Nasi jamblang seperti banyak orang tahu adalah makanan khas kota Cirebon. Pertama kali saya dengar nama ini, yang terbayang dalam pikiran saya adalah buah jamblang, buah warna hitam gemuk yang membuat gigi pemakannya hitam, hehe. Ternyata bukan, bahkan tidak ada hubungan sama sekali dengan buah colongan jaman saya kecil dulu. Yang pengen saya tulis disini adalah pengalaman saya dari tahun ke tahun menikmati makanan khas ini.
Dimulai ketika kakak sulung saya pindah ke kota Cirebon. Awalnya, tahun pertama sebelum kakak saya mempunyai rumah sendiri, saya dan saudara2 saya belum berkunjung ke sana. Begitu kehidupan kakak lumayan settled dengan rumah mungilnya, dia baru berani mengajak saya, dan saudara saya yang lain serta ibu saya datang berkunjung. Itu sekitar 20 tahun lalu.
Sebagai tuan rumah, kakak saya mengajak saya ke nasi jamblang terdekat, yaitu nasi jamblang Mang Dul. Kesan pertama cukup membuat saya geli. Bagaimana tidak? Makan dengan daun jati yang dibentuk seperti pincuk tanpa lidi (biting) cukup membuat repot tangan yang merasa kepanasan karena nasinya yang masih mengepul. Belum ada piring pada waktu itu, hanya sendok yg cukup'menyelamatkan tangan saya hahaha.
Menu yang saya pilih seingat saya tidak berubah banyak. Nasi 2, sambal 2, tahu sayur, telur bulat atau telur dadar, ayam goreng, perkedel kentang atau perkedel rempah dan krupuk. Sementara sebenarnya banyak pilihan lain yang bisa saja memperkaya rasa lidah saya, seperti daging, paru, dll. Jauh sebelum saya menjadi setengah vegetari, pilihan saya sudah terbatas, apalagi sekarang? Hihihi.
Saya masih ingat ketika ponakan saya masih kecil, kelihatan bengong ketika pertama kali mencicipi nasi jamblang ini. Belum lagi teh tawar yang dihidangkan gratis membuatnya tak begitu semangat dengan yang namanya nasi jamblang. Tahu sayur bisa dibilang menu spesial dari jambalng ini, sementara ponakan ini tidak nge-fans dengan yang namanya tahu. Nasiiibbb... Biarpun dia tidak begitu cocok dengan makanan khas ini, tidak demikian dengan banyak penduduk Cirebon ataupun para pendatang. Mobil2 bagus berderet di parkiran, belum lagi motor, dan juga sepeda onthel semua menghiasi parkiran dimana rumah makan memasang tulisan nasi Jamblang. Menu semua kalangan deh pokoknya.
Bertahun berlalu. Beberapa perubahan mulai terasa. Kalo dulu, cukup daun jati sebagai dasar nasi, sekarang cukup dimudahkan dengan adanya piring plastic. Jadi buat mereka yang belum pernah makan dengan pincuk, lebih mudah memegangnya. Dalam soal penghitungan pun cukup berubah meski tidak begitu drastis. Dulu saya sangat amazed dengan kemampuan hitung2an akuntan nasi jamblang. Jika saya datang bertiga atau berempat, selesai makan kami akan berdiri berbaris menyebutkan apa saja yang kami nikmati. Tanpa kalkulator, si akuntan langsung menambahkan dari satu orang ke orang lain hingga lengkap jumlah bill kami berempat. Tapi sekarang, minggu lalu ketika saya berkunjung ke nasi jamblang pelabuhan, pengitungan dilakukan dengan menunjukkan piring berisi menu. Dan langsung dibayar. Penambahan kurupuk atau teh manis bisa dibayar kemudian.
Perubahan terakhir yang membuat saya ingin menulis blog ini adalah adanya music live yang menemani para tamu di warung ini. Ketika saya datang, saya pikir mereka adalah pengamen yang lewat. Tetapi setelah saya selesai memilih menu, membayar, dan duduk menikmati hidangan, mereka masih saja berdiri di pojok. Terdiri dari tiga orang, 1 orang sebagai vokalis dan dua yang lain sebagai pemegang alat instrument. Lagu2 yang mereka bawakan adalah lagu dangdut melayu. Yang masih ingat dan terngiang sampe sekarang adalah lagu yang pernah dipopulerkan oleh Ikke Nurjanah (ngga tahu siapa yang pertama kali menyanyikan lagu ini
“Bungakuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu….. Dahliaaaaa…….
Duhai bunga pujaan
Kau bunga dahlia
Oh bunga kesayangan
Kau bunga dahlia”
lha endi fotone panganane?
ReplyDeletelaper.....
ReplyDeletehehehe... soriii... kemaren gam motret... Mung live music e tokk...
ReplyDelete... ya makan....
ReplyDelete