Pages

Wednesday, May 18, 2011

Merlin TV Series

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Classics
Merlin TV Series
Mendengar nama Merlin pertama kali, satu hal yang saya ingat adalah exclamation dari Ron Weasley dalam novel Harry Potter tiap kali dia mendengar sesuatu yang mengagumkan atau mengejutkan, “Merlin beard!”, begitu katanya. Ketika seorang teman menawarkan serial berjumlah 3 season ini, yang saya bayangkan adalah sosok tua berjenggot. Ternyata saya salah. Dan inilah yang akhirnya menggeser drama Korea dalam kehidupan saya.
Serial produksi BBC ini pertama mengudara pada tahun 2008. Serial ini berpusat pada tokoh utama si penyihir yang berperan sangat penting bagi raja Arthur sebelum datang masa pemerintahannya di negeri Britain. Merlin, pada season pertama, berperan sebagai pembantu pangeran Arthur yang nantinya akan berganti peran menjadi penasehat di season berikutnya. Beberapa tokoh lainnya, serial berjumlah 13 episode di tiap seasonnya, tetap setia menghadirkan tokoh2 utama dalam legenda King Arthur. Nama2 Morgana, Lancelot, Guinevere, Mordred, Gwaine, dll, hadir dengan karakter masing2.

TWISTS

Saya menyelesaikan serial 3 season ini dalam waktu sekitar 2 minggu. Serial hasil donlotan seorang teman ini cukup membuat saya khawatir, karena saya takut akan segera merindukannya begitu season 3 selesai saya tonton, maka saya irit2 lah masa menonton saya hahaha. Tetapi, karena penasaran, maka akhirnya dengan berat hati, saya selesaikan saja keseluruhan season. Dan, benar saja, minggu2 berikutnya, saya selalu dilanda rindu dengan serial ini hingga saya ulang2lah episode2 yang saya suka. Dan karena itu pula, saya cari segala pernak pernik tentang Merlin ataupun tentang King Arthur, baik dari referensi online Wikipedia ataupun film2 yang pernah beredar di tahun2 sebelum dirilisnya Merlin TV series.
Nah, berikut ini adalah beberapa twists yang membuat saya betah berlama-lama menonton sekaligus mengulang2 beberapa episodenya:

1. Merlin

Dalam pakem cerita King Arthur, ataupun Merlin, usia Merlin bisa dua kali lipat usia Arthur. Namun dalam serial TV ini, diceritakan Merlin berusia hampir sama dengan Arthur. Mereka tidak lebih dari dua sahabat yang saling membantu, dibandingkan hubungan pangeran dengan pembantunya. Merlin, dalam film King Arthur produksi 2004 yang memasang Clive Owen sebagai Arthur, sempat berseilisih paham dengan Merlin yang sudah beruban, berjenggot dan tentu saja tua. Sementara Arthur masih muda, nggantheng pula hahaha…

Menurut saya, twist usia ini sangat menyenangkan bagi penonton muda ataupun penonton yang tidak mempunyai latar belakang history tentang kisah klasik ini. Jika mereka bertengkar, tidak ubahnya dua sahabat yang saling berbeda pendapat ataupun dua sahabat yang saling mengejek satu sama lain. Colin Morgan sebagai Merlin, menurut saya, mempunyai wajah ‘sangat Merlin’. Bahkan ketika saya melihat Colin Morgan dalam interview, gaya bicaranya sangat bukan siapa2, seperti bukan bintang serial yang sudah ditonton berjuta penonton. Seperti Merlin yang berjasa banyak pada Arrthur atau Camelot, namun hanya Gaius yang mengetahuinya. Dan penonton tentunya.
Sosok Merlin sabagai penyihir, dalam referensi, tidak begitu menyukai kemampuan sihirnya sendiri. Maka, dalam cerita2 yang lain, sangat jarang terlihat Merlin memanfaatkan kemampuan sihirnya. Sementara dalam serial BBC ini, Merlin sangat royal menunjukkan kemampuan sihirnya. Bukan hanya untuk hal2 penting, bahkan untuk sekedar ‘mengerjai’ Arthur atau orang lain pun, dia terlihat sangat menikmati bakatnya.

2. Arthur

Dalam beberapa referensi, Arthur ini dikisahkan sebagai illegitimate son of Uther Pendragon. Kelahirannya direncanakan oleh Merlin sebagai pewaris tahta, menyingkirkan Morgana yang jahat. Namun, dalam kisah serial ini, Arthur dikisahkan sebagai anak sah Uther dari seorang ibu yang sudah meninggal, Ygraine, yang lahir berkat kolaborasi Uther dengan sorcerer.

3. Morgana/ Morgan.

Ada persamaan di sana sini tentang sosok Morgana ini dari kisah yang sudah dikenal umum dan di serial Merlin ini. Morgan adalah sorceress atau witch yang nantinya akan menjadi musuh utama Merlin. Dalam serial ini, si penulis script ingin menghadirkan perubahan karakter pada sosok Morgana yang pada season awal, sangat baik hati meskipun sering beradu argument dengan Uther Pendragon tentang kebijakannya membunuh para sorcerers. Saya yang tidak sengaja mendengar obrolan spoiler dari teman saya, sedikit kecewa ketika nantinya dia bakal bertransformasi menjadi pengkhianat dalam istana Camelot. Namun, akhirnya saya bisa juga menerima dan sekaligus menikmati sosok musuh dalam selimut dalam serial ini.

4. Guinevere
Seorang teman saya ‘sangat kecewa’ dengan pemilihan pemeran Gwen dalam serial ini. Dia pikir bahwa demi meredam racial, maka dipilihlah Gwen yang berkulit hitam sebagai pemerannya. Ketika saya bandingkan antara Gwen di film King Arhtur dan Camelot, Gwen di serial Merlin ini memang ‘kurang eye catching’, hehehe. Tapi si penulis cerita menempatkan Gwen ini sebagai pembantu Morgana. Menurut saya sih wajar saja jika Gwen ini berkulit hitam dan nantinya bakal mencuri hati Arthur dan sekaligus menjadi the Queen of Camelot, karena pakemnya memang begitu, regardless the skin color.

5. Camelot

Negara cikal bakal Britain ini dikisahkan sangat tidak ramah dengan penyihir. Semua orang yang mempunyai kemampuan sihir akan dibasmi. Yang menarik, justru Merlin, si young warlock, hidup di tengah2 dinding Camelot, bersahabat dekat dengan Arthur, putra raja yang membantai semua sorcerers tanpa ampun. Dalam serial Camelot, Merlin yang mempunyai kemampuan sihir plus obat2an, sangat dikenal luas sebagai penyihir pendamping raja.

6. Other characters

Beberapa karakter tambahan diciptakan disini, untuk memperjelas suatu karkter ataupun berperan cukup signifikan demi memperjelas masa lalu suatu karakter. Gaius misalnya. Perannya sebagai physician istana sangat memperjelas suatu karakter tentang masa lalunya. Masa lalu Morgana misalnya yang ternyata mempunyai half sister, Morgouse, yang ternyata adalah sorceress hebat. Ibu Merlin, Hunith, juga dciptakan dalam serial ini untuk memberi tahu bagaaimana seorang Merlin mendapatkan bakatnya sebagai warlock. Sosok ganas sekaligus bersahabat, Kylgarah, alias si dragon, mempunyai peran yang sangat signifikan bagi seorang Merlin yang baru menyadari bahwa hidupnya sudah ditakdirkan demi masa depan Britain, mendampingi Arthur.

COMEDY TOUCH

Beberapa film yang mengangkat kisah Arthur ataupun Merlin, sering kali ber-genre serius karena latar belakang perang dan peralalihan antara Old Religion, Saxon serta Pagan. Film Merlin produksi tahun 1998, saya dapat mengunduh dari youtube, sentuhan komedinya cukup mengganggu dan aneh. Film King Arthur yang dibintangi Clive Owen terlalu serius membuat saya terkantuk kantuk hahaha. Kalo bukan adegan yang cukup hot antara Arthur dan Guinevere, yang tidak bakal ditemukan di serial Merlin, saya mungkin sudah pulas tidur di depan computer.

Berbeda dari film layar lebarnya, cerita yang berangkat dari novel Geoffrey Mornmouth ini sangat menghibur, bisa dikatakan komplet dengan segala suasana. Adegan konyol yang dilakukan Merlin ataupun Arthur seringkali mencairkan suasana tegang yang terbangun dari konflik cerita. Sayangnya, terkadang, dalam satu episode, tak jelas mengapa cerita itu musti dihadirkan. Misalnya cerita tentang goblin, changeling dan beberapa episode lain. Mungkin saja sebagai hiburan di tengah konflik panas antara dendam para sorcerers dengan Uther Pendragon.

Well, overall, serial ini bisa direkomendasikan untuk ditonton segala usia. Teman kantor saya bahkan menggubahnya disana sini menjadi dongeng sebelum tidur anak2nya. Dan jika mereka penasaran, sang mama bisa saja mengajak mereka menonton bersama. Sayang, season 4 masih harus sabar menanti hingga September atau October mendatang. Seorang fans menulis di akun twitter #Merlin, ‘this waiting is killing me. Aaarrghhh.. it’s killing me, too.

Sunday, May 8, 2011

Berkumpulnya kembali Balung Pisah


Sabtu pagi, May 7, 2011

Tanpa disangka sangka, saya menerima sms dari seorang temana lama saya yang mengabarkan berita mengejutkan sekaligus menyenangkan. Seorang teman lama akan datang, tepatnya pulang kampong dan berharap kami, para teman lamanya bisa berkumpul. Berkumpul untuk menyambutnya?  Hmmm…. Mungkin  ada beberapa diantara kami yang menolak istilah yang sedikit menyanjungnya bak selebriti yang datang dan kami menyambutnya. Tapi mau tidak mau, memang itu adalah istilah yang paling tepat. Kami, entah kenapa selalu mampu berusaha semaksimal mugkin untuk berkumpul. Menyambutnya. Apakah teman lama kami ini sudah menjadi orang penting? Hehehe… jawabnya ada di cerita berikut ini.

Minggu, May 8, 2011

Jam sudah menunjukkan angka 13.00. saya sudah berdiri di depan mantan gedung kantor tempat saya dan belasan teman saya yang lain pernah bernaung belasan tahun lalu. Kondisinya sangat menyedihkan sekaligus menyeramkan karena mangkrak bertahun-tahun. Tanpa menunggu lama, dua orang teman yang lain tiba di tempat saya menunggu. Tanpa menengok kedua kali ke gedung yang mempertemukan kami semua, kami langsung meninggalkan tempat menuju tempat makan siang sekaligus tempat untuk menyambutnya teman kami.

Tibalah kami bertiga di warung Wedangan yang bertempat tidak jauh dari tempat kerja kenangan kami. Tanpa menunggu lama, satu persatu crew radio yang dulu berada di jalur AM 936 mulai berdatangan. Perasaan haru mulai menyeruak. Beberapa mulai berkaca-kaca ketika saling peluk. Terasa sudah suasana reuni kali ini sangat special. Tahun2 sebelumnya, kami pernah juga berkumpul, dan selalu saja bertepatan dengan datangnya teman kami yang fenomenal ini. Dan akhirnya, tibalah sosok yang kami tunggu. Seorang kawan yang selalu mampu membuat kami selalu berkumpul untuk menyambutnya, di segala situasi, baik sibuk ataupun mendadak. Dia sebenarnya bukanlah selebriti, melainkan seorang teman yang kebetulan menikah dengan pria berkebangsaan Inggris dan tinggal disana. Saat2 tertentu mereka pulang, ritual berkumpul ini selalu berulang. Dan selalu saya akui, selalu meriah dan semuanya selalu rela menyediakan waktunya untuk sahabat yang dulu aktif di LSM ini.

Makan siang kami lewatkan dengan hahahihi plus foto2. Bukan reuni mantan penyiar namanya kalo tidak ramai gegap gempita. Semua bercerita, semua mendengar, semua tertawa, bahkan ada beberapa yang merasa masih seperti mimpi ketika kembali bertemu dengan teman setelah belasan tahun tak bersua. Saya bisa katakan ada beberapa perubahan mencolok , tetapitetap selalu saja masih ada beberapa hal yang awet, alias tidak berubah. Perubahan yang mencolok tentu saja pada bentuk tubuh dari masing2 kami yang tidak bisa dipungkiri tingkat bengkaknya. Factor U bisa saja disalahkan. Usia yang berada diatas 30 tahun, bisa jadi alasan utama mengapa kami susah diet hahahaha. Selain factor U, mungkin ada factor K, alias kemakmuran hahaha…. Alhamdulillah. Hal yang tidak berubah pada tingkat kehebohan ketika kami berkumpul. Hal2 konyol selalu saja muncul dari beberapa diantara kami. Dudung misalnya, masih awet dengan kegilaannya (seharusnya dia menjadi artis Youtube, agar lebih banyak orang mengakui kegilaannya hahaha… Piss ya, Dung). Yang sedikit mengherankan, wajah2 beberapa teman kami yang sudah belasan tahun tak bertemu, yang dulu setia menyediakan konsumsi di setiap miting, dan juga teman yang dulu mengurusi bagian administrasi dan iklan yang masuk, sama sekali tak berubah. Apakah mereka mengkonsumsi obat anti menua ya? Hihihihi….

Setelah puas, makan, bercerita dan berpoto2, kami pun mulai berkemas. Kali ini kami menuju ke gedung yang menyimpan beribu kenangan. Beberapa menyebut ini sebagai napak tilas. Sayangnya, napak tilas ini tidak bisa sepenuhnya kami lakukan. Jalan menuju ke gedung sudah tertutup dengan semak belukar, banjir sepanjang masa yang menggenangi ruang dalam gedung menutup kemungkinan bagi kami untuk memandang ruang2 dalam gedung. Akhirnya kami memutuskan untuk berpose di luar halaman di kantor yang beralamat di Satria Utara ini. Berkumpulnya belasan orang di depan rumah yang terletak di permukiman penduduk ini tentu saja mearik perhatian warga sekitar. Beberapa orang tetangga sekitar mulai keluar rumah, memandang tingkah aneh kami yang berpoto narsis di depan rumah yang dikenal berhantu ini.  Menyadari ini, kami mulai berkemas, meninggalkan lokasi sebelum warga menanyakan sesuatu pada kami. Atau parahnya meminta pertanggungjawaban kami akan terbengkalainya gedung yang santer dengan keluarga hantunya (seorang teman mengatakan adanya hantu kakek dan cucu perempuannya disana. Hiiiiiii).

Acara berikutnya adalah menuju rumah penasehat radio yang beberapa waktu lalu dikabarkan terkena stroke. Perjalanan ditempuh dengan tiga mobil mwnuju daerah Kaligawe. Harus saya akui daya ingat teman saya yang masih hapal luar kepala rumah rekan yang juga berbelas tahun tak saling jumpa, dan entah berapa belas tahun tak berkunjung ke rumah tersebut. Hal yang tidak masuk akal terjadi sesaat kami tiba di rumah yang kami tuju. Teriakan permisi kami saya sekali dianggap angin lalu oleh si pemilik rumah. Usaha membuka pintu gerbang mulai dilakukan. Bahkan ada yang bermaksud memanjat pintu gerbang demi meraih pintu ruang tamu. Untunglah semua itu tidak lagi perlu dilakukan karena ternyata letak rumah yang dimaksud berada disamping rumah yang sedang kami gedor2. Wakakakak… lupa adalah alas an yang sangaaattt manusiawi.

Ngobrol dilanjutkan begitu si empunya rumah mempersilakan kami duduk. Tidak saya lihat adanya kaca2 di mata teman2 saya atau saya yang tidak memperhatikan. Obrolan didominasi para tetua radio seputar kondisi PRSSNI saat ini dan bla bal bla. Sesekali diinterupsi dengan teriakan norak Dudung yang merasa kehausan sekaligus mencari perhatian. Hahahaha…. Dan, tentu saja sesi poto2 kembali berlangsung. Puaaasss rasanya acar berkumpul kali ini.

Well, harus saya akui, acara kumpul2 ini tidak akan pernah terjadi jika sahabat dari jauh ini tidak muncul. Saling ajak berkumpul atau sekedar menengok rekan yang sakit bukan alasan yang tepat untuk membuat kami berkumpul seperti ini. Sahabat inilah lem perekat kami untuk kembali mengingatkan bahwa kami pernah mempunyai cerita suka duka bersama. Kami berangkat dari sebuah kantor kecil yang saat ini kondisinya sangat mengenaskan tetapi ternyata mampu mengingatkan bahwa kami ini adalah keluarga sesuai slogan ketika kami mengudara dulu, “PASOPATI, THE FAMILY STATION”.

Thanks to you, Tary and Stuart Thewlis.  We love you.