianya dibawah saya, selalu memanggilkan saya sebagai tante bagi anak2 mereka, sebutan yang kemudian membuat saya sendiri rancu tiap ngobrol dengan murid di kelas, antara Miss Lala atau tante Lala hahahaha….  Bukannya apa2, ketika ngobrol dengan murid2, saya sering menyebut diri saya sebagai Ms. Lala dan jarang menggunakan kata ganti orang pertama, ‘Saya’. Suatu kali saya pernah melihat seorang murid saya berkerut kening ketika ngobrol dengan saya, dan saya baru ngeh, jangan2 saya kelepasan menyebut diri sendiri Tante Lala. Wkwkwkwk…

Sebagai single di usia lumayan tinggi begini, panggilan terkadang cukup mempengaruhi saya. Berpengaruh disini maksudnya saya bisa lebih bahagia ketika dipanggil ‘mbak’ dibanding ‘ibu’. Sebagai guru, tentu saya sering dipanggil ‘Ibu’ oleh murid ataupun orangtua murid. Yang ini saya tidak berkeberatan. Sementara rekan kerja yang rata2 lebih muda lebih banyak memanggil saya ‘mbak’, meski jarak usia kami terpaut cukup jauh. Begitu juga di komunitas sepeda dimana saya bergabung. Beberapa diantara mereka memanggil saya ‘mbak’ meski usia lebih tua, secara unggah ungguh Jawa, hal ini sangat biasa. Tentu saja saya senang hahaha. Sementara buat pendatang baru yang rata2 masih kuliah atau lulusan sekolah tinggi, sebagian mereka juga memanggil saya ‘mbak’. Mereka ini tentu tidak mempersoalkan berapa usia seseorang. Pokoknya memanggil ‘mbak’ terdengar lebih akrab dibanding ‘bu’ atau tante. Padahal kalo dilihat dari segi usia, mereka ini rata2 seusia dengan keponakan saya yang sudah duduk dibangku kuliah semester 3.

Overall, panggilan untuk seseorang terkadang membuat seseorang menjadi sangat ramah atau sebaliknya menjadi super jutek karena kurang mengena di hati. Seorang ibu2 di sebuah warung tiba2 bertanya pada saya sembari menunjuk ke adik saya yang notabene sama besarnya dengan saya, “Ini anaknya ya?”. Dalam kondisi nggondok, pengen sekali saya membalas, “Itu cucu2nya ya, mbah?” padahal jelas saya mendengar si anak bawel itu memanggilnya ‘bu’. Gggrrr….