Sabtu pagi, May 7, 2011
Tanpa disangka sangka, saya menerima sms dari seorang temana lama saya yang mengabarkan berita mengejutkan sekaligus menyenangkan. Seorang teman lama akan datang, tepatnya pulang kampong dan berharap kami, para teman lamanya bisa berkumpul. Berkumpul untuk menyambutnya? Hmmm…. Mungkin ada beberapa diantara kami yang menolak istilah yang sedikit menyanjungnya bak selebriti yang datang dan kami menyambutnya. Tapi mau tidak mau, memang itu adalah istilah yang paling tepat. Kami, entah kenapa selalu mampu berusaha semaksimal mugkin untuk berkumpul. Menyambutnya. Apakah teman lama kami ini sudah menjadi orang penting? Hehehe… jawabnya ada di cerita berikut ini.
Minggu, May 8, 2011
Jam sudah menunjukkan angka 13.00. saya sudah berdiri di depan mantan gedung kantor tempat saya dan belasan teman saya yang lain pernah bernaung belasan tahun lalu. Kondisinya sangat menyedihkan sekaligus menyeramkan karena mangkrak bertahun-tahun. Tanpa menunggu lama, dua orang teman yang lain tiba di tempat saya menunggu. Tanpa menengok kedua kali ke gedung yang mempertemukan kami semua, kami langsung meninggalkan tempat menuju tempat makan siang sekaligus tempat untuk menyambutnya teman kami.
Tibalah kami bertiga di warung Wedangan yang bertempat tidak jauh dari tempat kerja kenangan kami. Tanpa menunggu lama, satu persatu crew radio yang dulu berada di jalur AM 936 mulai berdatangan. Perasaan haru mulai menyeruak. Beberapa mulai berkaca-kaca ketika saling peluk. Terasa sudah suasana reuni kali ini sangat special. Tahun2 sebelumnya, kami pernah juga berkumpul, dan selalu saja bertepatan dengan datangnya teman kami yang fenomenal ini. Dan akhirnya, tibalah sosok yang kami tunggu. Seorang kawan yang selalu mampu membuat kami selalu berkumpul untuk menyambutnya, di segala situasi, baik sibuk ataupun mendadak. Dia sebenarnya bukanlah selebriti, melainkan seorang teman yang kebetulan menikah dengan pria berkebangsaan Inggris dan tinggal disana. Saat2 tertentu mereka pulang, ritual berkumpul ini selalu berulang. Dan selalu saya akui, selalu meriah dan semuanya selalu rela menyediakan waktunya untuk sahabat yang dulu aktif di LSM ini.
Makan siang kami lewatkan dengan hahahihi plus foto2. Bukan reuni mantan penyiar namanya kalo tidak ramai gegap gempita. Semua bercerita, semua mendengar, semua tertawa, bahkan ada beberapa yang merasa masih seperti mimpi ketika kembali bertemu dengan teman setelah belasan tahun tak bersua. Saya bisa katakan ada beberapa perubahan mencolok , tetapitetap selalu saja masih ada beberapa hal yang awet, alias tidak berubah. Perubahan yang mencolok tentu saja pada bentuk tubuh dari masing2 kami yang tidak bisa dipungkiri tingkat bengkaknya. Factor U bisa saja disalahkan. Usia yang berada diatas 30 tahun, bisa jadi alasan utama mengapa kami susah diet hahahaha. Selain factor U, mungkin ada factor K, alias kemakmuran hahaha…. Alhamdulillah. Hal yang tidak berubah pada tingkat kehebohan ketika kami berkumpul. Hal2 konyol selalu saja muncul dari beberapa diantara kami. Dudung misalnya, masih awet dengan kegilaannya (seharusnya dia menjadi artis Youtube, agar lebih banyak orang mengakui kegilaannya hahaha… Piss ya, Dung). Yang sedikit mengherankan, wajah2 beberapa teman kami yang sudah belasan tahun tak bertemu, yang dulu setia menyediakan konsumsi di setiap miting, dan juga teman yang dulu mengurusi bagian administrasi dan iklan yang masuk, sama sekali tak berubah. Apakah mereka mengkonsumsi obat anti menua ya? Hihihihi….
Setelah puas, makan, bercerita dan berpoto2, kami pun mulai berkemas. Kali ini kami menuju ke gedung yang menyimpan beribu kenangan. Beberapa menyebut ini sebagai napak tilas. Sayangnya, napak tilas ini tidak bisa sepenuhnya kami lakukan. Jalan menuju ke gedung sudah tertutup dengan semak belukar, banjir sepanjang masa yang menggenangi ruang dalam gedung menutup kemungkinan bagi kami untuk memandang ruang2 dalam gedung. Akhirnya kami memutuskan untuk berpose di luar halaman di kantor yang beralamat di Satria Utara ini. Berkumpulnya belasan orang di depan rumah yang terletak di permukiman penduduk ini tentu saja mearik perhatian warga sekitar. Beberapa orang tetangga sekitar mulai keluar rumah, memandang tingkah aneh kami yang berpoto narsis di depan rumah yang dikenal berhantu ini. Menyadari ini, kami mulai berkemas, meninggalkan lokasi sebelum warga menanyakan sesuatu pada kami. Atau parahnya meminta pertanggungjawaban kami akan terbengkalainya gedung yang santer dengan keluarga hantunya (seorang teman mengatakan adanya hantu kakek dan cucu perempuannya disana. Hiiiiiii).
Acara berikutnya adalah menuju rumah penasehat radio yang beberapa waktu lalu dikabarkan terkena stroke. Perjalanan ditempuh dengan tiga mobil mwnuju daerah Kaligawe. Harus saya akui daya ingat teman saya yang masih hapal luar kepala rumah rekan yang juga berbelas tahun tak saling jumpa, dan entah berapa belas tahun tak berkunjung ke rumah tersebut. Hal yang tidak masuk akal terjadi sesaat kami tiba di rumah yang kami tuju. Teriakan permisi kami saya sekali dianggap angin lalu oleh si pemilik rumah. Usaha membuka pintu gerbang mulai dilakukan. Bahkan ada yang bermaksud memanjat pintu gerbang demi meraih pintu ruang tamu. Untunglah semua itu tidak lagi perlu dilakukan karena ternyata letak rumah yang dimaksud berada disamping rumah yang sedang kami gedor2. Wakakakak… lupa adalah alas an yang sangaaattt manusiawi.
Ngobrol dilanjutkan begitu si empunya rumah mempersilakan kami duduk. Tidak saya lihat adanya kaca2 di mata teman2 saya atau saya yang tidak memperhatikan. Obrolan didominasi para tetua radio seputar kondisi PRSSNI saat ini dan bla bal bla. Sesekali diinterupsi dengan teriakan norak Dudung yang merasa kehausan sekaligus mencari perhatian. Hahahaha…. Dan, tentu saja sesi poto2 kembali berlangsung. Puaaasss rasanya acar berkumpul kali ini.
Well, harus saya akui, acara kumpul2 ini tidak akan pernah terjadi jika sahabat dari jauh ini tidak muncul. Saling ajak berkumpul atau sekedar menengok rekan yang sakit bukan alasan yang tepat untuk membuat kami berkumpul seperti ini. Sahabat inilah lem perekat kami untuk kembali mengingatkan bahwa kami pernah mempunyai cerita suka duka bersama. Kami berangkat dari sebuah kantor kecil yang saat ini kondisinya sangat mengenaskan tetapi ternyata mampu mengingatkan bahwa kami ini adalah keluarga sesuai slogan ketika kami mengudara dulu, “PASOPATI, THE FAMILY STATION”.
Thanks to you, Tary and Stuart Thewlis. We love you.
Wealaaaah Tary mulih? Enak yaaa reunine... Akankah mungkin SS begini :p
ReplyDeleteMulane d'e muleh kuwi dadi iso kumpul ngene
ReplyDeleteSS reuni? hahaha.... ngilangke loro ati sik karo kakange wkwkwkwk....