Pages

Thursday, March 17, 2011

Catatan Perjalanan ke Singapore (Day 1)

Day 1 To Singapore

 

Hari pertama outing ke S'pore. Well, all participants already waited for this moment. Maklum saja. Sebagian besar diantara kami balum pernah mengecap tanah negri sebrang. Paspor yg sdh diurus jauh2 hari seolah sdh jadi down payment tentang mimpi outing ke S'pore ini.

 

Saya tiba di airport tepat pukul 10, setengah jam lebih awal dari perjanjian. Bukan karena saya sangat kebelet segera pergi ke negri Singa ini, tapi karena saya adalah ketua panitia kantor dadakan. Jadi mau ngga mau saya musti tiba terlebih dahulu. Semakin siang, para peserta mulai berdatangan. Jumlah 28 orang dalam grup outing ini bisa dibilang cukup besar. 28 orang dengan karakter berbeda dan dengan kondisi yg berbeda pula.  Bayangkan saja, menjelang boarding, masih saja harus menunggu beberapa murid yg ngakunya sdh dijalan dan mau nyampe. Belum lagi peserta lain yg mulai gelisah dan rongrongan tour guide yg menanyakan kapan mereka tiba. Hadeehhh... Berat nian jadi panitia dadakan begini.

 

Semakin siang, ada dua orang yg belum juga muncul. Rongrongan telpon dari saya sudah di-reject dengan kejam karena mungkin dia sendiri sdh tidak bisa menjawab dimana dia sekarang berada. Begitu akhirnya mereka muncul, dengan cueknya saya suruh si yang bersangkutan minta maap pada semua peserta yang dibuatnya menunggu. Yang bikin gondok, si bapak yang maju minta maap pada semua dan bilang kalo pesawatnya belum berangkat kan? Kalopun sudah ketinggalan, dia yg tanggung jawab. Gimana mau tanggung jawab coba? Idih, enak bener ni bapak ngomongnya. Swebel.

 

Setelah seluruh peserta berkumpul, saatnya melewati screening baggage yg pertama. Mengisi blanko imigrasi dan tadaaaaa... Take off. Tapi hidup saya hari itu memang banyak cobaan. Belum cukup menunggu dua peserta yang datang molor, masih ditambah para peserta yang hobi nanya ini itu sama saya, seolah saya ini tau semua dan minta ijin kesana kemari, tanpa saya sendiri sadar jam sudah menunjukkan pukul berapa. Akhirnya panggilan flight menuju S'pore berkumandang, dan saya masih celingukan mencari 4 perserta yang raib, dua ke kamar kecil dan dua yang lain makan siang. Telpon saya sdh tak lagi sakti utk segera diangkat. Hasilnya, tour guidenya menahan saya sementara untuk tetap tinggal hingga mereka muncul. Naseeebb...

 

Dan alhamdulillah... Melangkah juga kaki saya menuju tangga pesawat dan duduk di kursi bernomor D10. Let's enjoy the trip, guys...

 

Perjalanan pesawat cukup nyaman, dalam artian cukup nyaman buat mereka yang baru pertama kali mencicipi perjalanan dengan pesawat terbang. Aman karena cuaca juga sangat mendukung trip yang sudah diidamkan hampir lebih setengah tahun lalu. Dan kamipun tiba dengan selamat di Changi airport. Kesan yang muncul adalah berbagai macam perbandingan antara airport daerah (lokal) dengan airport international. Para banci kamera tentu saja tidak menyia2kan kesempatan mengabadikan setiap sudut airport yang terang benderang, megah, bersih....pokoknya sangat sangat membuat kami yang udik ini melongo hahaha...

 

Keluar dari airport, sesaat kami menunggu datangnya bis yang bakal mengangkut kami ke penginapan kami selama dua malam di negeri Singa ini. Begitu bis tiba, mulailah city tour kecil kami menuju hotel. Sepanjang jalan, banyak sekali celetukan bernada guyon sekaligus satir antara membandingkan kondisi Singapura dengan Indonesia, khususnya Semarang.

Saya, "ngga ada deretan PKL ya?"

guru 1, "ngga ada tikus mati kegencet di jalan ya?"

murid 1, "ngga ada angkot yang bising ya? "

Dll. Hahaha...

 

Begitu tiba di hotel, saya cukup takjub dengan kondisi hotel untuk paket backpacker ini. Bukannya apa2, banyak diantara kami yang membayangkan penginapan sederhana sejenis hostel atau dorm dan bukan hotel kelas bintang 3 ini. Waktu yang cukup lama untuk check in kami gunakan untuk kembali menyalurkan bakat banci kamera kami. Segala gedung unik, landmark, patung atau apa saja bisa jadi background bagi kalangan model dadakan begini.

 

Saatnya check in tiba dan mulailah kami mempelajari peta pemberian tour untuk menentukan arah kemana kami melewatkan malam pertama di Singapore. Setelah cukup segar istirahat sejenak, mulailah kami menuju Bugis street, tempat penjualan segala macam souvenir. Kaos, gantungan kunci adalah target utama saya dan beberapa teman. Modal kami yang hanya beberapa dollar tidak memungkinkan kami bergaya sosialita yang belanja di Singapore hahaha. Selain dua suvenir andalan itu, sebenarnya sangat banyak ragam yg bisa dipilih dengan harga cukup miring; jam tangan, kipas, hiasan dinding, piring hias, bros2 cantik, tas tangan, dll. Saya sendiri cukup membeli dua suvenir andalan itu hehehe...

 

Sekilas, kompleks Bugis ini mirip dengan Johar, pasar tradisional di Semarang. Yang membedakan jelas banyak, bugis bersih, teratur, dan yang jelas mereka hanya mengatakan sesuatu beberapa patah kata, tidak ada yang over ramah menawarkan barang dagangan mereka. Selesai belanja secukupnya, kami mulai berputar mencari tempat makan yang enak, murah dan yang jelas harus ada NASInya wkwkwkwk. Perut orang Indonesia memang tak bisa diam jika tidak disumpal dengan nasi. Setelah cukup desperate mencari kesana kemari, tibalah kami (bertiga saja) pada sebuah tempat makan. Atas rekomendasi seorang murid, kami memutuskan mencoba nasi campur dengan ayam bumbu kecap. Dengan 11 dollar 50 sen, kami mendapatkan tiga piring nasi (rasanya mirip nasi gurih), ayam setengah dan sayur bening semangkok. Alhamdulillahhhh…. Ketemu nasi dan ayam 


yang insya Allah halal, meski nyembelihnya belum tentu pake bismillah wkwkwkwk…. Tapi tetep berdoa dong sebelum makan.

 

Sepulang dari Bugis, tiba2 terbersit dari salah satu kami untuk melanjutkan perjalanan ke Little India alias Mustafa, kompleks belanja yang katanya 24 jam. Dengan taksi dan ongkos 7 dollar, tibalah kami di pusat belanja yang sebagian besar adalah warga India. Jadi serasa berada di India beneran melihat banyaknya orang India lalu lalang, dengan kostum pakaian daerah mereka, bau wangi rempah ataupun aroma yang tidak biasa atau yang tidak kami temukan tadi selama di Bugis. Karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam, jalanan mulai sepi dan bebaslah kami menyalurkan hasrat  banci kamera lagi hahaha….

 

Masalah tiba2 mucul ketika kami mulai menyadari bahwa taksi tidak begitu ramah di malam hari. Maksud saya adalah mereka tidak begitu menanggapi panggilan calon konsumen. Hasilnya adalah, kami harus rela berjalan kaki. Konyolnya, karena belum mengetahui letak Little India dan tempat kami menginap yang sebenarnya sangat dekat, kami mengambil jalan memutar. Dan ketika kami kembali tiba di Bugis, semua toko sudah tutup (hebatnya, tak ada sampah plastic atau apapun yang berserak disana, hanya daun2 kering dari pepohonan sekitar). Kaki yang mulai terasa berat, terasa sedikit ringan begitu melihat ujung hotel tempat kami mengnap. Alhamdulillah. Setengah hari di Singapura berlalu dengan menyenangkan.

 

Bersambung ahhh…..pegel ni tangan ngetik di hape

 

 

di halaman depan hotel

15 comments:

  1. ciehhh cah semarang tekan singapur... pantesan sombong...

    ReplyDelete
  2. gaksah ngonooo.... tekan kono aku singepel jobin kamar mandi kok.... wkwkwkwk

    ReplyDelete
  3. nyooooohhhh..... *uncali singo mutah2*

    ReplyDelete
  4. kayaknya backgroundnya alias themenya yang aneh... ntar deh diganti lagi. Sdh saatnya

    Visa sdh keluar???

    ReplyDelete
  5. Cieeeee cieeee cieeee
    jadi muridnya lila ahhh

    ReplyDelete
  6. Keren Lil, outing aja sampe ke Singapore.
    Aku outing kantor paling jauh ke Puncak, ke Dufan doang, he he he...

    ReplyDelete
  7. dulu begitu nyampe changi: aku tak sadar tanya temenku, spontan begitu liat tentara2 singapore; Wehhh hebat ya, disini China boleh jadi tentara

    ReplyDelete
  8. yiuuukkkk.... dibayar pake iphone nya wak kaji juga boleeehhh

    ReplyDelete
  9. wkwkwkwkwk... kuwi yarweee, Maaannn.... mbayar dewe2 hihihihi....

    ReplyDelete
  10. hahaha... lha wong sopir bis e wae yo China kok.... Kalo disini mereka kan boss hahaha...

    Petugas aiportnya banyak kulit itemnya, India2 kayaknya...

    ReplyDelete
  11. oleh2e mung buat sing nyangoni tol, rek....

    ReplyDelete